PerspektifTV

Header Ads

Wawancara Khusus Hari Kartini 2017; Tokoh Parlemen Perempuan Cilegon


Setiap tahun bangsa Indonesia, khususnya kaum perempuan memperingati Hari Kartini, tepatnya setiap tanggal 21 April. Lalu apa makna dari peringatan Hari Kartini bagi perempuan masa kini? BantenPerspektif.Com membuat wawancara khusus Hari Kartini dengan beberapa tokoh perempuan dengan beragam aktivitas? 

Mulai dari politik, pegawai swasta, pendidik, pengusaha, pegawai negeri dan ibu rumahtangga serta profesi lainnya. Berikut ini adalah wawancara kami dengan Qoidatul Sitta, salah satu perempuan yang menjadi anggota Parlemen di DPRD Kota Cilegon.

Apa makna Hari Kartini bagi Anda
Kartini telah menghasilkan sebuah perjuangan yang sering dikenal dengan “emansipasi”. Makna kata ini tentu sangat dalam, terlebih makna emansipasi sering kali berkaitan erat dengan eksistensi perempuan di masa kini yang dapat dikatakan selangkah lebih maju ketimbang era perjuangan dulu.
Perempuan yang diklaim dan dikonstruksi sebagai sosok yang hanya berkecimpung di ranah domestik, kini lebih mampu menunjukkan geliatnya di ranah publik. Tentu tidak heran, bila perjuangan Kartini tersebut dapat dinikmati oleh perempuan saat ini, meski memang pada kenyataannya masalah mengenai marginalisasi perempuan masih acapkali terjadi. Terlepas dari hal tersebut, konteks pemaknaan Hari Kartini saat ini cenderung memiliki pergeseran dan tereduksi. Bila kita meninjau realita, 

Hari Kartini seringkali diidentikkan dengan pemakaian kebaya, sanggul, dan kegiatan-kegiatan yang cenderung semakin mengkerdilkan esensi makna yang sesungguhnya. Hal-hal demikian justru semakin mengukuhkan sterotipe bahwa perempuan hanya berkutat di ranah domestik. Klaim tersebut hendaknya menjadi satu refleksi untuk kembali meneguhkan makna Hari Kartini yang sepatutnya dihargai sebagai perjuangan emansipasi. 

Lagi-lagi, bukan emansipasi yang justru mengelontorkan pada kesalahpahaman pemikiran yang mengklaim persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Melainkan sebuah wujud kebebasan perempuan dalam menentukan secara subjektif keinginannya untuk dapat mengeksplorasi diri. Artinya, manakala seorang perempuan memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kesadaran matang, tanpa paksaan sehingga disana ia mampu menemukan dirinya, maka hal tersebut sebenarnya sudah merupakan bentuk dari emansipasi. 

Begitu juga sebaliknya, tatkala seorang perempuan ingin bereksistensi di ruang publik, tanpa paksaan dengan tetap memperhatikan peran dan nilainya sebagai seorang ibu dan perempuan, maka hal tersebut sudah perwujudan dari emansipasi.Sehingga pada perayaan hari Kartini ini, seyogyanya kita bisa merefleksi diri menjadi seorang perempuan yang memiliki nurani untuk terus berkarya dan bereksistensi hingga ke masa depan.

Bagaimana spirit Kartini dengan perempuan masa kini
Sosok Kartini punya spirit yang luar biasa dalam rangka mendobrak belenggu patriarkis dan feodalistis yang menimpa kaumnya. Spirit itu yang tentunya harus terus kita nyalakan dan kita teruskan digelorakan sampai kapan pun itu. Kartini sangat ingin melihat kaumnya bisa maju, berpendidikan, berkepribadian serta tak kalah dengan kaum pria. 

Kita, selaku generasi penerus tentunya harus terus meneruskan spirit perjuangan Kartini ini. Jangan sampai spirit perjuangan Kartini ditengah belenggu kolonialisme saat itu harus padam ditengah jalan. Namun dalam hal ini, tidak sepantasnya kita terjebak dalam emansipasi buta. Yaitu sebuah gerakan yang ingin menyejajarkan dan menyetarakan antara sorang wanita dan pria dalam semua hal. Seperti yang selama ini digelorakan oleh kaum feminis. 

Dalam beberapa hal antara wanita dan pria tidak bisa disejajarkan dan disetarakan begitu saja. Mereka adalah dua makhluk yang berbeda.Kesimpulannya menjadi wanita yang maju yang diharapkan Kartini adalah wanita yang dapat menjalankan kodratinya juga bisa menyalurkan kemampuan nya dalam kapasitas yang sewajarnya tanpa menyimpang.

Apa peran besar kartini bagi perempuan masa kini?
Banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari perjuangan Kartini untuk kaum perempuan masa kini. Peran serta dan partisipasi kaum perempuan dalam pembangunan saat ini menjadi sebuah kewajiban. 

Karena pembangunan yang berjalan menempatkan manusia sebagai titik sentralnya. Kaum perempuan pun sebagai salah satu sentral sekaligus pelaku pembangunan mempunyai semangat dan komitmen yang sama dalam mensukseskan tercapainya tujuan pembangunan yang bermuara pada pencapaian kesejahteraan. Salah satu bukti perlunya keterlibatan kaum perempuan adalah masih adanya “pekerjaan rumah” atas belum optimalnya pembangunan terhadap perempuan. 

