Post views: counter

Header Ads

Lompat Pagar Gaya Irna, Dari Hijau ke Biru



Bagi sebagian publik mungkin kaget dengan migrasi partai politik yang dilakukan Irna Narulita, tapi bagi sebagiannya lagi tak begitu kaget karena pasti gejala melompatnya Irna dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke Partai Demokrat sudah didengar sejak lama. Irna kini mengenakan jas biru bukan lagi jas hijau, dimana selama ini ia bernaung.

Ke depan identitas visual Irna akan lebih banyak menggunakan warna biru,khususnya hijab yang ia kenakan selama ini. Lompat pagar gaya Irna ini pasti ada penyebabnya, bisa karena kekuasaan jangka panjang atau juga karena merasa sudah tidak cocok lagi dengan partai sebelumnya. Melihat Irna tak bisa hanya dengan sosok Irna semata, tapi ada nama Dimyati Natakusumah dibelakangnya. Bagaimanapun Dimyati adalah partner politik paling intim  Irna, karena tak terbatas ruang dan waktu. Apalagi Irna sering disebut sebagai politisi solehah yang taat pada suami.

Dimyati cukup pandai dalam soal hitung menghitung politik, Publik pasti bertanya-tanya ada on mission apa Irna dimigrasikan ke Partai Demokrat?

Dilihat dari sisi internal, PPP sendiri sudah sekian tahun kurang stabil pasca Surya Dharma Ali tersangkut kasus lalu terbelah kepengurusan di tingkat DPP PPP. Tak hanya itu, PPP juga mendapat sorotan tajam saat Pilkada DKI Jakarta, dimana PPP memberikan dukungan kepada Ahok sementara tensi kekecewaan sebagian besar umat Islam sedang tinggi-tingginya.

Meski di Jakarta, namun memiliki efek ke daerah dan salah satunya adalah di Pandeglang, Banten. Dalam beberapa kali kesempatan, Irna harus sering memberikan klarifikasi akibat isu tersebut. Kedua, selain konteks internal partai, Irna juga seperti ingin membangun kekuatan baru khusus politik perempuan di Banten. Kita tahu saat ini ada dua kepala daerah perempuan dari Partai Golkar, yaitu Ratu Tatu Chasanah. Dia adalah Bupati Serang sekaligus Ketua DPD Golkar Propinsi Banten.

Selain Tatu, ada nama Airin Rahmi Diany, Wali Kota Tangerang Selatan yang juga Ketua DPD Golkar Kota Tangsel. Dan jika Vera Nurlaela lolos menjadi Wali Kota Serang maka Golkar memiliki tiga kader perempuan yang memiliki posisi strategis. Dalam politik ada teori efek mirror (efek cermin). Pengusaha lawan pengusaha, birokrat lawan birokrat, artis lawan artis dan perempuan lawan perempuan.

Migrasinya seorang politisi pasti memiliki hidden agenda yang tidak semua mengetahuinya. Agenda itu bisa karena ingin pindah ke partai yang dianggap mampu memberikan support kekuasaan, bisa untuk batu loncatan dan bisa memang benar-benar karena kedekatan dengan partai tersebut. Dan yang bisa menjawab pertanyaan ini adalah Irna, Dimyati Natakusumah dan lingkaran utama Irna.

Bagi Partai Demokrat, masuknya Irna Narulita menjadi energi tambahan untuk menghadapi Pemilu 2019. Irna jelas memiliki followers loyal khususnya di Kabupaten Pandeglang. Meski pernah diuji pada  Pilkada Banten dan kalah, tapi Irna sepertinya masih menyimpan rasa penasaran kekalahannya. Irna pasti tak ingin karir politiknya berhenti pada kursi Bupati Pandeglang dan hal itu sudah jamak untuk politik.

Pada sisi lain sebagai orang baru di struktur Demokrat, Irna masih harus melakukan adaptasi. Secara kedekatan dengan personal mungkin sudah lama, tapi setiap partai punya aturan main masing-masing dan memiliki culture yang berbeda. Demokrat pasti berbeda dengan PPP, partai yang kini ia tinggalkan. Apakah Irna mampu melakukan adaptasi di rumah barunya? Baru akan diketahui kedepan.

Yang pasti Irna sekarang akan lebih banyak mengenakan pakaian dan hijab biru sebagai identitas visual barunya. Irna "dirangkul" Iti Octavia Jayabaya (Ketua DPD Demokrat Banten yang baru) menjadi Sekretaris DPD Partai Demokrat Banten pada Musda Kamis (8/11/2017). Posisi Irna sebetulnya pas mengingat dia adalah orang baru di Demokrat. Kalau langsung ditempatkan sebagai Ketua DPD Demokrat jelas resistensinya cukup tinggi, mengingat kader Demokrat tahu rumah yang sebelumnya disinggahi Irna.

Penulis : Karnoto
BantenPerspektif.Com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.