Header Ads

Peran Strategis Public Relation Politik

ILUSTRASI :RILIS.ID

Jika perang pemasaran adalah bagaimana merebut pangsa pasar maka perang 
public relation adalah pertarungan merebut hati publik, empati publik dan 
simpati publik. 

Saya dan Anda sepertinya sepakat bahwa peperangan saat ini adalah perang citra. Siapa yang mampu membangun citra yang baik dan diterima masyarakat maka dialah yang akan menjadi pemenang, sebaliknya siapa yang citranya hancur maka dia mesti siap menerima kekalahan. Gambaran ini bisa kita lihat secara kasat mata, jelas dan transparan terlihat pada sektor politik.

Pengamatan penulis baik dalam konteks insting jurnalis maupun warga biasa, pertarungan citra mulai sengit saat Pilpres 2009 saat Prabowo-Hatta melawan Jokowi-JK. Keganasan pertempuran citra sangat terasa di sosial media, baik facebook dan twitter dan tampaknya pertempuran ini masih berlanjut hingga saat ini.

Pertempuran kolosal perihal citra juga terjadi saat Pilkada DKI Jakarta, dimana dua kutub yang begitu kontrak disimbolkan oleh dua pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yaitu Anies-Sandi dan Ahok-Jarot begitu kontras. Pertarungan citra ini terlihat seperti barang lembek, tetapi sesungguhnya pertempurannya sangat keras dan menjadi perang kolosal. 

Pertempuran citra melibatkan emosi dan energi publik, tak hanya kalangan elit dan terdidik, tetapi juga telah melibatkan seluruh energi bangsa. Tampaknya peperangan citra masih akan berlanjut pada Pilpres 2019. Riak-riak pertarungan dan gesekan sudah mulai dirasakan saat ini. Hal ini menjadi konsekuensi adanya teknologi informasi sosial media. Tiada hari tanpa saling sindir, tiada minggu tanpa saling baku dan tiada menit tanpa saling kritik. 

Sebagian tidak kuat melihat pertempuran itu dan memilih menepi, padahal ini sudah menjadi takdir kemajuan zaman. Lari tetap akan dikejar dengan suasana pertempuran, jika diam pun akan terkena "peluru" nyasar. Semua itu disebabkan karena  menuju satu titik muara yaitu membangun citra untuk merebut simpati publik. Disinilah peran public relation menjadi strategis dalam imaje building seseorang, partai politik dan lembaga. Siapa yang memiliki tenaga public relation handal, cerdas dan terampil maka dia akan memenangkan pertempuran. 

Strategisnya peran public relation membuat semua berlomba-lomba memburu dan melibatkan tenaga-tenaga public relation, baik yang profesional, relawan maupun tanpa organisasi. Baru-baru ini muncul komunitas baru yang serangannya cukup mematikan lawan politik. Komunitas dengan nama Cyber Muslim Army (CMA) ini sudah mampu membuktikan keberhasilan dalam melakukan gerilya politik. CMA inilah yang banyak memberikan sumbangsih kemenangan Anies-Sandi dalam konteks citra dan menahan serangan lawan. 

Hal ini pernah dinikmati Jokowi-JK saat Pilpres 2009 lalu. Dimana Projo dan netizen yang tergabung dalam relawan jokowi mampu mengendalikan permainan politikPeran relawan ini dalam teori public relation masuk dalam kategori publik marginal, yaitu masyarakat luas. Mereka tidak dalam lingkaran primer tetapi memiliki peran strategis sebagai public relation

Realitas di lapangan memang banyak ditemukan pencitraan yang membabi buta, tanpa mengenal etika. Tak melakukan tapi dicitrakan melakukan. Dalam konteks keuntungan mungkin tak menjadi persoalan, tapi dalam konteks moralitas dan pendidikan politik kepada masyarakat jelas ini pembodohan dan merusak demokrasi sekaligus membuat citra public relation menjadi buruk. 

Padahal public relation adalah bagian entri point dalam studi di kalangan akademisi. Menurut penulis, peran public relation harus dikembalikan kepada fungsinya yang hakiki. Benar bahwa public relation adalah bicara lobi dan negoisasi, tetapi bukan berarti melabrak semua etika dan norma termasuk aturan yang ada. Peran public relation harus menjadi daya tarik sebagai skil yang mulia bukan peran yang semata-mata demi uang.

Citrakanlah apa yang dilakukan, kemaslah aktivitas branding dengan apik dan tampilkan dengan baik, tetapi bukan membodohi publik. Sebab jika ini dilanjutkan maka secara tidak langsung kita telah mendidik generasi bangsa 
ini menjadi generasi pembohong dan pembual.

Pencitraan yang dilakukan public relation memang suatu keharusan agar publik mengerti dan memahami apa yang dilakukan sehingga diharapkan akan menimbulkan simpati dan memberikan dukungan kepada kita. Jadi, public 
relation bukanlah tukang sihir yang melakukan tipu muslihat dan tipu daya 
kepada masyarakat. 

Penulis  Karnoto
Founder   BantenPerspektif dan Konsultan Brand



BACA JUGA:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.