Header Ads

Menguji Keterampilan Lobi PKS di Pilkada



Ada satu keterampilan yang tak bisa lepas dari politik yaitu lobi.

Penulis : Karnoto

Kalau bicara lobi maka untuk partai dengan usia tua dan berpengalaman maka Partai Golkar adalah jagonya. Wajar kalau dalam setiap pertandingan pilkada Golkar bisa membujuk partai lain untuk menjadi sekutunya. Bahkan Golkar mampu membawa ke garis finish dengan medali kemenangan. Tentu faktor finansial juga menjadi faktor kuat yang dimiliki Golkar.

Namun bagaimana dengan kemampuan partai yang baru berusia belasan tahun, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tentu masih dalam taraf uji karena beberapa kali partai dakwah ini berada pada posisi kejepit.

Mau "melawan" tapi tak punya teman sedangkan mengekor adalah pilihan pahit yang bukan tanpa risiko, khususnya stigma negatif dari publik. Tak heran cibiran akan dialamatkan ke PKS, bukan saja cibiran dari luar tapi cibiran juga datang dari sejumlah kader PKS yang mungkin kecewa meski para elit PKS sudah berupaya keras untuk bisa mengusung sendiri.

Sementara para pemenang adalah mereka yang tak hanya memiliki kompetensi, melainkan memiliki kemampuan negoisasi atau lobi, demikian kata Herb Cohen dalam bukunya You Can Negotatiate Anything.

Beberapa kasus pilkada di Propinsi Banten, seperti menjadi bagian contoh kecil daya uji lobi PKS yang masih membutuhkan keterampilan. Tak mudah memang untuk bisa memiliki keterampilan ini, karena partai lain khususnya partai tua pun menggunakan lobi dengan jam terbang tinggi.

Pilkada Lebak dan Kota Serang kemungkinan akan menjadi uji selanjutnya, apakah kemampuan lobi PKS berhasil atau gagal. Pada sisi lain, PKS akan mendapat cemooh dari sebagian publik yang mungkin tak mengetahui proses secara utuh ketika tak mampu mengusung kadernya sendiri.

Ini yang juga pernah dikeluhkan Dian Wahyudi, politisi PKS Lebak dalan akun facebook pribadinya. Disana ia menulis pesan bahwa PKS menjadi kambing hitam karena semua partai mengusung Iti Octavia maju lagi pada Pilkada Lebak.

"Padahal PKS sudah melakukan berbagai upaya untuk mengusung selain Iti. Bertemu dengan partai sudah bahkan ketemu dengan calon lain pun sudah, tapi mau bagaimana lagi semua partai ke Iti," tulis Dian di facebook pribadinya.

Bisa jadi keluhan Dian Wahyudi juga dirasakan di daerah lain. Sebagai partai dengan brandmarch soliditas kadernya, PKS memang lebih banyak "dimanfaatkan" soliditas kadernya ketimbah varian lain, seperti tokoh atau kursi.

Memang PKS harus lebih banyak belajar tentang urusan lobi, apalagi politik dan lobi menjadi sesuatu yang tak bisa dilepaskan. Berapa lama proses belajarnya? Tergantung kecepatan PKS.

*Penulis adalah
Owner Maharti Networking
Maharti Media | Maharti Food | Maharti School | Maharti Consultant Brand



Diberdayakan oleh Blogger.