Post views: counter

Header Ads

Personal Branding Bukanlah Rekayasa Kepribadian




Rekayasa kepribadian hanya akan menjadi senjata makan tuan dan membuat seseorang yang direkayasa tidak nyaman, karena tidak menyatu dengan hati, fikiran dan jiwa orang tersebut.
~ karnoto ~

Dalam sebuah chat whatsapp dengan seorang dosen saya mendapatkan gambaran bahwa masih ada yang keliru memandang apa itu personal branding. Dianggapnya personal branding adalah rekayasa kepribadian seseorang. 

Maksdunya adalah orang yang tidak hamble tiba - tiba jadi hamble, atau orang yang sebetulnya jijik memegang tanah dan baju kotor miliki petani tiba - tiba "dipaksa" seolah - olah ia terbiasa dengan hal itu. Menurut saya ini salah besar ! dan jika ini masih dilakukan oleh tim sukses maka justru itu akan "membunuh" karakter aslinya.

Aktivitas branding sekali lagi bukanlah rekayasa kepribadian, tapi mengoptimalkan kepribadian yang menonjol pada seseorang. Tidak harus sederhana, tapi juga bisa karakter lain seperti stylish, public speakingnya, dermawannya, ketegasannya bahkan kekayaanya.

Saya suka geli dan kadang tertawa saat menerima foto dari seseorang yang mengirimkan foto yang sangat berpura - pura dan penuh rekayasa kepribadian. Saya tidak menyalahkan pemeran utamanya, tapi tim suksesnya yang tidak paham perihal personal branding.

Dianggapnya personal branding adalah proses rekayasa kepribadian, padahal jauh dari itu. Sebab jika ini yang dilakukan maka suatu saat akan menjadi senjata makan tuan. Perlu saya sampaikan disini bahwa brand adalah merek, logo, warna, nama dan identitas lain termasuk personality seseorang. 

Lalu apa itu branding? Branding adalah proses aktivitas terhadap brand atau merek agar lebih kuat dan diterima khalayak luas. Nah, proses memperkuat brand ini yang sering dipelintir menjadi sebuah proses rekayasa kepribadian. 

Ketika seseorang memang lemah pada public speakingnya maka jangan skill itu yang diperkuat atau memaksa seseorang harus lihai dalam public speaking. Tapi carilah highlight lain yang paling menonjol pada sosok seseorang tersebut, itu yang kemudian dibranding bukan justru membranding karakter yang menjadi kelemahannya.

Selain akan menjadi senjata makan tuan, rekayasa kepribadian juga akan membuat seseorang yang dibranding tidak nyaman, tidak menikmati dan pasti akan terlihat kaku dan tidak menarik. Sebab peran tersebut tidak menyatu dengan hati, jiwa dan fikirannya. 

Seseorang itu pasti dalam hatinya akan bertentangan dengan rekayasa kepribadian tersebut. Dan hasilnya otomatis tidak akan keluar aura kepribadian yang sesungguhnya. Publik pasti bisa mencerna body language, komunikasi verbal dan mimik saat seseorang memainkan rekayasa kepribadian. Mungkin tidak disampaikan langsung, tetapi publik akan membaca itu sebuah pencitraan dengan stigma yang jelek.

Itulah kenapa saya membuat Branding School, sebuah sekolah fleksibel yang menggunakan dua sistem perkuliahan, yaitu KulWap (Kuliah di WhatsApp) dan KulTap (Kuliah Tatap Muka). Branding School membahas seputar brand, meliputi branding produk komersial, city branding, branding corporate, branding politik. Dalam salah satu kuliahnya ada mata kuliah Personal Branding. Disinilah para siswa akan diajak mengerti makna dari branding itu sendiri. Jika Anda ingin melihat profil sekolah ini silahkan bisa diklik BrandingSchool.

Penulis : Karnoto
Founder BantenPerspektif.Com
Founder Branding School




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.