Header Ads

Yoga, Dari Buruh, Aktivis Sampai Calon Legislatif



BANTENPERSPEKTIF.COM, KOTA SERANG - Momentum Pemilu 2019 akan menjadi ajang pembuktian bagi Yoga Utama untuk mendapatkan ruang aktualisasi politik di parlemen pasca melewati suasana aktivis di kampus.

Era reformasi tahun 1998 merupakan tahun kali pertama Yoga Utama bersentuhan dengan dunia pergerakan yang konsentrasi dalam politik. Mantan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Banten ini mulai menjadi aktivis pergerakan.

Pasca aktif di kampus, Yoga direkrut menjadi Ketua Bidang Humas Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Propinsi Banten. Selain itu, Yoga juga tercatat sebagai staf ahli di Fraksi PKS DPRD Propinsi Banten.

Alumni Universitas Serang Raya (Unsera) ini pun semakin intens dalam dunia politik sampai akhirnya dicalonkan menjadi Caleg DPRD Kota Serang untuk daerah pemilihan Kecamatan Taktakan dengan nomor urut satu.

Sebelum totalitas dalam politik, Yoga pernah menjadi karyawan PT Indah Kiat Pulp and Paper Kragilan. Karena merasa kebebasan menjadi buruh kurang optimal, Yoga pun memilih berhenti dan melanjutkan studi di Unsera.

Di kampus, Yoga aktif dalam dunia pergerakan melalui KAMMI Banten dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta beberapa organisasi mahasiswa lainnya.

Meski studinya tidak linear dengan aktivitas saat ini, tetapi bagi Yoga hal itu tidak menjadi masalah. Apalagi, kata Sarjana Teknik Informatika ini, aktivitas politik sudah lama ia tekuni saat masih di kampus.

"Secara prinsip sih sama dengan di kampus, bedanya kalau kampus ruang lingkupnya terbatas sedangkan di partai politik lebih luas," kata pria yang sedang menyelesaikan studi S2 di Universitas Sulatan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini.


Gaet Milineal, Dekati Lapisan Bawah
Mengingat pemilihan anggota parlemen melibatkan semua lapisan, Yoga pun melakukan berbagai macam variasi strategi untuk meraup suara.

Selain menggaet pemilih milineal, Yoga juga mendekat kalangan lapisan bawah mulai dari petani, pedagang, pelaku usaha termasuk sejumlah tokoh di Kecamatan Taktakan.

Bagi ayah dengan empat anak ini, generasi milineal merupakan pemilih potensial dan sedang menjadi rebutan semua partai politik. Namun demikian, pemilih lapisan bawah pun tidak bisa dibiarkan karena memiliki potensi juga untuk mendulang suara.

"Semua kita rangkul, semua kita dekati dan semua kita ajak. Darimanapun dan dari profesi apa pun karena mereka juga memiliki hak yang sama," kata suami Tri Wulandari ini. (WCR/KNT)


Tidak ada komentar

Silahkan komentar dengan bahasa yang santun, Dan jika ada komentar yang berurusan dengan hukum menjadi tanggungjawab sendiri.

Diberdayakan oleh Blogger.