Header Ads

Identitas Visual Puan Maharani Ditahun Politik



Identitas seseorang memberikan pesan kuat tentang positioning orang tersebut. Identitas visual seseorang juga menjadi simbol bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada publik.

Beberapa hari terakhir penampilan Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia menjadi perhatian publik. Tak lain karena ia tampil dengan identitas visual hijab bahkan tampak ia mengenakan gamis.

Tak sedikit netizen yang mendoakan tetapi juga memberikan "peringatan" keras agar hijab yang ia kenakan bukan sekadar lipstik menjelang Pemilu 2019. Identitas visual Puan jelas menjadi perbincangan, selain karena personalitynya sebagai salah satu pejabat juga fesyen yang ia kenakan.

Secara umum memang kesadaran muslimah untuk berhijab di Indonesia naik drastis. Fenomena ini sudah pernah disampaikan dalam riset Yuswohady pada bukunya Marketing Of The Middle Class Muslim beberapa tahun silam. Kesadaran akan beragama muslim Indonesia mengalami perubahan drastis, bukan saja perihal lifestyle, tetapi juga diikuti kesadaran dalam aktivitas sosial politik.

Peristiwa Aksi 212 yang menjadi pembicaraan dunia karena melibatkan jutaan muslim tumpah ruah di satu titik di Jakarta menjadi salah satu fenomena yang membuktikan bahwa sebenarnya muslim memiliki kekuatan yang luar biasa dalam perannya di sebuah negara yang heterogen, seperti Indonesia. Kembali pada identitas Puan Maharani.

Dalam komunikasi politik, identitas visual menjadi hal penting sebagai bentuk komunikasi kepada publik perihal positioining seseorang. Dengan identitas visual berhijabnya Puan ingin memberikan pesan kepada umat Islam bahwa dirinya juga care terhadap Agamanya.

"Wahai umat Islam, saya juga muslimah loh! Sekarang saya juga berhijab maka jangan khawatir dengan saya," kira - kira begitulah jika saya mencoba ilustrasikan pesan yang ingin disampaikan Puan kepada publik. Apa yang dilakukan Puan dengan identitas baru tersebut jelas tak bisa lepas dari dinamika sosial politik Indonesia saat ini, terutama pasca meletupnya kasus Ahok ditambah dengan puisi Rakhmawati Soekarno Puteri yang tak lain masih memiliki hubungan dari dengan Puan.

Tidak salah sebenarnya apa yang dilakukan oleh Puan Maharani dengan identitas baru tersebut. Namun yang perlu menjadi catatan adalah positioning Puan. Kalau saya tangkap identitas visual Puan mengandung pesan yang sebenarnya ditunjukan kepada para Alumni 212 atau lebih spesifiknya adalah kelompok yang selama ini mencitrakan bahwa kelompok Puan Maharani kurang bersahabat dengan mereka dan sering membuat luka sehingga menjadi catatan tersendiri.

Oleh karena pesan itu ditunjukan kepada mayoritas Alumni 212 maka Puan mesti paham demografis mereka. Pengamatan penulis, mereka adalah middle class muslim yang kebutuhan basicnya seperti makan, minum, papan dan sandang sudah terpenuhi, terdidik dan kritis serta memiliki tingkat pemahaman soal Agama yang kekinian atau modern. Bahkan memiliki kesadaran politik.

Demografis mereka menjadi penting untuk dipahami Puan, karena jika tidak maka dia akan keliru dalam menempatkan identitas visual barunya di hadapan publik. Puan harus benar - benar membuktikan bahwa kelompoknya tidak akan membuat luka baru dengan mereka, Puan juga harus bisa memastikan apakah identitas visual hijabnya tersebut hanya karena menjelang Pemilu 2019 atau benar - benar kesadaran tulus sebagai seorang muslimah.

Hal ini akan bisa diuji manakalah Pemilu 2019 usai, apakah Puan konsisten dengan identitas baru sebagai hijabers atau mengkonfirmasi kecurigaan sebagian orang bahwa identitas baru tersebut sarat dengan nuansa politis. Selain konsistensi soal identitas barunya, Puan juga harus menjamin bahwa kebijakan - kebijakan yang dia dan kelompoknya tak melukai hati umat Islam di Indonesia.

Terakhir, konsistensi Puan tentu akan dikontrol oleh publik karena hijab tak hanya simbol dan mengandung pesan politik tetapi juga sebagai instrumen syariah Agama Islam yang tidak boleh buat main - main. Ada konsekuensi ketika seseorang mengenakan hijab dan itu harus menyatu dalam pribadi seseorang, siapapun dia.

Jika Puan gagal memberikan jaminan itu maka bukan hanya sanksi politik, tetapi juga sanksi moral dari umat Islam. Yang harus dimengerti oleh Puan perihal sikap publik yang apatis dengan identitas baru tersebut bukanlah pada hijabnya, tetapi pada aspek momentumnya. Untuk itu Puan juga mesti sadar tentang hal ini.

Penulis yakin semua umat Islam akan merasa bahagia ketika melihat muslimah yang berhijrah dari yang tidak terbungkus hijab menjadi berbalut hijab. Dan apresiasi ini diberikan kepada siapapun, apakah artis, politisi, pejabat atauapun orang biasa.

BACA JUGA:
Mau Branding, Lakukan Tiga Hal Ini
Janda Papan Atas Dibidik Rabbani
Jasa Konsultan Branding

Hal ini sudah ada dalam rekaman sejarahnya, contohnya saat Angelina Sondakh mengenakan hijab publik pun memberikan apresiasi. Bahkan beberapa artis yang hijrah berhijab pun diberikan apresiasi yang luar biasa. Sebagian mungkin bertanya - tanya, kenapa ketika Puan mengenakan hijab respon publik berbeda?

Jawabannya adalah karena Puan memiliki sejarah tersendiri tentang bagaimana membina hubungan dengan sebagian besar umat Islam, khususnya Alumni 212. Sudah ada luka yang dirasakan oleh mereka akibat kebijakan pemerintah. Meski tidak dilakukan oleh Puan, tetapi posisi Puan berada dalam ruang strategis dalam pemerintahan yang seharusnya bisa memberikan warna tersendiri, tetapi hal itu tidak dilakukan.

Selain seorang menteri, Puan adalah puteri Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Seokarno Puteri dan satu partai dengan Presiden Jokowi. Posisi inilah yang juga harus disadari Puan sehingga bisa menerima "keraguan" sebagian publik terhadap identitas barunya sebagai hijabers. Oleh karena itu Puan hanya tinggal memberikan pembuktian kepada publik bahwa identitas baru tersebut benar - benar murni karena ketaatannya pada perintah Agama bukan untuk menghibur apalagi menjinakan kelompok yang selama ini terlukai.

Oleh Karnoto
* Penulis Buku Speak Brand, Founder MahartiBrand
Profil Karnoto Klik Disini

No comments

Powered by Blogger.