Header Ads

Di Depan Alumni KAMMI, Ini Yang Disampaikan Anis



BANTENPERSPEKTIF.COM, JAKARTA --- Anis Matta menepati janjinya untuk orasi kebangsaan di depan Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Pusat di Jakarta (3/3/2018). Berikut ini orasi Anis Matta pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) KA KAMMI di salah satu hotel di Jakarta.

Diantara syarat untuk melakukan perubahan adalah keyakinan. Jangan biarkan keyakinan kita goyah. Pendekatan kita dalam melakukan perubahan adalah, pendekatan sistemik yang dibingkai dalam perspektif perubahan. Untuk mencari arah baru Indonesia kita mesti jawab pertanyaan, sekarang kita sudah sampai dimana ?. Saya menulis buku tentang gelombang ketiga Indonesia. Buku ini setidaknya menjawab kita ini sudah ada dimana.

Indonesia sudah melalui dua gelombang, menjadi Indonesia. Disini kita sudah melebur. Jauh sebelum Indonesia menjadi negara, Indonesia lebih awal lahir sebagai bangsa. Kesadaran metamorfosis kita dimulai dari sumpah pemuda. Disini kita sudah melebur menjadi satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Namun jauh sebelum itu, struktur sosial dan sistem politik kerajaan tidak bisa bertahan lama dan langsung melebur menjadi satu. Hasil dari lebur ini lahirlah Indonsia.

Saat menentukan bahasa, kita tidak memilih bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan. Kita memilih bahasa Melayu, bahasa melayu itu sangat demokratis. Tidak ada kita jumpai kasta dalam struktur bahasa Melayu. Bahasa Melayu tidak ada sistem waktunya. Kata makan misalnya, tidak ada masa depan, lampu dan sedangnya. Sistem waktu tidak melekat pada kata kerja makan.

Jika kita ingin melangkah menatap ke depan, jangan lupa melihat ke bawah, dimana kita berdiri. Kita harus mampu membangun kesadaran baru untuk merumuskan arah baru Indonesia. Gelombang kedua adalah, gelombang membangun negara bangsa modern. Dan ini dimulai sejak orde lama dan orde baru. Pergulatan selama ini adalah pergulatan untuk menemukan titik keseimbangan, antara demokrasi dan kesejahteraan. Orde Lama membangun dasar kita bernegara, namun gagal dalam mensejehterakan rakyatnya.

Orde Baru datang, menjadi antitesa Orde Lama. Orba datang dengan stabilitas dan pemerintahan yang kuat. Orba datang dengan konsep pembangunan, tapi gagal dalam menumbuhkan sistem demokrasi yang sehat. Reformasi lahir tahun 1998 dengan memabawa ide memadukan, demokrasi dan kesejahtaraan. KAMMI adalah diantara yang datang membawa ide ini. Kenyataanya, setelah 20 tahun reformasi, rakyat susah menemukan kalimat demokrasi dan kesejahteraan.

Ketika kita berfikir tentang kesejahteraan, kita lupa bahwa ide ini bersinggungan dengan sistem ekonomi. Saat reformasi, kita bawa ide demokrasi dan membawa pasar bebas. Ide ini melahirkan perdebatan baru, yaitu negara, pasar dan civil socioty. Gelombang kedua itu sampai disini. Antara potensi kita dengan yang sudah kita lakukan memiliki jarak yang sangat jauh. Banyak pengamat yang memprediksi 40 tahun kedepan ekonomi Indonesia akan menjadi lima besar dunia.

Kenyataan ini kontradiktif, langit kita terlalu tinggi sementara jangkauan terbang kita terlalu rendah. Setiap peristiwa besar yang kita lalui selalu beririsan dengan geopolitik global. Perang pasifik, mempengaruhi Indonesia merdeka. Kekalahan Jepang memberi kita celah untuk merdeka.

Pertempuran yang hebat sebenarnya, bukanlah pertempuran merebut kemerdekaan, tapi pertempuran mempertahankan kemerdekaan, karena ada campur tangan global didalamnya. Peristiwa G30S PKI, bermula dari peristiwa geopolotik global, perang dingin di bawah pengaruh Unisoviet. Ini yang membuat PKI percaya diri untuk mempercepat kudeta.

Yang membuat Orba bangkit karena kita join dengan kapitalisme global. Indonesia banyak pasokan dana untuk pembangunan. Tahun 1990an Unisoviet runtuh. Barat tampil dengan membawa nilai demokrasi dan pasar bebas. Periode ini disebut periode revolusi demokrasi.

Tahun 1998 Indonesia dilanda krisis yang disebakan George Soros. Saat reformasi kita berada di gelombang ini. Jika kita ingin mengetahui kemana arah kita kedepan. kita harus tahu apa yang terjadi dengan geopolitik global. Ini berhubungan dengan yang terjadi di sekitar kita.

