Header Ads

Public Relation dan Literasi Politik


Salah satu tugas utama seorang public relation politik adalah memberikan literasi politik kepada masyarakat. Jika dunia perbankan begitu getolnya mensosialisasikan literasi finansial maka sejatinya praktisi PR politik lebih getol melakukan literasi politik.

Kita ketahui bersama dalam dunia perbankan mereka sedang masif memberikan literasi finansial kepada para pelaku UMKM agar mereka bisa membaca kebutuhan modal, mengerti konsep pinjaman dan siklus keuangan dalam bisnis.

Maka dalam politik seorang PR harus melakukan literasi tentang politik, apa itu sebenarnya politik, mengapa kita harus berpolitik dan bagaiamana cara kita berpolitik. Ini penting di tengah kondisi transaksionalnya teknis politik selama ini.

Kita patut bersyukur karena sejak Pilkada DKI Jakarta beberapa tahun silam, literasi politik berjalan meski secara alamiah dengan ditandainya kesadaran kolektif middle class khususnya middle class muslim tentang politik. Fakta ini menjadi berkah bagi para praktisi PR karena tugasnya diringankan oleh kesadaran kolektif mereka.

Literasi politik tak sekadar mengulas arti an sih tentang politik, tetapi harus lebih dalam khususnya efek multiplayernya terhadap masyarakat. Jadi tidak sekadar menjelaskan arti politik menurut para ahli, tetapi harus lebih dalam lagi, misalkan bagaimana efek politik terhadap kesejahteraan masyarakat, seperti apa dampak politik terhadap hubungan sosial dan bagaimana koneksitas antara politik dengan budaya.

Visualisasi yang terang saat melakukan literasi politik akan memengaruhi mainstream masyarakat, terutama kalangan menengah dan terdidik. Apalagi praktisi PR yang melakukan misi mulia ini akan "bertarung" dengan mereka yang sengaja membelokan makna politik menjadi transaksional.

Pertempurannya memang tidak terlihat tapi dampaknya bisa dirasakan. Salah satu kegagalan era reformasi selama ini adalah perihal literasi politik karena hanya berkutat pada literasi teoritis, seperti arti politik an sih, tanpa mengupas lebih dalam sehingga isinya tidak begitu terlihat jelas.

BACA JUGA:
Mau Branding, Lakukan Tiga Hal ini
Jasa Konsultan Branding

Sementara kemampuan mengunyah sebagian masyarakat masih dibawah rata - rata sehingga jaraknya terlalu lebar antara teoritis dengan realitas. Kondisi saat ini di tengah ekonomi yang belum stabil memengaruhi kemampuan gigi graham publik untuk mengunyah menu teoritis tentang politik.

Mereka akan lebih sreg dengan sajian literasi politik yang sudah diracik sedemikian rupa agar lebih mudah dicerna. Literasi dan buku - buku yang ada saaat ini lebih banyak memberikan sajian menu yang masih mentah dan masyarakat dipaksa mengunyah dan mengolah sendiri padahal memiliki kemampuan yang terbatas.

Disinilah sebenarnya on mission seorang praktisi PR. Mereka harus memiliki kemampuan meracik bahan mentah tentang teori politik menjadi sajiah menu yang lezat dan mudah dicerna dalam bentuk literasi sehingga tidak perlu mengerutkan dahi untuk mencernanya. Beban masyarakat sudah terlalu berat untuk mencerna rangkaian peristiwa maka kalau harus ditambah dengan sajian menu politik yang masih mentah mereka sudah kelelahan.

Literasi politik seorang praktisi PR harus mampu membaca psikologi masyarakat, harus menembus behavior masyarakat dan tak kalah penting mengerti perasaan mereka sehingga literasi yang kita suguhkan bisa sesuai kadar mereka dan efeknya pesan yang ingin kita sampaikan dalam literasi politik akan mudah dikunyah dan tidak mengganggu pencernaan berfikir.

Penulis,
Karnoto
Penulis Buku Speak Brand, Mantan Jurnalis Jawa Pos Group
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana, Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.