Header Ads

Produk Halal Semakin Baik, CORE Sampaikan 4 Tantangan


BANTENPERSPEKTIF.COM, NASIONAL--- Perkembangan pasar industri halal yang demikian pesat di dunia telah mencuri perhatian pemerintah dan pelaku usaha di banyak negara, bukan hanya negara-negara muslim, tetapi juga negara-negara berpenduduk mayoritas non-muslim. 

Meningkatnya minat masyarakat dunia untuk mengkonsumsi produk halal, bukan hanya didorong oleh motivasi keyakinan, tetapi juga karena kualitas produk halal yang memang semakin baik. Baik dari aspek etika, kesehatan, keamanan, dan keramahan terhadap lingkungan (eco-friendly).Pada tahun 2015 belanja produk dan jasa halal mencapai lebih dari US$1,9 triliun, tumbuh 6% dari tahun sebelumnya. Pengeluaran makanan dan minuman mencatat penjualan terbesar dengan nilai US$1,2 triliun. Selanjutnya, pakaian (US$243 miliar), media dan rekreasi (US$189 miliar), travel (US$151 miliar) dan obat-obatan dan kosmetik (US$133 miliar). 

Di saat yang sama, total aset sektor keuangan syariah ditaksir sebesar US$2 triliun. Meningkatnya permintaan konsumen para produk halal, telah mendorong naiknya investasi dan perdagangan pada industri tersebut, bukan saja perusahaan-perusahaan lokal, tetapi juga perusahaan multinasional. Unilever, Nestle, Kellogg’s, Cargill merupakan beberapa perusahaan mutlinasional yang telah mengembangkan produk halal. 

BASF, perusahaan kimia terbesar di dunia, telah mengantongi 145 sertifikasi halal untuk produk pembersih wajah, sabun dan detergen. Sementara itu, Nike, produsen utama pakaian olahraga dunia, juga telah berencana meluncurkan hijab khusus untuk olahraga.

Lihat Video Menarik:
Personal Branding Sang Jurnalis
Belanja Cerdas Ala Muslim

Beberapa negara saat ini telah mengambil inisiatif untuk mengambil peluang dari perkembangan industri halal. Pada tahun 2013, Uni Emirat Arab, telah mendeklarasikan diri sebagai pusat ekonomi halal. Korea Selatan, telah menetapkan visi untuk menjadi pusat pariwisata halal global. 

Thailand yang terkenal dengan mottonya: Kitchen of the world, saat ini telah menjadi eksportir makanan halal terbesar dunia. Sementara Malaysia, yang tercatat sebagai negara dengan ekonomi halal paling maju, telah menetapkan diri sebagai Global Halal Hub. Ironisnya, sebagai negara sebagai negara dengan pasar halal terbesar di dunia, Indonesia malah ketinggalan dalam pengembangan industri ini.

Tantangan Pengembangan Industri Halal, menurut CORE, setidaknya ada empat tantangan yang dihadapi dalam pengembangan industri halal. Pertama, peluang bisnis industri halal belum disadari banyak pihak baik regulator. Hal ini terlihat dari masih minimnya upaya pemerintah untuk mendorong pengembangan industri halal secara menyeluruh. Pemerintah hingga saat ini masih berkutat sebatas pada pengembangan keuangan syariah, dan belum memiliki roadmap pengembangan industri halal yang jelas dan komprehensif. 

UU Jaminan Produk Halal (UU JPH) yang telah disahkan tahun 2014 belum kunjung dibuat peraturan pelaksananya hingga tenggat waktu 2016, dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) juga belum terbentuk. Padahal, belajar pada keberhasilan negara-negara lain, inisiatif pertama dan utama dalam pengembangan industri halal harus datang dari pemerintah. Di Malaysia, misalnya, industri halal menjadi prioritas nasional yang langsung berada di bawah kendali Perdana Menteri Malaysia. 

Industri halal menjadi bagian integral dari dokumen perencanaan 11th Malaysia Plan (2016-2020), 3 rd Industry Masterplan. Dalam Halal Industry Masterplan (2008 – 2020), Malaysia mencanangkan diri sebagai pusat inovasi, perdagangan dan investasi halal. Berbagai infrastruktur yang mendukung seperti regulasi, institusi, kebijakan, infrastruktur, riset dan pengembangan terus dikembangkan. 

Selain itu, Malaysia juga menargetkan untuk menjadi pusat referensi halal global, termasuk masalah standar maupun sertifikasi. Selain jasa keuangan, negara ini juga sedang mengembangkan beberapa industri halal yang menjadi andalan yaitu: makanan olahan, bahan baku (ingredients), kosmetik dan personal care.


Sumber Press Release CORE
Editor Karnoto


No comments

Powered by Blogger.