Header Ads

Ketika SBY "Dituakan" Prabowo Subianto


Pada pidato kenegaraan Prabowo Subianto kemarin, Anda akan melihat picture sosok Susilo Bambang Yudhoyono tampil ke panggung dan mendapat perlakuan khusus dari Prabowo - Sandi.

Sebagai orang dari suku Jawa saya sangat mengerti mengapa Prabowo memberikan tempat istimewa kepada SBY. Kalau belajar adat Jawa masalah unggah ungguh itu menjadi penting, bahkan lebih penting dari konteks substansinya.

Jangan heran ketika Anda berbicara dengan orang Jawa dan ingin melakukan perbincangan substansial, tetapi tidak memerhatikan estetika maka kemungkinan besar gagal.

Dalam tradisi orang Jawa, jangankan penghargaan atau "menuakan" seseorang yang dianggap lebih tua, lebih tua dalam artian bisa usia, ilmu atau status sosial maka kita harus menuatakan mereka.

Kita tak bisa menyalahkan budaya ini karena memang adatnya seperti itu. Urusan estetika memang menjadi hal penting dalam budaya Jawa. Jangankan soal sikap, sekadar memanggil kepada orang yang "dituakan" pun harus ada estetikanya.

Saya masih ingat dulu waktu kecil, ketika dipanggil orangtua lalu saya jawab "Apa" pasti dimarahain karena itu dianggap tidak sopan. Lalu kata apa yang pas ketika saya dipanggil oleh orangtua, saya harus menjawab "Dalem".

Atau ketika saya menanyakan rumah seorang kepada orang yang lebih tua dengan kata "umahnya Si Fulan ning ndi ya" maka orangtua itu pasti akan menunjukan muka masam karena dianggap tidak sopan dengan tutur katanya tersebut. Saya harus menanyakan dengan kalimat Kromo Halus atau paling tidak kromo inggil. "Griyonipun Pak Fulan Ten Pundi Nggih," itu yang tepat ketika saya menanyakan kepada orang yang lebih tua.

Atau ketika dipanggil orang yang lebih tua lalu kita jawab "Iya" pun dianggap tidak sopan. Yang sopan adalah kata Iya harus saya ganti dengan "Nggih".

Bahkan ketika saya sekolah dulu, saya harus menuntun sepeda saat hendak masuk ke gerbang sekolah. Jika sepeda masih dinaiki saat masuk ke sekolah maka saya akan kena hukuman oleh para guru.

Begitupun dalam hubungan adik kakak. Seorang adik dalam tradisi orang Jawa harus menghormati betul - betul kakaknya. Bagi adik laki - laki dan punya kakak perempuan maka dia harus menjaga kaka perempuannya.

Saat kunjunganpun adik harus yang mendatangi ke rumah kaka jika ada keperluan penting. Maka jangan heran Prabowo berulangkali mendatangi ke kediaman SBY. Dia tahu tentang adat Jawa, dimana orang seperti SBY pasti ingin dituakan.

Bukan hanya SBY, siapapun orang jawa itu pasti akan melakukan hal sama dengan SBY dan jika orang yang mengerti budaya Jawa pasti akan melakukan apa yang dilakukan Prabowo.

Dalam konten pidatonya, Prabowo pun menyebut dan memberikan penghargaan tinggi kepada SBY sebagai mentor, senior dan guru bagi dirinya. Jelas konten ini akan disenangi SBY karena Prabowo menuakan dirinya. Hal seperti ini penting bagi sosok SBY yang merupakan keturunan Jawa dan sangat menempatkan etika menjadi bagian penting.

Psikologi personal ini sangat dipahami Prabowo dengan picture ketika Pidato Kenegaraannya kemarin. Bagaimana Prabowo mengajak SBY ke atas panggung, bagaimana Prabowo mempersilahkan SBY untuk berada di tengah dan jalan lebih dulu. Itu adalah estetika Jawa yang sudah menjadi karakter dari leluhur.

Seseorang yang lebih muda harus mendahulukan orang yang dituakan. Jika main jalan saja maka itu dianggap tidak sopan, itulah adat di Jawa.

Tak heran belakangan ini hubungan SBY dan Prabowo semakin mesra, karena Prabowo menuakan SBY, sehingga SBY pun mengaggap Prabowo sebagai adik yang siap menerima masukannya.

Salam,
Karnoto

Tidak ada komentar

Silahkan komentar dengan bahasa yang santun, Dan jika ada komentar yang berurusan dengan hukum menjadi tanggungjawab sendiri.

Diberdayakan oleh Blogger.