Header Ads

Menelisik Personal Brand Walikota Serang




Event merupakan salah satu aktivasi branding dan tidak bisa dipisahkan dari personal brand seseorang.


Personal branding menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari ajang pemilihan kepala daerah. Untuk membaca personal brand para calon sebetulnya sederhana karena kita bisa melihat dari aktivasi branding mereka, baik melalui public relation, event, media planning maupun advertising yang mereka lakukan. Tool itu adalah konsep komunikasi pemasaran yang selama ini menjadi rujukan dalam dunia marketing untuk produk komersial. Namun sejak beberapa tahun terakhir diadopsi dalam urusan politik.

Karena kebetulan saya tinggal di Kota Serang dan di tahun 2018 sedang ada hajat Pilkada Kota Serang maka saya coba ulas studi kasus untuk pilkada di daerah. Karena saya tidak mengamati secara keseluruhan aktivasi branding mereka maka dalam tulisan kali ini saya fokuskan pada aktivasi branding melalui event, tepatnya event debat calon Walikota dan Wakil Walikota Serang yang berlangsung Jumat (25/5/2018).

Perlu saya jelaskan sedikit bahwa event merupakan salah satu tools branding, selain tool yang saya sebutkan di atas. Secara umum ketiga pasangan calon memang memiliki personal brandnya masing - masing. Vera Nurlaela misalnya, pasangan yang diusung Partai Golkar, Demokrat, Gerindra, PKB ini kuat dengan personal brandnya dengan keibuannya.

Intontasi dan tutur kata serta penyampaian Vera memang kental dengan keibuannya, pelan dan lembut. Hal ini bukan saja terlihat saat debat, dalam beberapa picutre aktivasi branding Vera kental sekali dengan soft powernya. Maka jangan heran kalau kita melihat dalam aktivasi branding Vera lebih banyak mendekati kaum ibu - ibu dengan picutre yang sifatnya emoisonal, seperti memeluk kalangan ibu.

Menurut saya hal itu merupakan langkah yang tepat karena memang personal brand Vera yang kuat disitu. Selain itu, Vera juga calon perempuan satu - satunya sehingga dia lebih leluasa untuk mengekspresikan saat bertemu dengan kaum ibu - ibu karena bisa berpelukan, saling cipika cipiki. Saat debat pun Vera bertahan dengan personal brand Keibuan tersebut.

Sementara itu, calon Walikota Serang dari jalur idependen Syamsul kalau saya baca dari aktivasi brandingnya terutama pada event debat ingin memberikan massage bahwa ia adalah calon yang punya intelektualitas. Dan menurut saya ini juga tepat karena memang dia memiliki keuniakn personal disitu.

Jika dilihat konten debat yang disampaikan Syamsul maka disana akan terlihat ia berusaha keras ingin menunjukan bahwa dia berbeda dengan yang lain dari sisi intelektualitasnya. Pada bagian lain, Syafrudin, calon Walikota Serang yang diusung PAN, PKS, Gerindra dan PPP memiliki personal brand sebagai teknisi pemerintahan.

Makan jangan heran konten debat yang sering ia sampaikan dan sensitif terhadap persoalan - persoalan teknis, seperti pertanyaan program dari calon independen yang akan membangun area publik per kelurahan. Hal ini wajar juga mengingat ia seorang birokrat yang punya pengalaman teknis perihal pemerintahan dan pembiayaan program pemerintahan.

Dan menurut saya upaya personal branding Syafrudin juga tidak salah karena memang dia kuat pada bagian itu sehingga wajar kalau itu yang kemudian dipush supaya publik mengerti. Pertanyaanya adalah masyarakat Kota Serang membutuhkan figure seperti siapa?.

Apakah walikota yang keibuan, walikota yang punya intelektual atau walikota yang memahami urusan teknis. Sayangnya dalam debat tersebut tidak ada yang bicara city branding Kota Serang, padahal itu adalah guide bagaimana membangun sebuah daerah.

Dalam tulisan saya soal city branding pernah saya ulas bahwa saat ini pengelolaan daerah tidak bisa menggunakan pendekatan birokrasi dimana pemerintahan hanya menjadikan masyarakat objeknya. Trend pengelolaan daerah sekarang ini sudah bergeser kepada partisipasi masyarakat supaya semua bisa terlibat dan sama - sama memiliki semangat bagaimana memajukan daerah. Jadi, dalam pengelolaan daerah yang modern pemerintahan hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Inilaha kenapa city branding itu menjadi penting bagi calon karena dengan city branding ada visualisasi sebuah daerah tergambar dengan jelas sehingga publik bisa melihat mau dijadikan seperti apa oleh sang walikota dalam lima tahun memimpin.

Coba kita lihat daerah - daerah yang progresif maka disana akan ditemukan city branding yang jelas, seperti Jogjakarta Istemewa, Solo Spirit of Java, Kota Bandung Kota
Diberdayakan oleh Blogger.