Header Ads

Nur'aeni; Politisi Demokrat Banten; Politik Itu Perjuangan


BANTENPERSPEKTIF.COM, SERANG---Apa jadinya seorang wanita menjadi anggota dewan? Tentunya banyak orang memiliki pendapat dari sudut pandag yang berbeda. Tentu ada suatu pertanyaan, apakah kehidupan politisi wanita sama dengan ibu rumah tangga, atau wanita karir pada umumnya? Berikut adalah hasil oborolan santai Wakil Ketua III DPRD Banten, Anisa Sofia Wardah dengan Nuraeni 

Menjadi politisi bagi ibu  Nur’aeni,  bukanlah tanpa tujuan semata, menerjukan diri ke lembaga perpolitikan bukanlah perkara mudah, lumpur hitampunn untuk dunia polotik adalah sebutan dari Soe Hoek Gie. Terlebih wanita, yang masih sedikit di dunia perpolitikan. Tujuan mulia dari mantan Ketua DPRD kota Serang adalah bagaimana bisa mengabdikan diri dengan memasuki sistem pemerintahan dan sebagai penyampai aspirasi rakyat juga turut andil dalam menentukan kebijakan di Banten.


Poliitisi wanita tidak sama dengan politisi pria tentunya. Bagaimana pertama kali menerjukan diri ke dunia politik sudah disuguhi dengan berbagai tantangan. Tantangan bagi seorang wanita adalah, keluarga. Apakah suami merestui? Bagi ibu yang memiliki hobi menyanyi, keridoan suami adalah kunci utamanya dalam kesuksesan dalam setiap aktivitasnya, rekam jejaknya sebagai politisi wanita selalu mendapat support dari orangtua, suami dan ketiga anaknya. Hal yang sangat disyukuri oleh wanita alumni SMA 1 Ciruas.


Tidak hanya tantangan dari keluarganya saja, tidak sedikit masyarakat yang memandang sebelah mata mengenai politisi perempuan. Pandangan-pandangan buruk mengenai politisi wanita, ketika duduk di parleman bisa ditangkis peryataan ataupun pandangan buruk itu dengan kerja nyata, kinerja yang totalitas, lantang bersuara aspirasi rakyat, dan juga kecermaatan, ketelitian dalam pengawasan. 


Menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD III yang merupakan bidang hukum dan pemerintahan di Provinsi Banten tidak melupakan perannya sebagai seorang ibu. Maka wanita kelahiran Serang 5 Oktober 1974 selalu menjadikan pertemuan dengan keluarga sebagai pertamuan yang berkualitas. Ketika di rumah maka masalah kerjaan tidak akan pernah di bawa ke rumah, selalu diselasaikan di kantor. Berdiskusi, jalan-jalan, merupakan sebagian pertemuan yang dijadikannya berkualitas. Pergi refreshing tidak mengeluarkan uang banyak, cukup bisa membuat hati anak senang.


Banyaknya amanah masyarakat, tidak mengabaikan perhatian ibu Nuraeni akan pendidikan ketiga anaknya. M. Fahran Ajiz, kelahiran 28 April 1998 kini berada jauh di luar kota, sekolah di Pondok Daar El Qolam, Gintung. Anak ke-2 M.Firdaus, kelahiran 17 Februari 2003 dan anak bungsunya M. Khalik, 9 November 2006 sedang bersekolah di Al Azhar Kota Serang. 


Memasukan ke tiga anaknya ke lembaga pendidikan agama bertujuan agar di zaman yang penuh tantangan, kemajuan teknologi, bisa diseimbangkan dengan kepahaman agama yang kuat. Ilmu agama yang didapatkan bisa membentengi diri akan godaan zaman yang semakin melenakan. Ibu Nuraenipun yang merupakan alumni dari almamater STIE, STIAMI Jakarta, tidak pernah memaksakan anaknya untuk mengarahkan ketiga anaknya menjadi polotisi, melainkan terus mengarahkan hobi anak-anaknya.


Di akhir bincang-bincang dengan bu Nur’aeni, ibu sangat berharap akan penuhnya kursi politisi wanita di Banten, para politisi wanita di Banten baru mencapai 20% dari 30% di Legislatif . “Semakin banyak dan berkiprah di bidang ini, jangalah beranggapan berpolitik adalah hal yang seram, menakutkan. Semua kekhawatiran itu bisa diselesaikan”. 



Reporter: Anisa Sofia Wardah

Editor: Karnoto

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.