Header Ads

Adu Branding Perebut Tahta Parahiyangan




Kemampuan mengkomunikasi kekuatan personality dalam arena pertempuran politik merupakan sesuatu yang penting.
~ karnoto ~


Dalam suatu arena pertempuran politik hampir dipastikan akan tercipta suasana peperangan. Maka jangan heran kalau suhu saat pilkada tensinya naik drastis, apalagi jika calon yang muncul sama-sama memiliki kekuatan. Kekuatan yang dimaksud bisa berupa finansial, ketokohan dan basis massa. Dan salah satu susana peperangan itu adalah adu branding diantara para calon.

Pilkada Jawa Barat 2018 merupakan salah satu daerah yang cukup sengit pertempurannya. Dalam konteks branding keempat calon sama-sama memiliki kekuatan personality, tinggal sejauhmana kemampuan tim mereka mengcreate kekuatan personality tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk meraih simpati publik dan sampai pada puncaknya memberikan suara kepada mereka.

Saya ingin mengulas satu persatu keempat calon secara singkat terkait personal branding mereka. Selain saya memang konsen membahas masalah branding, tulisan ini juga sebagai gambaran bahwa sesungguhnya urusan branding telah menjadi item tak terpisahkan dalam politik.

Pertama, Sudrajat
Calon Gubernur Jabar yang diusung Partai Gerindra, PKS ini memiliki kekuatan personality pada tiga karakter yaitu serius atau sungguh-sungguh, militer yang religus. Meski serius, tapi sepertinya tim dari Sudrajat-Syaikhu mencoba membuat mereka lebih cool, santai dan ringat.

Hal ini bisa kita lihat dari tagline mereka yaitu Asyik, sebuah kata yang ringan dan santai. Sudrajat pun dicoba dicreate untuk tampil dengan santai. Ini terlihat dari foto Sudrajat yang disebar di sosial media. Ia terlihat senyum dan ada juga foto  Sudrajat bersama Syaikhu (Calon Wakil Gubernur) yang terlihat santai.

Dalam foto tersebut Syaikhu sedang menunjukan smartphone kepada Sudrajat dengan penuh senyuman dan jauh dari kesan serius. Saya tidak tahu apakah itu memang bagian dari bay desaign atau memang secara demografis mengharuskan tampil seperti itu. Boleh jadi ada riset yang memang demografis pemilih Jabar menyukai hal-hal yang ringan.

Kedua, Dedy Mizwar
Dia memang salah satu seleberitis yang memiliki karakter tersendiri. Ia artis sekaligus sutradra yang santai dan agamis. Tak heran banyak film-film yang ia bintangi atau buat sarat dengan nilai agama. Ia juga sosok yang humoris.

Kalau saya melihat tampaknya Deddy akan dibiarkan dengan karakter aslinya seperti itu. Meski ini baik tapi tetap saja membutuhkan activity branding yang kreatif agar maintance karakter yang sudah menjadi nilai plus tersebut bisa memberikan efek positif bagi perolehan suaranya.

Dalam strategi komunikasi pemasaran Dedy pun tampak sekali dibuat santai dan seperti menghibur. Strategi ini sebetulnya tepat jika dikorelasikan dengan psikologi masyarakat Indonesia secara umum, yaitu menyukai hiburan.

Ketiga, Ridwan Kamil
Sosok Ridwan Kamil menjadi fenomenal di Bandung dan Indonesia pada umumnya. Dia memiliki kekuatan personality yang gaul dan kekinian. Dia juga suka dengan menunjukan romantisme maka jangan heran Ridwan banyak disukai anak-anak muda dan kaum hawa.

Meski demikian tetap saja, mesin partai sebagai penopang harus berjalan dengan baik. Sebab jika tidak maka kekuatan personality yang selama ini melekat pada Ridwan Kamil tak akan berdampak positif bagi suara Ridwan Kamil.

Keempat, TB Hasanudin
Sosok yang satu ini juga memiliki kekuatan personality serius dan pekerja keras. Namun Hasanudin mesti bekerja keras karena persnonaltynya memiliki pesaing yang cukup keras yaitu Sudrajat. Hampir-hampir mirip modal personality Hasanudin dengan Sudrajat karena berlatarbelakang militer.

Hanya pada aspek religusnya yang Hasanudin kalah pamor dengan Sudrajat, ini karena efek dari aksi 212 dimana partai PDIP berada pada pengusung Ahok sebagai personal center dalam kasus penistaan agama. Hal ini juga sepertinya disadari Hasanudin, maka jangan heran ia terlihat agresif menemui tokoh agama dan sejumlah pondok pesantren.


Sejatinya personal branding memang dilakukan, apalagi di tengah kompetisi yang cukup sengit dan keras. Banyak irisan yang mesti dicreate agar tetap memiliki perbedaan. Jika tidak maka publik tidak akan memiliki interesting dengan calon.

Penulis : Karnoto
Foto : Kompas
Diolah Dari Berbagai Sumber

Diberdayakan oleh Blogger.