Header Ads

Catatan Mahasiswa Banten Saat Ramadhan di Rusia


Ramadhan 2019 menjadi pengalaman pertama saya di negeri orang, jauh dan jauh banget. Tepatnya di Kota Moskow, Rusia. Sejak masuk ke kampus di Universitas Ekonomi Plekhanov Rusia beberapa bulan lalu saya sudah merasakan hal berbeda dari segala hal. Saya sendiri saat ini akan melanjutkan Master Manajemen Internasional Bisnis selama dua tahun di Moskow. Dan tahun 2019 ini merupakan kali pertama saya menjalani puasa Ramadhan di Rusia, tepatnya di Kota Moskow.

Di Moscow, waktu puasa dimulai pada 02.28 dini hari. Dan berbuka puasa pada 20.17 waktu Moskow. Sedangkan untuk Sahur pada jam 01:30 dini hari, ini tentu pengalaman pertama saya dengan situasi yang berbeda jauh di Indonesia. Hal ini membuat saya terjaga semalaman.

Diawali dengan masak sendiri di dapur asrama. Kompor listrik yang saya gunakan tidak seperti kompor gas yang ada di Indonesia, sangat lambat dan memakan waktu lama. Dan sengaja saya makan mepet waktu Subuh agar memanfaatkan waktu untuk menghemat jam berpuasa.

Berbicara soal waktu, ketika sudah berada di Moscow, zona waktu otomatis berubah dan perubahan ini harus diiringi dengan pola hidup. Ketika di Indonesia, saya bisa tidur malam dan bangun untuk Sahur, tetapi di Moskow saya tidak bisa lakukan itu karena waktu berbuka dan sahur singkat.

Pola tidur saya adalah tidur setelah Shalat Subuh, memang bukan waktu yang terbaik untuk tidur, tapi saya juga harus mengistirahatkan badan saya karena pada pukul 08.30  harus menghadiri kelas. Saya beruntung punya teman muslim di kelas saya, kita semua saling mengerti puasa di negara orang sangat berat, bahkan ada teman muslim saya yang terlambat masuk kelas karena kesulitan mengatur waktunya.

Pada hari itu kelas berjalan seperti biasa dimulai 08:30, namun ketika sudah berjalan 2 jam, energi terasa habis dan mulai tidak konsentrasi. Dengan energi yang tersisa saya ikuti pelajaran Bahasa Rusia sampai 13:30.

Selepas itu, saya memanfaatkan waktu untuk istirahat, Sholat Dzuhur dan tidur sampai jam 6 lalu Sholat Ashar dan bersiap pergi ke Kedutaan Besar Republic Indonesia di Rusia yang tidak jauh dari метро новокузнецкая (dibaca: metro novokuznetskaya).

Tantangan puasa terbesar di Moskow, Rusia adalah menjaga pandangan. Di ibu kota beruang merah ini masyarakatnya selalu menyesuaikan pakaian berdasarkan iklim dan cuaca, hari pertama Ramadhan memang  tidak terlalu dingin dan panas diangka 21 derajat selsius. Bagi masyarakat keturunan asli Rusia menganggap cuaca itu hangat dan medekati panas, oleh karena itu mereka memakai pakaian yang agak terbuka.

Baca Juga:
Cerita Faiz, Pelajar Asal Banten Ramadhan di Turki
Erdogan; Masjid Adalah Jantung Umat Islam
Rakyat Rusia Rayakan Kemenangan di Bulan Ramadhan

Seperti mendengar bisikan, lihat tuh mana ada di Indonesia, awas mubazir, dilain sisi bisikan yang lain berbunyi istighfar dan jangan melihatnya. Lalu seakan bimbang saya iyakan keduanya, melihat penampakan yang indah “Russian Girl” sambil berkata Subhanallah lalu memalingkan pandangan seraya berkata Astaghfirullah.

Pemandangan itu sudah biasa ada di taman-taman di Moskow. Di moskow, taman itu ada banyak sekali, oleh karena itu godaan di Moskow ini sangat banyak. Di luar метро новокузнецкая ada taman indah yang dijadikan tempat ngumpul-ngumpul, foto dan juga bersantai. Saya sempat berhenti sejenak  untuk melihat pemandangan sekejap mata lalu melanjutkan Istighfar disepanjang 3-5  menit menuju KBRI.

Di KBRI saya bertemu teman-teman Indonesia dan berbuka puasa bersama disana. Sebelum acara berbuka puasa, kita melantunkan surat Yasin dan mengirim doa bagi saudara kita, teman kita yang bapaknya telah meninggal dunia. Saya berbuka dengan makanan Indonesia, seperti kolek, kue dan gorengan lalu dilanjut Solat Maghrib dan makan berat dengan menu Indonesia seperti nasi, telur, gado-gado dan semur daging.

Di malam kedua itu saya Taraweh di KBRI Moskow. Saya berharap bisa Taraweh sepanjang malam bulan Ramadhan dengan lancar. Hari-hari berikutnya saya berharap bisa berbuka di Masjid Rusia salah satunya мемориальная мечеть и проспекть мира мечеть (dibaca: memorialnaya mecet dan prospekt mipa).

Penyesalan saya pada hari pertama bulan Ramadhan ini adalah melewatkan target membaca Al Qur'an. saya ingin hari berikutnya dan seterusnya saya bisa melakukannya dengan lebih baik. Semoga allah SWT, menjaga saya dari segala keburukan yang menghampiri saya, oleh karena itu semoga bisa sukses segera di moskow dan beristri. Itulah harapan saya di hari pertama puasa di bulan Ramadhan di Rusia.

Penulis
Muhammad Fida Azmi
*Mahasiswa Asal Kota Serang, Banten yang studi di Rusia.



Diberdayakan oleh Blogger.