Header Ads

Ratu Tatu Chasanah; Di Rumah Saya Ikuti Protokoler Anak

TATU DAN KELUARGA --- Ratu Tatu Chasanah, Bupati Serang bersama keluarganya saat sedang santai. Dalam melakukan perannya sebagai seorang Ibu, Tatu mengedepankan dialektika dengan anak-anak sehingga mereka merasa nyaman.

BANTENPERSPEKTIF.COM, SERANG---Kalau di rumah protokoler diambil alih sama anak-anak. Jadi agenda saya ketika di rumah terserah anak-anak. Merekalah yang menentukan tujuan ketika hendak berjalan-jalan. Saya memang memberikan waktu libur menjadi milik mereka. 

Dunia politik merupakan arena yang dinamis, penuh intrik, menguras tenaga, pikiran dan mengoyak-ngoyak rasa dan perasaan. Tak sedikit banyak politisi yang mengibarkan bendera putih alias menyerah dan memilih menghindari keriuhan  gelanggang politik. Namun tak demikian bagi Ratu Tatu Chasanah,  ketua DPD Partai Golkar Propinsi Banten. Wanita berhijab ini tetap kokoh berdiri hingga saat ini meski  dihantam badai.


Apa yang membuat ibu tiga anak ini kuat menahan dan memikul beban berat selama ini?  “Rasa lelah, penat dan tertekan menjadi hilang dan berubah menjadi sinar semangat ketika saya bertemu dan bercengkrama dengan anak-anak” kata Tatu kepada Banten Family di rumah dinasnya di Kota Serang, Banten.


Setahun belakangan, wanita berhijab ini memang diguncang badai yang cukup kencang sepanjang karir politiknya selama ini.  Tatu mengaku sempat down, lelah dan terkulai, tapi setelah melakukan perenungan melalui shalat malam dan memperketat ibadah, bertemu dengan anak-anak dan ulama,  ia pun sadar bahwa kehadirannya masih dibutuhkan masyarakat. Ia pun bangkit dengan segala potensi yang dimiliki.  “Saya belajar ikhlas dan selalu  mengambil sisi positif dalam setiap peristiwa. Saya punya keyakinan bahwa ketika Allah memberikan ujian berarti itu terbaik untuk kami,” akunya.



BERIKAN KEBEBASAN EKSPRESI ANAK

Menjadi ketua DPD Partai Golkar Propinsi Banten, ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Propinsi Banten, wakil Bupati Serang dan beberapa organisasi di Banten, menjadikan ia nyaris tidak memiliki waktu kosong dalam setiap jamnya. Lalu bagaimana mengatur waktu bersama keluarganya? 

Ternyata wanita kelahiran Ciomas, Kabupaten Serang ini memiliki trik khusus. Wanita yang sebelumnya menjadi pengusaha ini memanfaatkan teknologi untuk melakukan komunikasi dengan keluarga. Ia membuat group khusus keluarga melalui WhatsApp, dimana anggota groupnya adalah ketiga anaknya dan sang suami. Di group inilah Tatu saling canda dengan keluarga termasuk mengontrol aktivitas anak-anaknya.


“Kadang-kadang ada cerita lucu, Ibu pun kirim komentar dan kita saling canda. Jadi meskipun jauh kita seperti dekat dan duduk satu meja,” kata Tatu yang menuturkan kalau ide group tersebut berasal dari anak-anaknya. Dalam mendidik anak-anaknya, Tatu selalu memberikan kebebasan ekspresi bagi ketiga anaknya tersebut, membiarkan potensi anak-anak berkembang dengan baik.


BANGGA DENGAN ANAK-ANAK

Ketiga anaknya tersebut memang memiliki bakat dan keunikan masing-masing. Anak pertamanya lebih menyukai dunia pendakian dan arsitek. Tak main-main, anak pertamanya tersebut berhasil menjadi salah satu tim yang terpilih dalam ajang Arsitek Sinarmas Land Competiion 2014 dengan nilai pilot project mencapai miliaran rupiah. “Saya tidak diberi tahu kalau dia (anak-red) ikut kompetisi itu dan ternyata terpilih. Ketika tahu saya kaget karena memang betul-betul tidak tahu,” aku Tatu.

