Header Ads

Ramai Isu Pribumi, Bisnis Bawang Goreng Pun Jadi


BANTENPERSPEKTIF.COM, KOTA SERANG --- Isu pribumi memantik ide bisnis, salah satunya adalah saya. Kebetulan  daerah kelahiran saya di Brebes, Jawa Tengah merupakan penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Dan saat ini harga bawang merah tak menentu maka sejumlah petani dan warga di Brebes mengolahnya untuk dijadikan makanan olahan yaitu Bawang Goreng.

Saya pun bekerjasama dengan produsen di sebuah daerah di Brebes dan sampailah saya jadi penjual bawang goreng. Niatan pertama saya sebetulnya membantu mereka pada sisi pemasaran atau trading karena inilah yang menjadi masalah utama dan sering dihadapi para produsen.

Karena kebetulan pula saya pernah studi Marketing Communication Advertising di salah satu kampus di Jakarta, jadi sedikit banyak tahu tentant branding produk, pemasaran dan periklanan. Dan tak butuh waktu lama untuk merealisasikan bisnis ini karena memang masyarakat di Brebes bawang merah sudah menjadi kesatuan hidup mereka.

Sekitar lima jam saya mencari ide nama brand bawang goreng saya akhirnya dibantu istri ketemu nama brand Bawang Goreng Emak Harti. Harti diambil dari nama ibunya istri atau ibu mertua, dan kebetulan juga mereka petani bawang merah.

Hasil promo perdanadi sosial media, tak disangka responnya positif bahkan kami mendapatkan pembeli seorang pejabat publik yaitu Anggota DPRD Propinsi Banten, Heri Handoko. Dia adalah politisi muda dari Partai Demokrat.

Saya cukup lama mengenal Heri saat ia masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang. Waktu itu saya masih bekerja di Jawa Pos Group (Radar Banten) sebagai jurnalis sebelum akhirnya mengelola media online.

Dia langsung memesan dua bungkus dengan rasa original. Saya pun langsung menghubungi produsen bawang goreng di Brebes. Insya Allah dua hari bawang goreng pemesanan akan sampai di Kota Serang, Banten. Sedikit cerita di Brebes soal bawang merah.

Mayoritas petani di Brebes memang mengandalkan bawang merah, selain harganya bisa meraup keuntungan yang super wah. Mungkin juga karena sudah mendarah daging sehingga mereka lebih cocok bertani bawang merah. Namun harga bawang merah tidak stabil sehingga bagi mereka yang tak terbiasa dengan tani ini agak kerepotan,

Pernah suatu ketika harga bawang merah menembus Rp 60 ribu perkilogram. Dan petani pun meraup keuntungan yang melimpah. Namun tak lama kemudian harga bawang merah terjun bebas dan sekarang menurut informasi hanya kisaran Rp 30 ribu sampai 40 ribu, itu belum tentu karena ada juga yang hanya Rp 20 ribu per kilogram harga dari sawah.

Tapi memang urusan bawang seratus persen dikelola pribumi, tapi menurut informasi yang beredar sekarang ini sudah banyak orang-orang China yang investasi bawang merah sedangkan petani hanya mengerjakan. Ada perasaan sedih sih, Padahal sebetulnya saat saya kecil pertanian ini seratus persen dikelola pribumi, mulai dari yang punya sawah pengelola, yang menanam sampai dijual ke pasar pun diterima pedagang asal pribumi,

Penulis : Karnoto

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.