Header Ads

Public Relation, Brand dan Branding


Bagi Anda yang pernah studi Marketing Communicaton Advertising (MarComm)  pasti akan menemukan dua hal ini, yaitu humas (PR) dan branding. Meski tidak secara dalam tetapi substansinya akan kita dapatkan saat studi ilmu tersebut.

Humas atau PR dalam teori MarComm merupakan salah satu bauran pemasaran selain Media Planning, Advertising, Selling. Orang sering salah paham antara marketing dan sales. Padahal keduanya berbeda, jika marketing adalah posisi dimana orang membuat konsep bagaimana agar visi perusahaan atau brand produk selaras dengan aktivasinya, sementara sales hanya berfungsi menjual.

Ada pula yang masih keliru menafsirkan antara brand dan branding. Brand atau merek, sedangkan merek menurut Philip Kotler, Pakar Marketing Dunia mengatakan bahwa merek adalah logo, simbol, nama termasuk personality yang melekat pada seseorang itupun masuk dalam kategori merek.

Sementara branding adalah aktivitasnya atau proses untuk memperkuat brand. Jadi, kalau brand adalah merek maka untuk memperkuat brand atau merek tersebut dilakukanlah prosesnya yang disebut dengan branding.

Begitupun tentang Humas (PR) dengan branding, sebagian besar mengira bahwa tugas utama seorang PR adalah melakukan branding padahal PR hanyalah salah satu bagian dari aktivasi branding. Membebankan branding pada seorang PR jelas tidak akan mampu karena ada variabel lain yang harus saling terkoneksi, inilah teori yang disebut dengan Integrated Marketing Communication (IMC).

Jadi, suatu komunikasi pemasaran yang terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir. Dalam sebuah partai politik komunikasi pemasaran ini dimulai dari kebijakan partai, lalu diterjemahkan oleh seorang MarComm untuk membuat konsep aktivasi branding partai politik.

Dan salah satu turunannya dilakukan oleh public relation, bagiamana membangun hubungan dengan media, membuat press release termasuk mengamati gelombang isu yang terjadi untuk kemudian difikirkan untuk menetralisir isu negatif atau mempush aktivitas positif  dalam bentuk siaran pers, tidak lebih dari itu.

Sementara branding sendiri adalah aktivitas penguatan sebuah merek atau brand, dalam politik maka brand itu bisa berwujud partai politik dan personality politisi itu sendiri. Oleh karena aktivasi branding adalah satu kesatuan maka semua tools yang terkait branding harus selaras, mulai dari pos PR, event, direct selling, media planning dan advertising. Nanti akan saya urai satu persatu bagaimana integrasi semua tools tersebut sehingga bisa memperkuat brand.

Paling penting adalah jangan sampai kebijakan atas atau top leader ke kanan lalu diterjemahkan ke kiri, jelas tidak akan menemui titik penguatan brand yang menjadi tujuan utama sebuah proses branding. Itulah mengapa dalam perusahaan biasanya ada momentum satu tahun, misalkan tahun ekspansi, tahun merawat ataupun tahun peningkatan penjualan.

Saya berfikir dalam brand politikpun tidak jauh berbeda, hanya beda jenis produknya. Sering saya katakan bahwa brand sebuah produk akan memengaruhi aktivasi brandingnya. Umumnya, brand produk akan dikirimkan ke publik melalui tagline, itu ruh sebuah brand.

Penulis,
Karnoto
Founder Maharti Networking, Mantan Jurnalis Radar Banten (Jawa Pos Group)
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.