Header Ads

Mahfud MD Bikin Kecewa Soal Basis Prabowo Islam Keras



BANTENPERSPEKTIF.COM, JAKARTA - Belakangan ini beranda twitter Mahfud MD mendapat kritikan dari berbagai kalangan, gara - garanya anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasla (BPIP) mengeluarkan statement yang dinilai merusak kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR)..

Dalam sebuah wawancara di TVOne Mahfud MD mengatakan bahwa daerah yang memenangkan Prabowo - Sandi merupakan daerah yang memiliki alira Islam keras. Hal ini menimbulkan kekecewaan dan kritik tajam kepada Mahfud MD di twitter.

Bahkan Dahnil Anzar, Juru Bicara Prabowo Sandi pun tak ketinggalan memberikan kritik kepada Mahfud MD yang dinilai berbahaya dalam menjaga keutuhan NKRI. Tak hanya statment Mahfud MD soal Islam keras, dalam video tersebut Mahfud MD juga menunjukan kecondongannya kepada Jokowi - Ma'ruf.

Sejumlah netizen pun mengaitkan statement Mahfud MD dengan posisinya sebagai anggota Dewan Pengarah BPIP yang sempat ramai beberapa waktu lalu terkait gaji anggotanya yang mencapai Rp 100 juta padahal kerjaanya tidak jelas.

Refrizal, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta agar Mahfud MD menaha diri bicara kontra produktif  "Bagusnya bicara yang ngademinlah," tulisnya. Aktivis Muhammadiah, Mustofa Nahrawijaya pun tak ketinggalan. Ia menulis status sindiran yang ditujukan kepada Mahfud MD.

"Andai Jabar menang Jokowi, apakah Mahfud MD juga masih bilang disana tempatnya Islam keras? Namun saya bersyukur karena basis Prabowo masih Islam, bukan basis PKI," tulisnya.

Karni Ilyas Meluruskan Mahfud MD
Sementara itu, Karni Ilyas meluruskan statement Mahfud MD dalam twitternya tentang sejarah sejumlah pemberontakan, mulai dari DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, PRRI di Sumatera Barat dan DI TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Atas twits Mahfud MD tersebut, Karni Ilyas, Host Indonesia Lawyers Club TVOne mengoreksi tulisan tersebut. PRRI atau Permesta bukan pemberontakan dengan ideologi Agama . "Pemimpin perlawanan Kolonel Simbolon (Medan) , Letkol A Husen (Padang), Letkol Ismail Lengah (Riau), Koloner Kawilarang dan Letkol V Samual (Sulawesi Utara) tidak ada hubungannya dengan garis keras. (KNT)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.