Post views: counter

Header Ads

Perjalanan Spiritual Sang Dewan



Hakikat manusia itu sama di hadapan Allah SWT. Mau pejabat, politisi, pengusaha dan orang biasa sama saja. Dan kita itu punya apa, bisa apa kalau meniggal cuma bawa kain putih.

Oleh Karnoto - Kota Serang

Mengenakan gamis putih berkancing, peci putihnya menutup atas kepalanya yang plontos. Cincinnya terlihat mengkilap saat terkena kilatan sinar lampu dari atas. Ia duduk di kursi sambil sesekali membetulkan kancing dan gamisnya. Gamis dan pecinya itu istimewa karena dibeli dari tanah suci Mekkah.

Tampak di meja terdapat cangkir mungil berwarna emas. Cangkir mungil itu dipakai untuk menuang air zam-zam yang ia beli langsung dari Mekkah. Sementara di meja terdapat dua kaleng kurma. Satu kaleng kurma berwarna kehitaman dan satunya kemerahan. 

Di samping kiri laki-laki berperawakan tinggi ini terdapat mobil jip warna kuning. Sedangkan sebelah kirinya terdapat ruangan yang di dalamnya terdapat meja kantor ukuran besar. Di meja itu ada beberapa mobil mainan berwarna kuning juga. Warna kuning memang mendominasi garasi itu, bahkan mobil gede yang diparkir di sebelah kamar mandi pun berwarna kuning.

Laki-laki ini mengaku akan membeli sesuatu yang berwarna kuning. Maklum saja, pria kelahiran Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang ini adalah politisi Partai Golkar. Karir politiknya tergolong terang. Di usianya yang masih kepala empat sudah menjadi pentolan sejumlah organisasi dan klub.

Selain pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Serang, saat ini ia menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Serang, Ketua Perserang, sebuah klub sepak bola asal Serang. Tak hanya itu, pria yang pernah ngenek angkutan desa saat remaja ini juga menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Serang.

Ketika masih remaja, pemilik nama lengkap Fahmi Hakim ini lebih akrab dipanggil King. "Ketika itu sih minder dipanggil King, tapi saat saya turun dari pesawat di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi saya baru tahu bahwa nama itu memiliki arti besar yatu raja," kenang Fahmi kepada BantenPerspektif.Com, Rabu (12/9/2017) malam.

Sejak mengerti arti King, laki-laki yang meniti karir politik dari bawah ini pun bersoloroh jika dirinya pernah punya niat untuk menambahkan nama King di depan Fahmi Hakim menjadi King Fahmi Hakim. "Tapi nama King terlalu besar buat saya makanya ga jadi," akunya.

Politisi muda Golkar yang jago lobi dan menggerakan masa ini baru saja pulang dari Ibadah Haji pada 11 September 2017 kemarin. Ibadah haji  ini menjadi pengalaman pertama  dan yang paling berkesan sepanjang hidupnya. Di tanah suci itu, pria berkulit sawo matang ini betul-betul dimanfaatkan untuk ibadah.

Alumni Sekolah Pertanian Serang ini pun menceritakan pengalaman spiritualnya kepada BantenPerspektif.Com. Keinginan naik haji menurut pria yang memiliki dua anak ini baru bisa dilakukan tahun ini dengan Haji Plus. "Haji memang betul-betul panggilan dari Allah SWT. Dulu waktu saya masih menjadi Ketua DPRD Kabupaten Serang ngucap Labaik Allahuma Labaik saja berat. Tapi kali ini terasa ringan," tuturnya dengan nada penuh penyesalan kenapa tidak dari dulu naik haji.

Dulu ia hanya melakukan umroh beberapa kali, tapi sama sekali belum ada dalam hati niat untuk pergi naik haji."Alhamdulillah akhirnya saya dibimbing Allah SWT untuk pergi naik haji tahun ini. Dan saya betul-betul merasakan pengalaman spiritual yang luar biasa," tuturnya.

Di tanah suci, putera dari seorang Ayah yang berprofesi guru ngaji ini menangis sesunggukan karena betul-betul merasakan bahwa semua yang ia miliki tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Pria yang dididik kemandirian oleh Ayahnya ini lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah sejumlah kendaraan yang parkir di halaman garasinya.

"Itu mobil gede (Moge-red) dan mobil lainnya sama sekali tidak ada artinya di hadapan Allah SWT. Termasuk pakaian, semahal apapun harganya semua hanya memakai kain putih. Betul - betul kita sama di hadapan Allah SWT, mau pejabat, tentara, pengusaha dan orang biasa sama saja," katanya seraya memegang jubah putihnya.

Proses demi proses rukun haji ia lakoni dengan ikhlas, sabar dan penuh kesungguhan. Mulai tawaf, wukuf sampai lempar jumroh termasuk saat berada di Raudhah untuk bermalam. "Betapa indahnya taman surga itu (Rauhdah-red)," kenangnya saat mengingat berada di Raudhah.

Saat di tanah suci, pria yang pernah menggembala kerbau milik tetangga saat masih remaja ini dimanfaatkan untuk memanjatkan doa. "Doa saya, Ya Allah jadikan keluarga kami seperti keluarga Nabi Ibrahim. Berikan kami rizki melimpah agar bisa lebih banyak lagi membantu orang," katanya saat ditanya doa apa yang ia minta.

Saat disinggung peluang dosa politisi, pria yang hobi mengumpulkan orang sejak kecil ini menuturkan jika peluang dosa tak hanya ada pada  politisi. "Semua punya peluang dosa. Menjadi politisi kalau diniatkan untuk ibadah maka akan mengantarkan seseorang ke Surga," katanya.

Menurut pria yang hobi tidur di masjid saat remaja ini, seseorang tak perlu khawatir soal rezeki karena Allah SWT yang jamin. Ia pun menceritakan sejumlah rentetan peristiwa selama berkarir di politik. "Yang penting kita bersungguh-sungguh, itu saja kuncinya. Kalau sunggu-sungguh pasti Allah antarkan kita ke tempat yang lebih baik. Allah Maha Pengasih makanya siapapun yang minta pasti dikasih, apalagi untuk sesuatu yang baik," katanya.

Ia pun mengutarakan perihal Agama dan Politik. Bagi suami Munawaroh ini, politik itu menjadi sarana untuk mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam Agama. "Membuat aturan yang berpihak kepada masyarakat, memberi santunan kepada yatim piatu adalah nilai-nilai Agama," katanya.***



BACA JUGA:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.