Header Ads

Aktivis KAMMI Terluka, Alumni KAMMI Tak Terima

AKTIVIS KAMMI TERLUKA--Seorang aktivis KAMMI terluka saat benrtrok dengan aparat kepolisian ketika menggelar aksi di depan Istana, Jakarta, kemarin. Mereka menggelar aksi menuntu penegakan hukum secara adil.

BANTENPERSPEKTIF.COM, NASIONAL --- Buntut tindakan represif dari aparat kepolisian terhadap aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) saat aksi di depan Istana, Jakarta, mendapat protes keras dari Keluarga Alumni KAMMI Pusat.

Keluarga Alumni KAMMI menilai tindakan tersebut menunjukan bahwa kepolisian tidak adil. Sebab aksi serupa juga pernah dilakukan oleh pendukung Ahok hingga malam hari, namun tak pernah dipersoalkan. Akan tetapi aksi KAMMI justru diperlakukan beda.

"Kami menilai kepolisian telah bertindak melebihi tugas dan kewenangannya sebagai  pengayom masyarakat (Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 2 & Pasal 4 UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian)," kata M. Najib, Koordinator Presidium Nasional KA KAMMI melalui pres releasenya.

KA KAMMI pun meminta agar Presiden Jokowi segera memecat Kapolri Tito Karnavian, karena secara kasat mata menunjukan ketidakadilan. "Tindakan represif telah membawa institusi kepolisian pada unprofessional conduct. Kepolisian telah gagal menjaga dan melindungi gerakan politik ekstra parlementer," tegasnya. 

Berikut Pernyataan Sikap KA KAMMI terhadap tindakan represif polisi terhadap KAMMI.

PERNYATAAN SIKAP
*Keluarga Alumni KAMMI Tuntut Presiden Jokowi Pecat Kapolri*

Negara Indonesia yang dibangun oleh founding father bangsa ini adalah  negara demokrasi, bukan authoritarian. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat dan menyampaikan sikap dilindungi oleh undang-undang.

Baru saja, hak berpendapat tersebut dicerabut paksa oleh aparatur negara yang seharusnya menjadi pengayom bangsa. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dalam aksinya menyampaikan sikap di depan Istana Negara sejak pukul 14.00 WIB tadi Rabu (24/05). Yang mereka tuntut adalah penegakkan hukum yang berkeadilan.

Mereka menuntut dituntaskannya investigasi terhadap kasus yang mangkrak seperti BLBI, e-KTP, dan kasus hukum lainnya. Suara yang mereka sampaikan adalah suara jutaan rakyat Indonesia.

Apa lacur, yang terjadi, ratusan aktivis KAMMI dibubarkan secara paksa. Tujuh aktivisnya, termasuk Ketua KAMMI ditangkap. Lima mengalami luka-luka. Salah satu yang mengalami kekerasan adalah perempuan! Polisi memukul perempuan!

Kami, Keluarga Alumni KAMMI menilai kepolisian telah bertindak melebihi tugas dan kewenangannya sebagai  pengayom masyarakat (Sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 2 & Pasal 4 UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian). 

Dalam kenyataanya saat ini Kepolisian mengutamakam memgayomi rezim dan lingkaran kekuasan daripada melayani dan mengayomi masyarakat, termasuk aktivis KAMMI.  Tindakan represif telah membawa institusi kepolisian pada unprofessional conduct. Kepolisian telah gagal menjaga dan melindungi gerakan politik ekstra parlementer.

Kepolisian dibawah kepemimpinan Saudara Jenderal Polisi Tito Karnavian secara kasat mata bertindak tidak adil dalam menangani demonstran. Beda sekali perlakuan Polti  terhadap pendemo yang memuja Jokowi  dan mendukung Ahok. 

Tito Karnavian telah mengembalikan institusi polri kepada zaman era orde baru yaitu menjadi alat kekuasaan untuk memaksakan kehendak dan berupaya mematikan elemen-elemen gerakan kritis terhadap rezim penguasa.

Dengan ini, maka kami menuntut Presiden Jokow memecat Jenderal Polisi Tito Karnavian dari jabatannya atas kepemimpinanya yg tidak pro penegakkan hukum dan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

TTD
Koordinator Presnas Keluarga Alumni KAMMI
M.Najib

SUMBER | PRESS RELEASE
EDITOR | KARNOTO



Diberdayakan oleh Blogger.