Header Ads

Cerita Faiz, Pelajar Asal Banten Ramadhan di Turki


Ramadhan tahun ini (2019-red)  saya menjalani di sebuah negeri yang penuh sejarah, kaya akan budaya nan jauh dari tanah kelahiran saya di Kota Serang, Propinsi Banten.

Yah, Puasa Ramadhan tahun ini saya di Turki untuk mengais serpihan ilmu di negeri yang sekarang lagi menjadi perbincangan dunia karena kemajuannya.

Saya tidak sendiri, melainkan ada banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang studi di Turki.

Saya sendiri studi di Fatih Sultan Mehmet Imam International Imam Hatip Hight School (Setingkat SLTA) di Istanbul, Turki.

Jujur, ditahun pertama kemarin, saya agak khawatir ketika Ramadhan datang. Karena di Turki kita mulai puasa jam 04.00 dan mengakhiri jam 20.15. 

Awalnya ada rasa takut bakalan tidak bisa nahan, ternyata Allah memudahkan dan melancarkan kewajiban ini.

Disini saya tinggal di asrama bersama teman yang lainnya. Mereka dari  63 negara termasuk saya sendiri dari Indonesia. Jadi di Istanbul, Turki saya juga bisa mempelajari tradisi bulan Ramadhan teman teman dari negara lain. 

Sahur dan Iftar disiapkan oleh pegawai dapur asrama. Tentu ada perbedaan ketika berpuasa di negeri dua benua ini. 

Hal yang paling saya sayangkan adalah tidak adanya takjil. Jadi kebanyakan orang orang Turki setelah mengidangi sedikit makanan pembuka mereka langsung menghidangi corba (semacam soup) dan makanan besar.

Baca Juga:
Catatan Mahasiswa Banten Ramadhan di Rusia
Untungnya setiap hari Sabtu Konsultan Jendral Indonesia di Turki membuat acara buka puasa bersama. 

Acara dimulai dengan Tahsinul Qiraah (perbaikan bacaan quran), Tausiyah dan langsung dilanjut buka dengan makanan khas Indonesia. 

Pertemuan ini menjadi momentum penting buat menambah relasi antara masyarakat Istanbul.

Turki adalah negara yang kental dengan Keislaman dan karena saya tinggal di Istanbul yang merupakan pusat kota Turki jadi lebih mudah untuk menjangkau sejumlah tempat bersejarah. Tak hanya itu, asrama saya juga deket dengan tempat turistik.

Ini menjadi keberuntungan sekaligus tantangan karena di Istanbul banyak turis yang datang, efeknya adalah banyak restoran yang buka pada siang hari. 

Namun menjadi perasaan berbeda di malam harinya, karena banyak masjid di Istanbul yang melaksanakan Sholat Tarawih dengan menghkatamin Quran. Tidak tanggung - tanggung dalam semalam mereka bisa mengkhatamkan Al Qur'an sebanyak satu juz.

Penulis
Jaisy Muhammad Faiz
*Pelajar Turki Asal Kota Serang, Propinsi Banten
*Alumni SDIT Al-Izzah, Alumni SMP Darul Qur'an Mulia Bogor


Diberdayakan oleh Blogger.