Header Ads

Getok Tular, Strategi Marketing Sepanjang Masa


Pemasaran getok tular terbukti lebih efektif daripada cara pemasaran apapun.
~ Marlin Silviana dkk ~

Bagi pelaku usaha pasti sudah sadar betul bahwa kekuatan agar bisnisnya bisa maju salah satunya ditentukan oleh pemasarannya. Tak heran berbagai strategi berseliweran, beragam taktik dan tips soal marketingpun hilir mudik. Mulai dari digital marketing, internet marketing sampai trend promosi masa kini yaitu convert selling.


Sebagai orang yang pernah studi  Marketing Communication Advertising, saya tertarik maka banyak tulisan saya membahas perihal komunikasi pemasaran. Beragam buku pun aku beli, hampir pulang dari kampus di Jakarta saya selalu menyempatkan ke Gramedia di daerah Srengseng, Jakarta Barat. Jika punya uang saya langsung membeli buku, tapi jika tidak ada maka saya catat untuk jadi target kemudian.


Mulai dari buku karangan Rhenal Kasali, Catherine Kaputa, Hermawan Kartayaja sampai buku bapak marketing dunia, Philips Kotler saya beli. Namun ada satu buku yang membuat saya justru rada-rada jutek dan awalnya tidak suka sekaligus penasaran.


Melihat cover buku dan judulnya saja sudah horor. Padahal buku tersebut membahas perihal marketing. Buku tersebut berjudul Rest Peace Advertising 1914-2011. Tuh kan judulnya saja serem, apalagi gambar covernya batu nisan, mirip adegan film vampir. 


Buku ini ditulis Sumardy, Marlin Silviana dan Melina Melone, Sumardi adalah Founder dan CEO Buzz & Co, Marlin Silviana adalah Head of Consultant Hachiko dan Melina Melone adalah Associate Partner & Head of Planner Buzz. Di awal lembarannya saja sudah menggigit. 



Mereka menulis bahwa Agama sebagai sebuah "produk" dengan berbagai "merek" memiliki umur yang paling lama. Semua konsumennya loyal, mereka selalu menceritakan hal-hal baik tentang "mereknya".

Menurut saya ada benarnya juga sih. Pesan dari kalimat itu yang saya tangkap adalah Agama jika kita ibaratkan produk maka layak menjadi contoh untuk strategi marketingnya. Apa strateginya yaitu getok tular atau dalam bahasa kerennya Word of Mouth. Kalau dalam dakwah sering dikenal dengan sebutan Dakwah Fardiyah atau personal. Dan faktanya memang strategi ini jauh lebih dipercaya ketimbang strategi lain, baik melalui iklan, event ataupun media.


Menurut buku ini, Word of Mouth layaknya sebuah virus. Menyebar cepat dan tanpa peduli siapapun mangsanya. Fatkanya memang demikian sih!. Ketika kita ingin memeriksa kesehatan kesehatan anak maka seringnya kita lebih percaya informasi dari orang terdekat, baik keluarga, teman ataupun tetangga ketimbang iklan.


Begitupun saat membeli barang elektronik, fesyen ataupun produk lainnya, terutama produk yang masuk kategori Consumers Goods atau barang yang mudah kita dapatkan, seperti shampo, odol, sabun dan lainnya. Word of Mouth memang strategi jitu, apalagi yang memberikan referensi merupakan orang-orang yang menjadi kelompok rujukan, seperti orangtua, mertua, guru, dosen, ulama dan lain sebagainya.


"Kandungan saya agak bermasalah, ke dokter siapa ya periksanya?" tanya seorang ibu hamil pada sebuah pertemuan di komunitas. Lalu anggota komunitas pun memberikan referensi dan benar saja orang tersebut menuju dokter dimana ia mendapat referensi dari anggota komunitasnya.


Tidak heran maka mayoritas produk komersial memilih mengunakan komunikasi marketing melalui iklannya dengan cerita. Sebut saja iklan Sari Wangi, Nokia, Telkomsel, itu beberapa produk yang beriklan tapi menggunakan gaya cerita.


Pesannya adalah iklan tersebut tetap ada unsur Word of Mouthnya namun dikemas dalam bentuk adverstising supaya mampu menjangkau lebih banyak calon konsumen. Jadi, menurut saya iklan yang paling efektif adalah iklan yang bentuknya cerita atau istilah lainnya menggunakan pendekatan soft selling ketimbang hard selling.


Dalam tren masa kini adalah istilah convert selling, iklan tapi tidak seperti iklan sehingga orang tidak merasa jadi objek jualan. Namun menjadi bagian dari cerita dalam iklan tersebut. Berani mencoba, silahkan!.


PENULIS | KARNOTO

KONSULTAN BRAND | FOUNDER BANTENPERSPEKTIF



Powered by Blogger.