Kini anak pertamanya tersebut berencana akan melanjutkan studi pasca sarjananya di salah satu universitas di Fransisco, Amerika Serikat. Sementara itu anak kedua dan ketiganya juga memiliki keunikannya sendiri. “Saya sengaja membiarkan potensi anak-anak berkembang. Tak pernah saya mengatakan bahwa kamu harus meneruskan ibu jadi politisi, sama sekali tidak. Sekarang zaman modern, anak bisa menentukan masa depanya sendiri jadi tak perlu dipaksa-paksa,” kata wanita yang telah menyelesaikan pasca sarjananya tersebut.


TAK ADA LAWAN POLITIK

Meski dalam posisi kuat secara politik, namun Tatu tak pernah merasa besar apalagi menganggap orang lain sebagai lawan politik. Menurutnya, siapa yang akan terpilih menjadi anggota dewan, bupati dan wakil bupati, gubernur jabatan lainnya sudah ditentukan oleh sang pencipta. “Dalam setiap momentum politik saya melarang keras tim saya untuk melakukan black campaign. 

Karena saya sadar bahwa siapa yang jadi dalam setiap perhelatan pilkada sudah ditentukan oleh sang pencipta. Coba kalau kita melakukan black campaign? Kan kita rugi dua kali, silaturahmi putus, kalah juga iya, rugi dua kali kan?” Terang adik Ratu Atut Chosiyah ini dengan yakin.


Saat disinggung kritik masyarakat  terhadap kepemimpinan dirinya, Tatu mengaku senang meskipun terkadang ada bahasa-bahasa yang kurang enak didengar. Namun ia menyadari bahwa kritik atau masukan dari masyarakat pada hakikatnya adalah harapan yang dititipkan kepada dirinya. “Kalau soal bahasa saya memaklumi, mungkin kemampuan mengolah bahasanya seperti itu. Saya tidak marah dan tetap menghargai mereka karena saya sadar bahwa kemajuan suatu daerah tidak mungkin dilakukan oleh seorang kepala daerah, namun butuh support dari seluruh eleman masyarakat,” ujarnya.


 Ia bermimpi suatu saat daerah yang dipimpinnya akan mengalami kemajuan yang luar biasa. Andaikan bukan dirinya yang menjadi pemimpin, Tatu tetap merasa bangga ketika melihat tanah kelahirannya maju dan sumber daya manusianya bisa bersaing dengan daerah lain. “Kita harus bekerjasama dan tak perlu saling caci maki, meski ada perbedaan itu hal lumrah sering terjadi,” katanya. Gaya politik inilah yang diyakini wanita berhijab ini mulai luntur sehingga perlu ada orang yang berani mengembalikan culture politik semacam itu.


Jalur persuasif ini pula yang mengantarkan Tatu lebih banyak diterima disemua kalangan, baik politisi, birokrasi maupun eleman masyarakat lain. Sepanjang wawancara, Banten Family diajak berpikir tentang politik dan takdir Illahi. “Mau diapa-apain, mau curang atau menjelekan lawan kalau Allah tidak memberikan izinnya maka tetap saja kuasa Allah yang menang,” kata Tatu dengan penuh keyakinan.


Kini di perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, tepatnya pemilihan Bupati Serang, Tatu kembali mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Hanya saja, pada perhelatan lima tahun silam ia menjadi wakil bupati, kini ia maju sebagai calon Bupati Serang berpasangan dengan Pandji Tirtayasa, mantan birokrat di Pemkab Serang. Diprediksi, Tatu akan memenangkan kompetisi ini dengan mulus.


Selain kekuatan partai pendukung yang dominan, Tatu juga ditopang oleh jejaring yang cukup luas. Tentang popularitas juga Tatu dinilai unggul dibandingkan calon lainnya, Syarif-Aep. Tatu maju didukung sejumlah partai besar, yaitu Golkar, PK Sejahtera, PDI Perjuangan, Demokrat. 


Sementara pesaingnya didukung Partai Hanura, Gerindra, PBB. Meski potensi menangnya cukup besar, namun Tatu tidak mau membusungkan dada. “Semua sudah ada yang mengatur, tugas kita sebagai manusia hanya berusaha selanjutnya kita serahkan kepada Allah SWT, kita lihat bagaimana takdirNya,” katanya.


REDAKSI |  BANTENPERSPEKTIF.COM

SUMBER | WAWANCARA
Diberdayakan oleh Blogger.