Header Ads

Iklan Cerita, Trend Iklan Masa Kini





Tanpa Karakter Merek Tidak Punya Jiwa
---Hermawan Kertajaya---

Bagi Anda pembenci iklan sesekali tatap dan nikmatilah iklan di layar kaca. Tidak harus membeli produk dalam iklan tersebut, melainkan belajar cara mengemas iklan. Dalam perkembangannya, iklan tidak lagi menggunakan strategi hard selling, melainkan soft selling. 

Pendekatan hard selling ternyat sudah tidak efektif lagi di tengah konsumen yang semakin kritis. Rupanya fenomena ini ditangkap oleh para marketerr dalam membuat konsep iklan. Meski sebagian produk masih menggunakan cara-cara lama, namun sebagian telah berpindah ke pendekatan halus dalam mengkomunikasi produk kepada customer.

Sebut saja iklan SariWangi, teh celup ini telah melakukan perubahan komunikasi pemasaran melalui advertising yang radikal. Dia tidak lagi menggunakan strategi to the ponint, artinya tidak langsung mengajak customer untuk membeli Sari Wangi melainkan ajakan itu ditanamkan ke dalam alam bawa sadar melalui cerita di dalam iklan. Perhatikan dialog iklan Sari Wangi, kurang lebihnya begini.

"Ayah, Genteng Rumah Bocor," kata seorang wanita yang memerankan istri
Saat menyampaikan itu, sang suami sedang duduk santai membaca koran.
Meski mendengar perkataan istri, namun Sang Ayah pura-pura tidak mendengar,

"Ayah, Genteng Rumah Bocor," kata istrinya lagi.
Sang Ayah tetap pura-pura tidak mendengarnya dan cuek.

Sang istri pun masuk ke dapur dan kembali ke ruang dimana sang suami duduk sembari membawa secangkir teh Sari Wangi.
Melihat itu, Sang suami langsung beranjak sembari mengatakan, mana genteng bocornya. Padahal, sang istri hanya membawakan secangkir teh tidak mengatakan seperti sebelumnya.

Saya tidak tahu, apakah tim pembuat iklan melakukan riset sebelumnya atau hanya melakukan pengamatan dari aspek psikografis customer yang hendak dibidik. Namun pada intinya, sifat customer secara umum adalah tidak mau menjadi objek jualan meski sesungguhnya mereka tahu bahwa produk memang harus ditawarkan. Namun customer hanya ingin mendapatkan cara kita komunikasi dengan mereka dan salah satunya adalah dengan cerita singkat.

Belakangan iklan dengan cara komunikasi melalui cerita dilakukan sejumlah produk. Sebut saja salah satu merek susu, dimana seorang anak sedang berada di kereta api dan bercerita. Anak tersebut duduk disamping ibunya dan neneknya dan orang-orang di kereta melihat si anak bercerita yang memang lucu dan menggemaskan. Di akhir cerita orang-orang di kereta ikut tertawa.

Jadi, mulai sekarang Anda bisa mencoba iklan dalam bentuk cerita, kemaslah iklan yang mampu "menyerang" sisi emosional customer bukan rasionalisasinya. Sebab aspek emosional biasanya akan lebih ternging dan lebih suka ditonton, apalagi dalam cerita tersebut membawa anak-anak.

Maharti: Bro, kenapa bisa cerai?
Customer: Iya Bro, Beda keyakinan saya dengan istri. Dan itu baru tahu setelah menikah.
Maharti: "Beda Agama?"
Customer: Jadi gini Bro, saya sejak dulu punya keyakinan kalau wajah saya itu ganteng. Tapi ternyata istri saya tidak satu keyakinan dan selalu mempermasalahkannya.
Maharti: Gubrakkk..Itu Mah saya juga beda keyakinan sama kamu Bro.

Itu hanya selingan aja Bro ya, biar ga jenuh saja
Maharti: Eh, Bro kamu sudah punya website atau toko online belum?
Customer: Barusan saya mau tanya Bro, ada kenalan jasa pembuatan website ga?
Maharti: Ada Bro, bisa di Maharti Brand atau Maharti School
Customer: Wah, kebenaran nih.. Terus mau dapat info lengkapnya dimana Bro?
Maharti: Bisa klikk www.mahartibrand.com atau www.mahartischool.id atau bisa WA ke 08179852173

Itu contoh iklan bentuk cerita, silahkan Anda kreasi sendiri. Namun yang pasti jangan lupa mensisipkan produk kita agar iklan kita tetap mengandung unsur penjualan sehingga kita bisa memetik keuntungan dari strategi iklan tersebut. Selamat Mencoba!


PENULIS | KARNOTO

KONSULTAN BRAND | FOUNDER BANTENPERSPEKTIF



Diberdayakan oleh Blogger.