Diantaranya angka kematian ibu hamil, masih terpuruknya perempuan dalam hal kesempatan memperoleh pendidikan, dan banyaknya kasus kekerasan yang menimpa perempuan. Oleh karena itu, terkait  semangat perjuangan R.A Kartini seorang perempuan harus memiliki bekal dan semangat hidup yang kuat.

Seperti apa seharusnya perempuan masa kini menyikapi hari Kartini
Demi membangun bangsa ini agar menjadi lebih baik lagi, kaum perempuan tidak boleh melupakan hakikatnya sebagai seseorang perempuan yang mempunyai sumber ke-lembutan. Sudah selayaknya kaum perempuan perlu menyadari akan kodratnya. 

Perempuan diharapkan bisa menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkannya. Menjadi Ibu yang dapat membimbing mereka menjadi anak yang kuat, cerdas, dan mem-punyai etika yang baik agar dapat berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Itulah sebenarnya peran wanita yang utama selain berbagai peran di ketiga bidang kehidupan ekonomi, politik dan sosial. 

Wanita dituntut untuk menjalani kehidupan sesuai perannya masing-masing. Wanita telah menjadi sosok yang harus di hormati dan dilindungi dari berbagai kekerasan dan penganiayaan. Namun, wanita juga harus sadar akan tugas utamanya. Tugas ini mampu untuk menyadarkan perempuan generasi muda untuk menjadi perempuan yang terhormat, berharga dan sebagai kebanggaan bangsa.

Emansipasi perempuan ini seharusnya dapat men-jadikan generasi muda perempuan yang cerdas bukan menjadi lemah. Jadikan perempuan sebagai subjek bagi bangsa ini dan tidak hanya menjadi objek. Sekaranglah saatnya generasi muda perempuan mencatatkan dirinya sebagai pelaku emansipasi yang mampu berdiri meng-ambil peran penting untuk membangun bangsa yang tercinta ini.

Apa PR perempuan masa kini yang perlu didorong
Pertama, setop menghakimi perempuan lain dan mulailah berempati. 
Ibu bekerja menganggap ibu rumah tangga adalah wanita kuno, sebaliknya ibu rumah tangga menganggap ibu bekerja tak peduli dengan keluarga. Anda sudah menikah dan menganggap wanita lain yang belum menikah adalah wanita ambisius. Penghakiman itu seringkali tidak disadari muncul dibenak sesama perempuan. Padahal yang paling mengerti perasaaan perempuan lain adalah seorang perempuan.

Daripada menghakimi, lebih bijak jika kita berprasangka baik dan melihat segala sesuatunya dengan gambaran yang lebih luas.

Kedua, jangan membatasi diri. 
Maksudnya membatasi diri dari konstruksi sosial soal perempuan yang selama ini sudah terlanjur terbentuk. Saya sempat mendengar keluhan seorang teman, bahwa ia mulai khawatir karena umurnya sudah mau 25 tapi sang kekasih belum juga melamar. “Paling tidak sebelum 30 sudah harus nikahlah, nanti keburu expired,” ujarnya saat itu.

Yang harus dipahami, tak ada istilah expired bagi manusia. Jika yang dibicarakan adalah soal penuaan secara fisik dan kesehatan seksual, pria pun memiliki yang sama. Berhentilah memikirkan hal-hal yang bisa menghalangi Anda untuk bahagia. Jika memang mengejar karir membuat Anda bahagia, jangan biarkan pandangan orang menghentikan Anda. Tapi jika Anda lebih bahagia jika menikah terlebih dahulu, maka lakukanlah. Lakukanlah karena memang itu kemauan Anda, bukan karena memikirkan pandangan orang lain.

Ketiga, jangan memusuhi lawan jenis.
Seluruh ide dari emansipasi wanita adalah bukan untuk membuktikan diri bahwa Anda lebih baik dari pria. Tidak, sama sekali bukan itu. Maksud emansipasi adalah memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan, untuk hidup dan menggapai mimpi. Tentu nya sifat kodrat sebagai prempuan itu harus di lakukan sperti menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya dan melakukan kwajibanny sebagai istri. 


Pria dan perempuan memang beda, itu tidak bisa kita pungkiri. Masing-masing punya keterbatasan, namun bukan berarti satu lebih baik dari yang lain. Pria dan wanita bisa menjadi partner yang sejajar dan saling melengkapi. Jangan sampai sikap feminis Anda kebablasan ya. Tapi jika keadaannya memaksa Anda untuk hidup tanpa pria, apakah hal itu bisa dilakukan?. Ingat poin kedua tadi, jangan batasi diri.

Apa pesan untuk perempuan masa kini
Perempuan masa kini patut beterima kasih pada tokoh pejuang emansipasi wanita, Kartini. Atas perjuangan Kartini, sekarang perempuan di Indonesia bisa sejajar dengan laki-laki. Bisa belajar, bekerja dan berkarir.


Meski begitu, perempuan Indonesia tidak boleh kebablasan dan harus cerdik dalam memanfaatkan emansiapasi perempuan. Perempuan tetap harus paham tentang kodrat dan pandai menempatkan diri. Saat di dunia kerja dan juga di keluarga. walau bagiamanapun perempuan berkarir di dunia kerja, ketika kembali ke rumah mereka tetap seorang istri dan juga ibu.





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.