Post views: counter

Header Ads

Pemanasan Personal Brand Para Capres



Diri kita adalah brand maka perlakukanlah sebagaimana layaknya sebuah brand

Mendekati Pemilu 2019 sejumlah nama disokong partainya masing-masing mulai melakukan personal branding. Nama lawas dan dipastikan maju adalah Jokowi, mantan Wali Kota Solo ini sudah mendapatkan tiket dari sejumlah partai, yaitu Golkar, PDIP dan Nasdem.

Jika dulu Jokowi dibranding sosok ndeso, sederhana maka sepertinya akan ada perubahan mengingat personal branding tersebut mendapat kritikan tajam dari publik akhir-akhir ini.

Tagline Jokowi adalah Kita kemungkinan besar akan diubah dan lebih pada menonjolkan kesuksesan versi Jokowi. Hal ini tampak dari activity branding yang sudah dilakukan timsesnya di sosial media dengan mengupload sejumlah proyek.

Perkiraan saya Jokowi akan lebih banyak melakukan aktivity branding "peresmian". Dilihat dari konteks politik hal itu memang seharusnya dilakukan mengingat dia incumbent.

Hal ini pernah dilakukan SBY saat menjabat presiden. Sementara itu, Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN juga sedang berupaya melakukan personal branding. Gerak Zulkifli mirip layang-layang, sesekali tampak bersebarangan dengan Jokowi lain waktu mendukung Jokowi.

Tarik ulur ini memang wajar dalam politik dan akan menjadi entry poin bagi PAN sebagai partai yang lebih mengedepankan rasionalitas dalam komunikasi politiknya.

Sementara itu, Cak Imin, Ketua Umum PKB memang dikenal lincah dan cerdik dalam games politik. Stabilitas internal merupakan salah satu kelihaian Cak Imin, ditambah kemampuan melakukan lobi yang cukup cerdik dalam mendekati kekuasaan.

Sedangkan PKS masih belum terlalu konsen dengan capres, tapi fokus menggarap pilkada. Kemenangan Anies Sandi di Jakarta menjadi energi baru bagi PKS. Memang ada nama yang muncul yaitu Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat.

Gerindra sendiri akan tetap mencalonkan Prabowo Subianto. Namun sepertinya Prabowo akan tetap memakai personal branding lama yaitu tegas.

Secara kontekstual, brand tersebut masih layak jual. Hanya saja harus diimbangi kemampuan mengkomunikasikan ketegasan tersebut, terutama ke lapisan bawah. Ketegasan itu harus mampu diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami grasroot sehingga tidak salah paham. Pengalaman pemilu lalu harus menjadi pelajaran bagi Gerindra.

Kejelasan personal branding sangat penting agar publik bisa melihat dengan jelas. Dari kejelasan inilah dapat terlihat apakah memang sosok tersebut dibutuhkan atau tidak.

Highlight yang melekat pada seseorang itulah yang selayaknya dibranding sehingga pandangan publik tidak kabur. Adu branding pada pemilu 2019 akan semakin seru karena disupport sosial media.

Penulis : Karnoto
Redaksi | BantenPerspektif


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.