Header Ads

GARBI Versus PKS, Berdamailah dengan Keadaan




Di sosial media, di group whatsapp ramai soal Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI). Entahlah, ada yang menyebut ini ormas ada pula yang menyebut GABRI sebagai embrio partai politik. Dalam konteks keIndonesiaan kemunculan GARBI sebenarnya lumrah dan biasa - biasa saja, tapi akan menjadi cerita berseri jika kita melihat dari sudut pandang emosional. Mau diakui atau tidak, mau mengamini atau tidak GARBI secara emosional tak bisa lepas dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Hadirnya Mahfudz Sidiq, Fahri Hamzah dan sejumlah tokoh di dalam GARBI jelas mempresentasikan sebagai tokoh PKS atau pernah di PKS. Seperti halnya Mba Tietiek yang tak bisa lepas secara emosional dari Partai Golkar kendati memiliki partai baru yaitu Partai Berkarya. Jadi, wajar saja kalau kemudian memunculkan riak - riak perseleisihan, percikan emosi yang terkadang menyulut emosi.

Dari riak dan percikan ini muncul istilah, "Tetap Disini" dan "Disana". Butuh waktu memang untuk melakukan penyesuaian terutama emosi, sebab GARBI dan PKS tak bisa hanya dipandang dalam perspektif keorganisasian semata tetapi juga ada ikatan emosional. Ibarat sepasang suami istri yang bercerai, pada proses perceraian sampai awal - awal palu cerai diketok pasti belum stabil.

Disamping prosesnya yang melelahkan juga pasca cerainya pun melelahkan. Karena disana ada emosi yang diaduk - aduk. Diakui atau tidak, emosi kedua - keduanya seperti diaduk - aduk.Meski aktivis GARBI merilis bahkan berusaha keras menjelaskan bahwa GARBI tak ada hubungannya dengan PKS, menurut saya itu sulit dilakukan karena faktanya memang ada hubungan emosional. Sekali lagi kalau dilihat dalam konteks organisasi mungkin iya, tapi bahwa ada ikatan emosional itu juga tidak bisa dihindari.

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Ini sudah menjadi realitas bahwa sebagian para aktivis PKS telah keluar atau masih di PKS tapi ingin diterima di GARBI juga. Jalan keluarnya adalah, pertama berdamilah dengan keadaan. Artinya, keadaanya memang ada GARBI yang didirikan oleh orang - orang yang pernah atau bahkan masih bersentuhan dengan PKS.

Konsensus damai dengan keadaan harus datang dari GARBI dan PKS sendiri. Bagi aktivis GARBI harus berdamai bahwa kehadirannya cukup membuat perasaan aktivis PKS diaduk - aduk. Terimalah kalau ada yang melontarkan kekecewaan, penyesalan, marah sekaligus menyayangkan. Pada hakikatnya,  mereka tidak ingin hal ini terjadi tapi apa boleh buat nasih telah menjadi bubur ayam, yang harus dilakukan adalah menikmati bubur ayam itu.

Bagi yang masih bertahan di PKS juga harus berdamai dengan keadaan bahwa kehadiran GARBI bagian dari realitas kehidupan. Terimalah kenyataan meski pahit, sepahit jamu tanpa campuran madu dan gula. Sakit memang, tapi keadaanya sudah seperti itu maka berdamailah dengan keadaan. Jika tidak berdamai dengan keadaan maka kedua - duanya akan terjebak pada pembicaraan yang hambar, saling lempang piring  pecah, saling sindir, saling caci. Mau sampai kapan?

Jalan keluar kedua adalah elit PKS dan GARBI meski berjiwa besar, duduk satu meja dan dimeja itulah disampaikan tentang realitasnya sekarang. Simbol yang ada di dua organisasi itu adalah Sohibul Iman dan Anis Matta. Sayangnya, Anis Matta sendiri belum secara jelas menunjukan bahwa posisi dia sekarang di GARBI karena masih menjadi pengurus DPP PKS.

Meski memiliki kecenderungan ke GARBI, tapi dengan posisi Anis Matta yang sampai sekarang belum totalitas dan full ke GARBI karena faktanya masih menjadi pengurus DPP PKS. Saya bisa memastikan kalau Anis Matta secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya tidak berada di PKS lagi karena akan full membesarkan GARBI, itu akan melegakan kader di keduanya. Meski masih akan ada percikan tetapi paling tidak ada kejelasan sehingga tidak menggantung, karena Anis Matta menjadi simbol GARBI sedangkan Sohibul Iman menjadi simbol PKS.

Penulis,
Karnoto
Founder Maharti Networking

Tidak ada komentar

Silahkan komentar dengan bahasa yang santun, Dan jika ada komentar yang berurusan dengan hukum menjadi tanggungjawab sendiri.

Diberdayakan oleh Blogger.