Header Ads

Meledakkan Semangat Partisipasi Politik Milenial



Demokrasi negara ditentukan oleh tingginya partisipasi masyarakat dalam dinamika politik negara. Hasil partisipasi politik berupa rendahnya jumlah pemilih, minimnya kepercayaan publik terhadap lembagayang merepresentasikan demokrasi, serta kurangnya kepercayaan terhadap politikus dan partai politik menjadi keresahan berbagai pihak, terutama orang yang berkecimpung politik (Ekman & Amna, 2012).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat zaman sekarang kurang berminat dalam partisipasi politik, terlebih perilaku masyarakat menunjukkan cenderung menolak untuk aktif menggerakkan dinamikapolitik negara (Skocpol & Fiorina, 1999).

Partisipasi politik sendiri secara harfiah diartikan sebagaitindakan seorang anggota masyarakat untuk mempengaruhi atau mendukung pemerintahan dan politik. Partisipasi politik juga menurut Milbrath et al bisa dipahami sebagai kegiatan individu untuk mempengaruhi pilihan politik di sistem politik yang dilakukan secara sukarela (Milbrath, Goel 1977, 2; Kaase, Marsch 1979, 42).

Artinya, partisipasi politik merupakan tindakan seseorang dalam dinamika politik yang dapat mempengaruhi keputusan politik. Demikian, keikutsertaan seseorang dalam politik berguna untuk memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri, pemerintahan, dan juga negara.

Partisipasi politik secara umum dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu partisipasi politik secara formal dan partisipasi politik secara informal. Partisipasi politik formal biasanya diidentikkan dengan kegiatan yang merepresentasikan demokrasinegara, misalnya adalah pemilihan umum.

Sejak dahulu kala, pemilihan umum dipandang sebagai cara terbaik yang dimiliki masyarakat agar suara mereka terdengar dalam sistem perpolitikan. Negara Amerika Serikat bahkan menjadikan pemilihan umum sebagai alat untuk mengukur partisipasi politik masyarakat.(Ekman & Amna, 2012)Sedangkan partisipasi politik informal merupakan bentuk partisipasi yang sering ditafsirkan sebagai aktivitas yang dilakukan individu dengan berhubungan elite politik.

Masyarakat biasanya membuat tulisan untuk politikus atau pelayan masyarakat dalam rangkan mempengaruhi agenda politik dan hasil dari keputusan politik.Berbagai bentuk partisipasi politik yang dilakukan oleh masyarakat tidak terbatas hanya pada golongan tertentu saja.

Lebih tepatnya, orang-orang dari berbagai jenjang usia dapat aktif mengikuti dinamika politik. Walau demikian, tiap jenjang usia memiliki ciri khas partisipasi politik yang berbeda-beda (Quintelier, 2007).

Dewasa ini, timbul pertanyaan terkait partisipai politik kaum milenial yang dirasamasih sangat minim. Hingga para milenial disebut-sebut sebagai kaum yang partisipasi politiknya masih sangat sedikit.

Hal ini dikarenakan kaum milenial memiliki sikap yang kurang tertarik dengan politik, malahan cenderung negatif.Seperti kata Plato tentang milenial atau pemuda bahwa, “Anak muda sekarang mencintai kekayaan, mereka berperilaku kurang baik, menghina otoritas, tidak menghormati orang yang lebih tua dan gosip di tempat yang tidak semestinya.

Sekarang anak muda bak raja kejam di rumahnya sendiri. Mereka bukanlah orang yang membantu urusan rumah. Anak muda melawan orang tua mereka, dan perilaku keji lainnya”.Apalagi kata bijak terdahulu mengatakan bahwa kaum milenial ialah golongan yangtidak peduli, egois, berbeda, terasingkan, dan tidak tertarik dalam hal yang bersangkut paut dengan politik(Quintelier, 2007).

Argumen ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa kaum milenial memiliki skor terendah untuk segala kegiatan politik.Penelitian yang dilakukan oleh Quinteliermenunjukkan bahwa sikap milenial tentang politik yakni mereka tidak terlalu memikirkan politik, pengetahuan politik yang kurang, tidak ikut kegiatan sosial dan politik, apatis dan sikap lainnya.

