Header Ads

Debat, Medan Tempur Kata-Kata




Jika seseorang ingin mengetahui apakah makna dari suatu kata, maka orang tersebut harus melihat bagaimana kata tersebut digunakan.
~ Daniel Cervone & Lawrence A.Pervin ~

Kita tentu bersyukur karena Pilkada sudah mulai ada kampanye debat. Meski belum sepenuhnya memuaskan, namun saya melihat itu adalah bagian dari proses sebagai negara yang sedang mematangkan demokrasi. Debat menjadi medan pertempuran kata-kata 

sang calon kepala daerah. Bagi para calon mesti memahami bahwa medan pertempuran debat berbeda dengan pertempuran-pertempuran lain dalam Pilkada, seperti pertempuran melalui advertising atau event ekskusive yang dibuat oleh internal. 

Medan pertempuran debat memiliki karakternya sendiri, dan yang paling kentara adalah sejauhmana para calon menggunakan kata-kata dalam debat, termasuk gestur saat menyampaikan rangkaian kata menjadi kalimat yang berbuah ide atau gagasan.

Seringkali calon lupa bahwa arena pertempuran debat berbeda dengan pertempuran lainnya. Publik tidak sedang melihat kinerja fisik, namun melihat sejauhmana kemampuan sang calon menjelaskan kinerja atau program yang akan dilakukan dalam bentuk 

abstrak, yaitu kata-kata. Untuk mengetahui makna dari suatu kata, sebagaimana dikatakan Daniel Cervone dan Lawrence A. Pervin dalam bukunya berjudul Keperibadian, maka kita harus melihat bagaimana kata-kata tersebut digunakan.

Orang sering lupa bahwa inti dari komunikasi adalah kata, kelihatan sederhana tapi sesungguhnya tidak mudah pula karena membutuhkan keterampilan yang mesti dilatih. Sayangnya, sebagian orang menganggap kemampuan mengartikulasikan kata-kata 

masih dianggap kebutuhan sekunder. Padahal, realitas politiknya banyak yang kurang menarik karena orang tersebut tidak cakap dalam mengolah, meramu dan meracik kata-kata menjadi kata yang memiliki makna tertentu.

Kembali pada konteks Pilkada. Saya ingin memberikan pandangan dan persepsi saya terhadap beberapa Pilkada di Indonesia yang saya tahu dan mengamati saat event debat. Pertama adalah Debat Pilkada DKI 2017, dimana ada tiga pasangan calon yaitu 

Agus-Sivy (nomor 1), Ahok-Jarot (nomor 2) dan Anies-Sandi (nomor 3). Pada setiap debat, terlihat sekali bahwa Anies adalah calon yang paling cakap dalam meramu kata-kata. Anies sadar betul bahwa debat adalah medan pertempuran kata-kata, selain itu Anies memang memiliki kelebihan dalam hal ini. 

Bagaimana ia membuat kata singkat tapi cukup mampu menjelaskan kepada publik, terutama perbedaan Anies-Sandi dengan Ahok-Jarot.Baca kalimat ini, "Jakarta, Maju Kotanya Bahagia Warganya". Menurut saya ini tagline sekaligus kata-kata yang 

singkat, jelas tapi mudah dipahami oleh masyarakat. Tak hanya itu, dengan kata-kata ini Anies ingin memberikan pesan bahwa konsep pembangunan Jakarta yang akan ia lakukan bukan hanya pada fisik semata, namun juga manusianya terutama mereka kalangan yang termarjinalkan.

Kata-kata itu selalu Anies sampaikan saat mengakhiri tiap session debat sehingga menancap dibenak masyarakat.Masyarakat akar rumpur mungkin tidak bisa menjelaskan filosofi kata tersebut, namun mereka bisa memahami arti kata-kata tersebut. 

Sementara sosok Ahok, Agus, Silvy dan Jarot masih kalah berperang dalam medan kata-kata. Mungkin dari sisi pengalaman pemerintahan Ahok dan Silvy jelas lebih banyak makan garam. Anies meskipun pernah menjadi Menteri Pendidikan, namun itu tak 

lama sebelum akhirnya diganti. Kemampuan mengolah kata-kata menjadi penting ketika sang calon dihadapkan pada medan pertempuran yang memang memaksanya harus bertempur di medan tersebut. Disinilah peran tim pemenangan mesti terampil mengawal sang calon, terutama mereka yang memiliki calon lemah dalam hal kata-kata.

PENULIS | KARNOTO
KONSULTAN BRAND | FOUNDER BANTENPERSPEKTIF



Diberdayakan oleh Blogger.