Header Ads

Personal Branding Anis Matta dan Kelas Menengah




Setiap personality memiliki kekuatannya masing-masing. Kekuatan personality  inilah yang dicreate agar bisa memperkuat personal brandnya.
~ Karnoto ~

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah kadung merilis sembilan nama hasil pemilihan internal sebagai calon Presiden atau Wakil Presiden RI untuk "dijual" pada event besar Pemilu 2019. Salah satunya adalah Anis Matta, ia adalah sosok personality yang kuat baik dalam pemikiran ataupun mempola struktur kalimat sehingga ia jago orasi.

Dari nama yang ada memang Anis Mattalah yang memiliki kelebihan pada sisi itu. Hampir mirip dengan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Dan menurut penulis andaikan Anis Matta memiliki team work maka saran saya komunikasi pemasaran Anis harus lebih banyak pada event dimana Anis Matta bisa bicara, menuangkan gagasan dan idenya karena disitulah kekuatan Anis Matta.

Jika dulu Jokowi kuat pada sisi komunikasi intra personalnya dengan diwujudkan sosok sederhana dan ndeso, maka Anis Matta kuat pada sisi pemikiran dan cara dia meramu kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Strategi marketing communication Anis harus lebih banyak event dialektika, diskusi, seminar karena ruang itulah yang menjadi kekuatan Anis dan tidak dimiliki calon lain. Ini terbalik dengan Jokowi, dia lemah pada sisi itu maka jangan heran kalau dia tidak pernah menggunakan strategi ini dalam kampanyenya.

Anis Matta harus dipertemukan dengan lintas tokoh, Agama, suku dan golongan dengan menggunakan strategi marketing communication dialektika. Kekuatan Anis mirip-mirip dengan Barack Obama, Anies Baswedan dan Soekarno. Mereka bertiga pandai dalam orasi dan meramu kalimat sehingga saat mereka pidato selalu enak didengar.

Pasar potensi Anis Matta adalah kalangan kelas menengah dan terdidik. Karena dengan kekuatan personality Anis akan lebih mudah diterima dikalangan itu ketimbang dengan menggunakan strategi blusukan ke grassroot.

Lalu bagaimana dengan lapisan bawahnya? Kalau saya jujur tidak perlu khawatir karena sekarang kelas menengah tumbuh luar biasa, dan spesifiknya kelas menengah muslim tumbuh luar biasa. Dan dalam catatan perubahan selalu digerakan oleh kelas menengah meskipun jumlah mereka lebih sedikit dengan kaum proletar.

Kelas menengah mampu menggerakan kaum proletar karena karakter kaum proletar bukanlah penggerak maka mereka akan mengikuti angin perubahan yang terjadi secara masif. Beberapa rentetan peristiwa selalu dimotori kelas menangah sejak zaman dulu.

Mulai dari zaman kemerdekaan dengan gerakan Boedi Oetomonya, era reformasi dengan gerakan mahasiswa bahkan peristiwa Aksi 212 di Jakarta juga digerakan oleh kelas menengah. Bahkan sepengetahuan penulis, orang-orang pertama yang bergabung dengan barisan Nabi Muhammad SAW hanya satu orang yang menjadi perwakilan kaum proletar, sisanya mereka adalah kelas menengah, seperti Utsman Bin Affan, Abu Bakar Siddiq, Ali Bin Abi Thalib dan Khadijah.

Termasuk para pejuang kemerdekaan pun digerakan oleh kelas menangah, mulai dari Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Maulana Hasanudin. Pada gerakan dakwah di tanah air pun sama digerakan oleh kelas menengah, seperti Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyari termasuk Wali Songo mereka adalah kelas menengah.

Jadi menurut penulis, Anis Matta tak perlu khawatir dengan kekuatan personalitynya yang lebih kuat dengan kelas menengah. Sebab jika Anis Matta dipaksakan melompat dari kekuatan personalitynya lalu meniru blusukan ke grassroot maka ini justru akan mengaburkan kekuatan Anis Matta sendiri.

Bukan berarti dia tidak menemui lapisan bawah, yang saya maksudkan adalah Anis Matta harus cepat terkoneksi dengan kelas menengah lebih luas agar mereka mengetahui siapa Anis, karena saya meyakini bahwa kekuatan Anis pada pemikiran dan kemampuan mengemas struktur kalimat dan itu tidak dimiliki tokoh yang saat ini muncul.

Ini Modal Anis Matta
Sekadar diketahui data tahun 2017 tercatat ada 40 juta jiwa kelas menengah dari total penduduk Indonesia 260 juta jiwa dan diprediksi akan mencapai 360 juta jiwa pada tahun 2045 mendatang. Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tersebut merupakan pasar potensi dan menjadi target pesonal branding Anis Matta. Jika mereka bisa menjadi pendukung loyal Anis maka saya meyakini akan mampu menggerakan.

Sebab kelas menengah ini bukan saja beres urusan perutnya, tetapi mereka sudah memikirkan perut orang lain dalam hal ini memikirkan perut lapisan bawah. Mereka mayoritas pengusaha yang memiliki karyawan atau pegawai yang arahannya dituruti lapisan bawah, itulah yang saya sebut mereka sebagai penggerak perubahan.

Penulis : Karnoto
Founder BantenPerspektif


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.