Post views: counter

Header Ads

Bawang Goreng Emak Harti Yang "Elitis"



Pasar saat ini tersegmentasi secara alamiah. Maka produk pun harus jelas menyasar pasar yang mana agar komunikasi pemasarannya bisa menyesuaikan.
~ Karnoto ~

Wah, bawang goreng Emak Harti elitis ya? Pertanyaan ini mulai muncul dari relasi saya dan wajar sih, karena memang dari "brand ambasador" dadakan dan gratis yang saya publish adalah mereka kelas menengah dan menjadi kelompok rujukan dikelasnya.

Ada Iim Rohimah (Komisioner Informasi Publik Propinsi Banten), Ida Setiawan (Pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten yang juga Owner BJKomputer), Juheni M Rois (Pengusaha Properti sekaligus Dai), Aas Arby (Pemred RadarBanten versi online), Erna Yuliawati (Aktivis Perempuan), Bu Dian (Kepala Cabang Bank Mandiri) dan terakhir Zilkifliemansyah (Anggota DPR RI), Heri Handoko (Aleg DPRD Banten) dan ke depan kita akan ke Ratu Tatu Chasanah (Bupati Serang) karena memang sudah memesan.

Ada juga dari akademisi yaitu Bu Windu, Dosen Ekonomi Untirta, Enan Nadia (Komisioner KPUD Banten) dan beberapa tokoh rujukan yang memang memberikan pengaruh pada permintaan Bawang Goreng Emak Harti. Namanya cepat melesat, tapi karena produk ini bukan specialis product maka faktor geografis menjadi segmen yang saya kejar.

Sebetulnya bagi yang belajar Komunikasi Pemasaran Periklanan akan bisa menangkap gaya MarComm yang saya lakukan. Dulu  produk jamu Tolak Angin  dipersepsikan sebagai produk kelas bawah. Tak heran produk ini memakai brand ambasador yang bisa mewakili kalangan bawah.

Diantaranya kalangan pelawak dan orang biasa. Namun sekarang Tolak Angin dinaikan kelasnya. Strategi komunikasi pemasaranpun dibedah habis, mulai tagline, bintang iklan, desain advertising sampai media planning.

Ada Rhenald Kasali (Guru Besar Ekonomi UI) sebagai keterwakilan kalangan terdidik, Agnes Monica (artis) dan Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN dan Big Bos Jawa Pos Group. Kenapa Tolak Angin memakai mereka? Tak lain adalah untuk mengkomunikasikan dengan customer bahwa Tolak Angin juga cocok untuk kelas menengah, jadi tak perlu gengsi. Hasilnya luar biasa, kelas menengah bisa dikuasai apalagi komunikasi pemasarannya semakin agresif dengan testimoni orang biasa tapi mereka yang berasal dari berbagai negara, seperti China, Amerika Serikat, Korea.

Sebetulnya dulu juga ada customer Tolak Angin yang berasal dari kelas menengah, namun belum menjadi target secara khusus tidak seperti sekarang. Mirip-mirip dengan Bawang Goreng Emak Harti. Memang sudah ada orang kelas menengah yang menjadi penikmat bawang goreng.

Namun saya ingin lebih khusus mengejar pasar kelas menengah, maka komunikasi pemasaran yang saya lakukan pun harus bisa menyesuaikan. Salah satunya adalah dengan meminta pembeli saya untuk difoto bersama Bawang Goreng Emak Harti. Ini hanya bagian kecil yang saya lakukan, masih ada strategi komunikasi pemasaran yang sedang saya lakukan dan akan saya tulis kalau sudah dijalankan nantinya, namanya juga strategi dibukanya nanti kalau sudah direalisasikan.

Penulis Karnoto 
Owner Maharti Group

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.