Header Ads

Humas dan Karakter Media Mainstream


Dalam dunia bisnis kita mengenal karakter konsumen, dalam pendidikan kita mengenal karakter anak maka dalam dunia public relation kita pun harus mengenali karakter media sebagai partner terdekat seorang public relation.

Saya tidak akan membahas teori pembagian media sebagaimana mahasiswa pada jurusan komunikasi dapatkan di kampus, tetapi ingin masuk dan menyelam lebih dalam tentang bagaimana karakter media sehingga diharapkan bisa menjadi salah satu instrumen agar bisa mengembingi need dan want media, tetapi sisi lain juga mampu mengelola opini secara cerdas.

Untuk itu saya ingin menuliskan lebih awal tentang karakter media secara umum. Pertama adalah kontroversial, inilah yang bagi sebagian orang muak, tetapi inilah salah satu karakter media yang paling kuat.Jika ada informasi biasa saja, maka itu bukan disebut berita melainkan sekadar kabar atau informasi.

Tetapi jika informasi itu mengandung kontroversi maka itulah yang sering disebut - sebut dengan berita. Persoalannya kemudian muncul bagi orang yang tidak menyukai hal - hal kontroversi karena ingin hidup lebih tenang, kira - kira itulah alasan utama para pembenci berita kontroversi.

Karakter kedua adalah Bad News is Good News, artinya kabar buruk adalah berita baik. Karakter kedua ini masih berkaitan dengan karakter pertama yaitu kontroversi. Saking menariknya ada media televisi dan cetak membuat acara dan kolom khusus dengan label kontroversi.

Mulai dari perselingkungan, perceraian, penangkapan, pembunuhan, korupsi dan hal - hal buruk lainnya. Jangan heran kalau Anda penikmat berita pasti akan disuguhi berita - berita di atas setiap hari bahkan setiap menit oleh media yang terkadang membuat kita berfikiran apakah dunia sudah sejahat itu, apakah tidak ada lagi humanisme dalam kehidupan saat ini dan rentetan pertanyaan lainya. Uniknya, sebagian orang justru menikmati kontroversi tersebut meskipun membuat kepala senut - senut dan terkadang kalau sering dikonsumsi diyakini bisa membawa mainstream seseorang dalam kehidupan sehari - hari.

Mereka yang hobi menikmati berita gosip maka secara tidak sadar akan menjadi tukang gosip dalam kehidupan sehari - harinya, bahkan konon ada sebagian kejahatan justru karena terinspirasi oleh berita - berita kriminal. Sangat mengerikan! Ini menjangkau bagi sebagian orang yang tidak mampu mencerna informasi secara mendalam bahwa ada berita di balik berita.

Dua karakter inilah yang harus dipahami oleh para praktisi public relation atau humas. Bukan untuk menikmati kontroversi, tetapi supaya mengerti karakter media sehingga bisa berselancar tanpa harus tenggalam mengikuti karakter tersebut.

Sebab suka atau tidak, ada sebagian orang yang menikmati berita kontroversi dan  menjadikan berita kontroversi sebagai menu lezat untuk dikonsumsi setiap hari, mulai dari pagi sampai ketemu pagi lagi.Yang repot adalah bagi mereka yang tidak menyukai hal - hal kontroversi, tetapi satu sisi mereka harus mau melototi berita tersebut, apalagi ada konten yang menyerempet dengan diri kita atau organisasi dimana kita beraktivitas. Disinilah kemampuan praktisi humas diuji untuk berselancar di tengah gelombang berita kontroversi.

Berita kontroversi begitu padat, sesak dan mengerikannya sudah masuk ke dalam wilayah privasi kita, seperti tak ada ruang untuk menghindar. Kalau saya meminta Anda menyebutkan berita kontroversi pasti akan mudah dijawab, karena setiap hari memang tayang, setiap deitk tanpak berseliweran di media onlin dan setiap saat terdengar di radio - radio, bukan hanya radio news melainkan radio hiburanpun nyaring terdengan soal berita kontroversi.

Melawan karakter kontroversi media rasa - rasanya tidak akan bisa, mengingat hal itu menjadi karakter paling kuat bagi media, baik cetak, elektronik terlebih media televisi. Ada beberapa hal yang bisa dlakukan agar bisa berselancar di tengah gelombang berita kontroversi.

Pertama, jangan langsung mengambil kesimupulan sebelum mengikuti runing news yang dikabarkan media. Semakin buru - buru mengambil kesimpulan maka hampir dipastikan akan pun akan larut dalam kontroversi tersebut. Amati sejauhmana perkembangan berita kontroversi tersebut setiap saat, bisa melalui media online, televisi maupun cetak.

Kedua, buatla catatan khusus sebagai bahan untuk merespon berita kontroversi tersebut supaya tidak salah langkah dan menjadi persoalan baru. Ingat, media itu seperti jarum suntik, demikian kata ahli komunikasi. Ketika Anda membaca berita maka pada hakikatnya Anda sedang disuntik tidak terasa.

Dari catatan yang Anda buat maka akan diketahi, mana konten berita yang perlu disikapi dan mana yang tidak perl disikapi. Jadi, bagi Anda praktisi humas mesti jeli membaca situasi dengan memahami karakter media. Untuk itu, lakukanlah pengamatan dengan jeli.

Meski dua karakter media di atas membuat ngeri - ngeri sedap dan sering membuat sport jantung, tetapi kabar baiknya adalah belakangan media mulai menyadari ada titik jenuh para penikmat media dengan mainstream tersebut. Belakangan muncul konten yang menyegarkan, fresh dan bergizi yaitu dengan kehadiran inspiring news.

Tentang tema ini akan saya ulas pada tulisan berikutnya sehingga diharapkan bisa menjadi gizi dan vitamin penikmat media agar fikirannya tidak budek seperti limbah cair karena disuntik dengan zat beracun melalui berita kontroversi.

Tema Humas dan Media kali ini memang sengaja saya tulis lebih fokus pada karakter media sebagai pemantik khususnya para praktisi humas yang masih polos dengan harapan bisa menjadi bahan dasar dalam meracik citra, meramu opini tanpa harus membohongi publik. Inilah yang terpenting bagi para praktisi humas agar menjadi humas profetik, bukan humas yang berlumuran "dosa" karena sering melakukan maksiat opini.

Ketika mengerti karakter media maka bisa mengira - ngira bagaimana membuat press release ataupun opini publik yang ada kontroversial tetapi terukur dan tidak membahayakan bagi masa depan diri Anda dan organisasi ataupun perusahaan.

Racikan citra yang Anda buat sebagai praktisi humas akan lebih lezat, renyah dan gurih ketika Anda mengenal dan memahami karakter media tanpa terjebak ke dalam lubang dusta.Dan menurut saya dua karakter media tersebut merupakan hal mendasar yang mesti diketahui para praktisi humas. Ibarat masakan, dua karakter media tersebut adalah bahan dasar untuk kemudian diolah menjadi sajian yang menggoda, tanpa harus membuat kesal orang tetapi masih memiliki value, baik untuk media maupun publik.

Penulis,
Karnoto
Penulis Buku Speak Brand, Founder Maharti Networking
Mantan Jurnalis Radar Banten (Jawa Pos Group)
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana, Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.