Header Ads

Kutip Ayat Al Qur'an, Ahli Tata Negara Sindir People Power




BANTENPERSPEKTIF.COM, JAKARTA - Irman Putra Sidin, Ahli Tata Negara menjelaskan perihal isu people power dan kebebasan berpendapat dalam bernegara. Uniknya, ia menggunakan sebuah ayat Al Qur;an yaitu Surat Al -Asr.

Penjelasan Irman tersebut diutarakan melalui video dan diapresiasi sejumlah netizen karena tak hanya menyetir sebuah ayat dalam Al Qur'an, tetapi juga mampu mengkorelasikan ayat tersebut dengan kebebasan berpendapat yang dianut dalam tata negara di Indonesia.

Menurut Irman, dahsyatnya ayat tersebut adalah menjadi pioner tentang kebebasan berpendapat dan sistem pembatasan kekuasaan, bukan saja di Indonesia tetapi juga dunia. "Dahsyatnya ayat ini telah memengaruhi pertumbuhan kemerdekaan dan kebebasan hak berpendapat manusia di dunia," kata Irman.

Dikatakan Irman, apa yang tertera dalam ayat Qur;an tersebut juga diatur dalam UUD 1945 yang menjadi anutan Indonesia dalam mengelola negara. Kata Irman, UUD 45 sampai tiga kali mengulang perihal kebebasan berpendapat warga negara.


"Pertama ada UUD 45 Pasal 28 yang dibuat oleh BUPKI, kemudian ada diulang lagi pada perubahan kedua dalam Pasal 28e UUD 45 ayat 2 dan 3. Bukan hanya disitu, Reformasi 1998 juga diulas yang memberikan seluas luasnya kepada kebebasan mengeluarkan pendapat di muka umum," kata Irman.

Ditambahkan Irman, UUD tersebut tidak mempersulit warga negara dan tidak perlu izin tetapi cukup memberikan pemberitahuan. "Bukan untuk memata-matai pendapat warga negara, tetapi untuk keamanan dan ketertiban dalam pelaksanaan tersebut," katanya.

Bahkan, kata dia, UUD 45 ini akan menggolongkan kejahatan bagi siapa saja yang menghalangi dan merintangi hak warga negara untuk berpendapat. "Inilah kekuatan rakyat, inilah daulat rakyat, inilah yang disebut poeple power," katanya.

Video Irman tersebut diunggah oleh akun twitter KaKDul yang ditag kepada sejumlah elit nasional, diantaranya pimpinan DPR RI yaitu Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Fahira Idris (Anggota DPD RI). Sebetulnya tak hanya kali ini saja Irman menyetir sebuah ayat dalam Al Quran dengan ketatanegaraan Indonesia.

Beberapa waktu lalu, ia juga menyetir Doa saat memberikan komentar terkait puisi Neno Warisman saat acara Munajat di Monas, Jakarta beberapa waktu lalu. Oleh pendukung Jokowi, puisi Neno tersebut dinilai provokatif padahal menurut Irman doa Neno tersebut berulangkali disebutkan dalam undang - undang dasar 45 dan tidak menjadi masalah bahkan harusnya mendapat apresiasi. (DBS/KNT)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.