Post views: counter

Header Ads

Tes Pasar Ketokohan, PKS Luncurkan 9 "Produk" Sekaligus



Ada dua pintu saat mau memulai bisnis. Pintu pertama mencari pasar baru bikin produk dan pintu kedua bikin produk dulu baru cari pasar.
~ Karnoto ~

Salah satu kelebihan China dibandingkan Jepang termasuk Indonesia adalah kemampuan treding mereka. China memiliki keahlian menjual sehingga mereka tak terpaku pada kemampuan membuat. Maka jangan heran kalau China sering meniru produk - produk negara lain untuk kemudian dijual kembali. Nah, pada dunia bisnis keuntungan penjual dengan pembuat hasilnya jauh lebih besar yang menjual.

Maka jangan heran meskipun sejumlah brand otomotif dibuat oleh Jepang, tetapi pemilik dealer atau shooroomnya orang China. Inilah yang saat ini kemudian menjadi kesadaran kolektif para pengusaha Indonesia agar memiliki kemampuan treding. Lalu apa hubungannya dengan politik, lebih khusus Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Saya ingin mengajak Anda bukan pada produknya, tetapi lebih kepada treding atau kemampuan menjual produk. Produk dalam konteks luas sebagaimana dikatakan pakar Marketing Dunia asal Amerika Serikat, Philip Kotler adalah meliputi nama, pemikiran, ide, barang, jasa, logo, warna termasuk personality seseorang.

PKS beberapa hari lalu merilis sembilan tokoh untuk diuji sejauhmana penetrasi pasar dalam hal ini masyarakat terhadap tokoh tersebut. Mereka adalah Anis Matta, Tifatul Sembiring, Sohibul Imam, Salim Segaf Al Jufri, Irwan Prayitno, Mardani Ali Sera dan Ahmad Heryawan.

Dalam konteks komunikasi pemasaran apa yang dilakukan PKS memang selayaknya dilakukan. Tes pasar memang terkadang harus dilakukan jika produk tersebut masih belum diterima pasar secara masif. Apalagi dalam dunia politik yang dinamikanya terkadang diukur dengan menggunakan satuan menit bahkan detik.

Tentu dalam melakukan uji pasar tidak bisa dialamiahkan, tetapi mesti dicreate personal branding mereka. Sebab masing-masing memiliki highligh yang berbeda sehingga gaya komunikasi pemasarannya pun tidak bisa disamarakatan.

Anis tentu berbeda dengan Aher, begitu pula Irwan Prayitno juga berbeda dengan Tifatul Sembiring. Jika tes pasar ini dibiarkan alamiah tanpa ada strategi personal branding yang cantik maka penetrasi pasar tidak akan memuaskan. Apalagi mereka dimunculkan sudah ada pesaing dari partai lain, seperti Jokowi, Prabowo, Cak Imin dan sejumlah tokoh lainnya.

Memasarkan sembilan orang dengan strategi yang sama jelas tidak efektif karena personality mereka jelas berbeda. Kalau saya ilustrasikan dengan sebuah produk komersial mirip - mirip dengan Unilever. Holding Company ini memiliki banyak sekali produk. Tapi coba Anda lihat, masing-masing produk memiliki strategi komunikasi pemasaran yang berbeda.

Kenapa demikian? Karena target pasar yang dibidik pun berbeda sehingga strateginya pun mesti menyesuaikan dengan target pasar dan highlight produk itu sendiri. Atau coba kita lihat minimarket yang menjamur. Sekilas mungkin sama, tapi ternyata berbeda.

Indomart, Alfmart sejenis tetapi coba tengok RunchMart, sebuah minimarket yang menjual produk nyaris sama dengan di Indomart tetapi Anda akan menemukan harga yang berbeda jauh. Padahal produknya sama. Atau coba Anda bandingkan antara Ramayana dengan Matahari, keduanya juga memiliki bidikan pasar yang berbeda sehingga strategi pemasarannya pun berbeda.

Kembali pada PKS. Jika PKS ingin serius membranding mereka maka personal branding kesembilan orang tersebut pun mesti mendapat perhatian khusus. Strategi komunikasi pemasaran Anis tentu berbeda dengan Aher karena keduanya memiliki keunikan personality yang berbeda.

Jika tanpa strategi personal branding yang serius maka tes pasar tersebut kurang memuaskan. Apalagi "produknya" diluncurkan dalam waktu yang bersamaan. Ini jelas akan menyulitkan karena harus banyak tim yang terlibat dan banyak variabel yang harus digarap, mulai dari komunikasi pemasaran melalui advertising, event, direct selling, media planning sampai kepada public relation.

Gaya komunikasi pemasaran iklan Anis tentu berbeda dengan Irwan Prayitno. Sebab memang keduanya berbeda meski berasal dari satu partai. Sebagai Holding Company, PKS memang memiliki pekerjaan yang rada-rada berat karena meluncurukan "produk" sekaligus. Jika tidak ada antisipasi personal branding maka akan mengaburkan produk itu sendiri.

Penulis : Karnoto
Founder : BantenPerspektif.Com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.