Post views: counter

Header Ads

Catatan Tentang Pedofilia


Kini, anak-anak itu memang masih lugu. Tak mengerti ini itu, hanya sekadar tahu. Namanya juga bocah, siapa sih yang ndak senang sama permen, cokelat, snack, atau es krim? Dan mereka tak paham jika sedang dibujuk rayu. Seolah disayang, seolah diperhatikan serta diberikan kenyamanan. Padahal, mereka sedang disusupi sebuah ‘pembiasaan.’ 

Ya, pembiasaan yang berefek ketergantungan dan berujung pada kerusakan! Anak mulai mau, mengizinkan, lalu sang predator pun puas memangsa atau meninggalkan jejak. Mirisnya, kadang pihak keluarga korban malah tidak menyadarinya. Ya, berkat cara ‘cantik’ tadi, sehingga tak mudah terdeteksi oleh kasat mata.

Saya hanya tak sanggup membayangkan kala sang korban kelak beranjak dewasa. Ibarat kuncup bunga yang sudah dirusak sebelum berkembang. Bisa jadi ada yang terkena penyakit kelamin, mungkin ada yang ketagihan sehingga menjadi penjaja seks, bahkan ada yang menjelma menjadi predator kembali, dsb.  Naudzubillahimindzaalik.

Saat kecil, korban memang tak mengerti ... namun, mereka memiliki untaian memori. Memori yang bisa ter-recall setiap waktu dan mampu menimbulkan guncangan psikologis. Ketika sang korban sudah mulai menyadari apa yang pernah terjadi, maka bisa jadi mereka ada yang enggan menerima dirinya sendiri. Merasa diri hina, kotor, atau tidak berharga. 

Please, semoga tak ada yang memilih shortcut ... bunuh diri.
Ini adalah kejahatan yang sistemik! Kegilaan komplotan sebuah generasi sedang menghancurkan generasi lainnya lagi ....
Hmm, sistem ijon pada hasil perkebunan, pertanian saja diharamkan, apalagi jika terjadi pada manusia.

Korban pedofil tak hanya anak perempuan, pun bisa terjadi pada anak laki-laki. Benar, nampaknya dunia ini semakin mengerikan. Perempuan, akan menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Ia adalah sumber peradaban. Apa jadinya jika sedari kecil sudah dicemari.

Saya jadi teringat dengan tausyiah almh. ustadzah Yoyoh Yusroh: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik.
Laki-laki, adalah calon qowam/pemimpin. Apa jadinya jika sedari dini sudah diracuni.

Menjadi korban penyimpangan, sedikit banyak akan merusak dan melemahkan fungsi kepemimpinan seorang laki-laki dalam kehidupan berkeluarga kelak, maupun dalam bermasyarakat.

Ayolah, para penegak hukum bertindak lebih tegas lagi kepada para hama generasi. Mungkin perlu dibuat jajak pendapat perihal ‘treatment’ yang paling mantap untuk para predator. Hmm, tapi catatannya adalah. jangan sampai juga ada kasus (sengaja) salah tangkap. Layaknya kasus JIS yang diduga dikriminalisasikan. Kondisi seperti ini, bisa terjadi ketika ada pihak berduit yang memonopoli. As usual, tumpul ke atas tajam menukik ke bawah.
InsyaAllah, masih ada secercah optimisme untuk penegakkan hukum di negeri ini. *aamiin

Lagi-lagi, saya mengutip kembali kalimat ini “Mendidik anak perlu orang sekampung, melindungi anak juga perlu orang sekampung.” Kak Seto, pernah ungkapkan hal tersebut. Yaa, nyatanya memang harus demikian. ☺ Semua pihak harus terlibat.

Lalu, saya insyaAllah jadi semakin paham juga dengan maksud hadits ini. “Barang siapa diuji (dikaruniai) anak wanita dengan tantangan sekecil apapun dan ia memperlakukan dengan sebaik-baiknya, maka anak wanita itu akan menjadi penghalang baginya (orang tua) dari api neraka.” (HR. Muslim)
MasyaAllah, anak ... sejatinya adalah amanah. Semoga anak-anak kita senantisa dilindungi oleh Allah Ta’ala. 
Allahumma aamiin.

PENULIS |  CHIKA ANANDA
FOTO | NET



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.