Header Ads

Kisah Tsunami; Buka Pintu, Duarr Gelombang Menghantam


BANTENPERSPEKTIF.COM, PANDEGLANG - Bencana Tsunami yang terjadi di Kabupaten Pandeglang pada Sabtu (22/12/2018) menyisakan kisah pilu bagi para korban yang selamat, salah satunya diceritakan oleh Madun, warga Desa Lantera, Kecamatan Labuan.

Pada Senin (24/12/2018) malam, pria yang sehari - hari berjualan nasi goreng di Pasar Labuan menceritakan kisahnya itu kepada BantenPerspektif. Menurutnya, waktu itu malam sekira pukul 21.00 WIB dirinya sedang melayani pembeli.

"Malam itu lagi ramai - ramainya pembeli dan ada beberapa pembeli yang sedang makan, lalu saya mendengar orang berteriak -teriak Tsunami sembari berlarian," kata Madun. Namun saat itu, Madun tak langsung percaya karena kabar tentang gelombang tinggi sering terjadi dan memang pada minggu keempat gelombang di daerah itu selalu naik.

"Saya awalnya melihat tanggal, oh ternyata minggu keempat dan memang setiap minggu keempat gelombang selalu naik jadi saya fikir biasa saja tetap berjualan," kata Madun. Saat pembeli menanyakan perihal orang yang berlarian tersebut kepada dirinya, Madun pun menjawab itu hal biasa.

Namun selang beberapa saat, jumlah orang yang berlarian semakin banyak dan Madun semakin khawatir ketika sejumlah anak juga ikut berlarian sembari menangis. "Saya baru ngeh ketika ada anak - anak juga lari dan menangis dari sistu saya langsung tutup dan meninggalkan gerobak menuju ke rumah untuk menyelamatkan istri dan anak - anak," kata Madun.

Sesampai di rumah, Madun pun langsung membawa istri dan anak - anaknya ke tempat yang lebih aman. "Saya juga akhirnya lari ke tempat yang lebih aman dan mengungsi," kata Madun. Ia bersyukur karena akhirnya selamat dari Tsunami.

Namun kisah pilu diceritakan Madun, karena salah seorang tetangganya ketika itu. "Kalau tetangga saya lebih sedih karena saat buka pintu rumahnya langsung dihantam gelombang setinggi 3 meter dan ia pun pegang erat anaknya. Alhamdulillah mereka selamat, tapi anaknya trauma dan sekarang sedang dirawat," cerita Madun. (WCR/KNT)
 

Tidak ada komentar

Silahkan komentar dengan bahasa yang santun, Dan jika ada komentar yang berurusan dengan hukum menjadi tanggungjawab sendiri.

Diberdayakan oleh Blogger.