Header Ads

#2019GantiPresiden, Fenomena Digitalisasi Politik



Kecepatan teknologi melebihi kecepatan produk hukum, sehingga negara sering terlambat adaptasi saat muncul teknologi baru.
~ Karnoto ~


Setiap momen Pemilu hampir dipastikan ada fenomena baru yang menjadi sorotan publik, termasuk Pemilu 2019 dimana #2019GantiPresiden menjadi fokus perhatian banyak orang. Tak hanya rakyat jelat, para pejabat di negeri ini pun ikut memerhatikan tagar ini. Bahkan Presiden Jokowi sebagai salah satu orang yang paling dituju pada tagar ini tak ketinggalan memberikan sindiran. "Masa kaos bisa mengganti Presiden," demikian sindiran Jokowi dalam sebuah acara di Jakarta.

Di Indonesia #2019GantiPresiden menjadi fenomena menarik baik ditinjau dari sisi akademik maupun sosial politik. Saya menyebutnya ini merupakan fenomena digitalisasi politik. Sebab tagar ini menjadi viral karena terbantu oleh sosial media. Sebetulnya ini peristiwa fenomenal kedua dalam dua tahun terakhir yang banyak menyedot perhatian. Peristiwa fenomenal pertama adalah Aksi Bela Islam 212, dimana jutaan orang tumpah ruang dalam satu titik yaitu Lapangan Parkir Monas, Jakarta.

Meski tidak secara langsung mengurai persoalan politik, tetapi memiliki irisan kuat dengan politik karena menyeret nama seorang politisi yang juga fenomenal sekaligus kontroversial, yaitu Basuki Cahaya Purnama alias Ahok. Digitalisasi Politik ini mengapa viral dan masif? Pertama kita harus melihat kuantitas pengguna sosial media di Indonesia.

Dalam berita di Kompas.Com, edisi 2 Maret 2018, tercatat bahwa pengguna Facebook di Indonesia sudah mencapai 130 juta akun dengan persentase enam persen dari seluruh pengguna. Berita Kompas ini mengutip riset dari We Are Social dan Hootsuite, dimana pertumbuhan sosial media tahun 2018 mencapai 13 persen dengan jumlah total di dunia mencapai 3 miliar.

Kita semua tidak pernah membayangkan kalau fenomena Digitalisasi Politik akan terjadi tahun ini. Ini merupakan perubahan sekaligus tantangan bagi para elit di Indonesia bahwa mereka akan dikontrol 24 jam oleh jutaan orang yang terkoneksi dengan jejaring sosial. Kesadaran ini mestinya terjadi pada seluruh elit. Mereka tak bisa lagi bersembunyi dibalik jendela pencitraan atau dibalik kamar rekayasa diri karena kontrol publik bisa masuk ke ruang private seseorang.

Dahsyatnya digital ini diperkuat dengan pertumbuhan kelas menengah, dimana mereka sudah menyelesaikan urusan dasar (papang, pangan dan sandang) mereka sehingga sudah mencapai pada level aktualisasi diri. Sering saya katakan bahwa pelopor gerakan sosial adalah mereka para kelas menengah, bukan kalangan proletar.

Fenomena Digitalisasi Politik membuat sebagian kalang kabut karena tidak mampu melakukan adaptasi. Respon ini tergambar dalam sikap seseorang atau institusi baik pemerintah maupun swasta. Beberapa kali pemerintah sepertinya gagap merespon fenomena ini dengan cara tradisional padahal fenomena ini merupakan realitas dunia, bukan hanya terjadi di Indonesia.

Amerika Serikat, negara adidaya sudah memulai Digitalisasi Politik sejak beberapa tahun lalu. Negara lain pun sama, terutama mereka negara - negara maju. Di Turki misalnya, fenomena Digitalisasi Politik juga menjadi bahan pembicaraan saat peristiwa Kudeta Presiden Turki Reccep Teyep Erdogan. Salah satu yang berperan dalam menggagalkan kudeta Erdogan adalah jejaring sosial.

Dimana rakyat Turki ketika itu mendapat seruan untuk melawan kudet terhadap Erdogan melalui sosial media. Jadi, sekali lagi ini fenomena yang terjadi di dunia bukan hanya di Indonesia. Respon yang tidak menyesuaikan dengan tren dunia saat ini hanya akan mendapat serangan yang semakin kencang dan masif.

Sebetulnya, fenomena digital lebih dulu masuk dalam dunia bisnis, tetapi karena bukan politik dan menyinggung elit politik gaungnya tidak senyaring ketika fenomena ini bersentuhan dengan politik. Adanya penggusuran wartel oleh smartphone, munculnya aplikasi andorid dan bisnis online adalah fenomena digitalisasi yang terjadi lebih dulu.

Perkiraan saya, Digitalisasi Politik ke depan akan lebih banyak dikendalian oleh mereka yang disebut sebagai Generasi Milenia dan Generasi Alpa. Gen Milena adalah mereka yang lahir tahun 80 - an ke atas, sedangkan Gen Alpa adalah mereka yang lahir di tahun 2000-an. Kedua gen itulah yang akan mengendalikan penuh era digital di masa mendatang.

Oleh Karnoto
Penulis Buku Speak Brand






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.