Tahun 2008 terjadi krisis sistem ekonomi dan politik global. Di Eropa lahir pemimpin kanan jauh. Tahun 2010 Rusia dan Putin menjadi pemain global. Nasionalisme menjadikan instrumen untuk melawan Neo Liberal. Sekarang yang menguasai ekonomi global kaum korporasi.

Kaum korporasi percaya bisa membentuk korporasi government. Itu sebabnya kaum korporasi lebih berdaya dari negara. Sekarang orang mencari isu perlawanan baru yaitu nasionalisme. Ada faktor teknologi berpengaruh terhadap struktur ekonomi. Ekonmi bertumbuh lambat, tapi gejolak terus bertumbuh. Ini karena ada krisis ekonomi dan krisis kepemimpinan.

Ini pula yang membuat orang dalam ketidakpastian dan ini pula yang melahirkan radikalisasi. Tensi politik sekarang naik secara global. Pertama, tidak ada lagi penguasa tunggal. Hilangnya wibawa Amerika sebagai penguasa tunggal saat invasi ke Irak.

Kedua, chaos global. Di Timur Tengah ada konflik. Amerika, Rusia, China ada dalam pusaran konflik. Timur Tengah menjadi spot konflik yang melibatkan negara besar. Ketiga, perang global. Sekarang hampir semua negara besar memiliki perhatian terhadap anggaran negara untuk pertahanan keamanan. Tidal ada tanda - tanda mengakhiri ini.

Harus ada ide baru untuk mengembalikan konfigurasi global dan sampai sekarang belum menemukan jawabanya. Sekarang tidak ada pemimpin dunia yang memiliki legitimasi besar sehingga susah bagi suatu negara untuk mengambil keputusan besar dan memobilisasi besar - besaran. Pasti ada yang tentang. Kita akan menemukan dua fakta jika mau jalan kedepan. Kenapa kita terbng rendah, karena tidak punya pengetahuan. Itu sebabnya Quran banyak menceritakan rasul - rasul yang juga merangkap menjadi raja.

Nabi Sulaiman mengutus burung hud - hud membawa surat negara kepada ratu Balqis. Dalam sebuah pertemuan, Ratu Balqis meminta nasehat pembesarnya. Ini ada surat dari Sulaiaman dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jangan sombong kepadaku, datanglah dengan menyerahkan diri.

Wahai pembesar kerajaan, coba kasih saya saran, kata balqis. Kita punya kekuatan sumberdaya apapun untuk menghadapi Sulaiman, silahkan ambil keptusan, kata pembesar Balqis. Ratu Balqis mengirim hadiah kepada Sulaiman. Apa kata Sulaiman saat menerima hadiah itu, bawa pulanglah hadiah ini, Allah memberi saya melebihi apa yang kamu miliki.

Dalam rapat dengan rakyatnya, Sulaiman bertanya, siapa yang bisa datangkan singgasana Bilqis sebelum dia menyerahkan diri. Ifrit mengusulkan, saya bisa pindahkan istananya, sebelum Sulaiman pindah dari tempat duduk. Orang berilmu berkata, saya akan bawa istana itu sebelum mata tuan Sulaiman berkedip. Jadi, jika kita mau terbang tinggi syaratnya pengetahuan. Kalau mau terbang tinggi juga tergantung mesin. Kita mau terbang tinggi tapi cuaca mendung. apa yang kita lakukan ?.

kadang ada awan, tapi setelah itu ada cerah. yang dibutuhkan dalam kondisi seperti ini adalah keberanian. Kita tidak akan lagi jadi folower, kita akan masuk dalam prinsip dasar bebas aktif. Gelombang ketiga Indonesia adalah salah satu kekuatan arus utama gelobal. ini bisa kita lakukan. Bagaimana caranya, pertama, konsolidasi ideologi. Islam, Nasionalis, Demokrasi dan Sejahtera. Ini kita ramu menjadi satu kesatuan.

Kedua, ciptakan teori baru tentang mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Supaya kita bisa bangun fondasi kesejahteraan jangka panjang. Ketiga, merubah pola global partnership. Rusia ekonominya biasa saja pada mulanya, tapi menjadi player global karena Putim tahu dimana dia harus masuk.

Pada dasarnya kita punya leverage untuk memimpin, yaitu demokraai dan Islam . Yang kita tawaran kepada kekuatan global adalah Ide. Kalau kita didengar dan duduk semeja, berdiskusi tentang masa depan, bisa jadi ide kita di dengar dan diikuti.


Penulis :  Sumardi
Editor : Karnoto
Foto : KA KAMMI

Diberdayakan oleh Blogger.