Berbeda dengan kaum berusia tua yang memperlihatkan antusiasme yang tinggi dalam kegiatan politik. Partisipasi politik masyarakat yang minim dikarenakan efek dari siklus kehidupan seseorang, dimanaseiring bertambahnya usia orang baru mendapatkanpengalaman di elektoral dan proses politik.

Tentu perihal ini menjadi kewajaran, karena milenial tidak cukup sibuk behubungan dengan politik.Lester Milbrath mengatakan bahwa partisipasi politik masyarakat meningkat seiringnya bertambah usia individu dan mencapai puncaknya ketika individu berumur 40tahun dan 50 tahun.

Namun di usia 60 tahun ketertarikan terhadap politik sudah tidak ada.Pola ini juga berlaku untuk semua jenis kelamin, baik itu perempuan maupun laki-laki.Jarak yang hadir antara kaum milenial dan kaum tua disebabkan oleh dua hal.
Alasan pertama, kaum milenial hanya memiliki sedikit alasan untuk ikut serta dalam kegiatan politik dikarenakan mereka belum memiliki rumah, mempunyai anak, atau alasan lainnya yang memotivasi kaum milenial untuk aktif dalam kegiatan politik.

Alasan kedua, kaum milenial cenderung lebih menyukai kegiatan partisipasi politik yang lebih kekinian seperti aksi, boykot, menandatangani petisi, dan kegiatan lainnya.

Kegiatan partisipasi politik seperti pemilihan umum atau menjadi anggota partai sudah hal yang usang bagi kaum milenial. Henn et al. menemukan bahwa alasan kaum milenial tidak turut serta dalam kegiatan partisipasi politik disebabkan oleh kegagalan politikus dalam menggali masalah yang berkaitan dengan keresahan anak muda.

Lebih dari itu, kaum milenial memandang politikussebagai pihak yang susah digapai, tidak dapat dipercaya, dan hanya peduli pada diri sendiri. Sehingga dari sinilah kaum milenial merasa dirinya tidak didengar dan dapat mempengaruhi keputusan politikus(al, n.d.).

Hematnya, terdapat alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi minimnya partisipasi politik kaum milenial. Cara yang digunakan bisa merujuk dari argumentasi Bendor, Diermeier, danTing (2003) and Fowler (2006) yang mengatakan bahwa keputusan individu untuk berpartisipasi pada pemilihan umum berikutnya tergantung dari dampak dari pemilihan umum sebelumnya.

Rujukan lainnya, dapat mengacu pada teori Meredith yang mengatakan bahwa pemilih milenial yang memiliki persyaratan berusia 18 tahunberesiko memiliki kebiasaan golongan putih (golput) dibandingkan mereka yang syarat menjadi pemilih milenial pada usia 21 tahun (Meredith, 2006).

Rujukan terakhir mengacu pada teori ilmuwan politik yang menyadari pentingnya pengalaman politik di usia yang sangat muda guna membentuk perilaku politik. Plutzer mengatakan bahwa pengalaman milenial dalam memilih pertama kali mempunyai efek jangka panjang dalam membentuk orientasi politik. Sehingga perilaku memilih adalah kebiasaan yang didapatkan (Plautzer, 2002).

Maka seiring bertambahnya usia, peluang pemilih milenial untuk golput berkurang. Artinya, semangat partisipasi politik milenial dapat diledakkan dengan membantu pembentukan perilaku partisipasi politikdi usia yang sesuai. Pembentukan perilaku partisipasi politik bisa dimulai saat pemilih milenial berusia 21 tahun sehingga akan terbentuk orientasi politik jangka panjang dan orientasi tersebut berbuah menjadi kebiasaan dalam berpartisipasi politik.

Senjata yang bisa dipakai untuk memompa semangat kaum milenial dalam berpartisipasi adalah dengan membuat kegiatan partisipasi politik yang disukai kaum milenial (aksi, boykot, petisi online, dll) yang kedepannya akan mempengaruhi agenda politik dan dampak politik.

Karena, walau aksi bukanlah kegiatan partisipasi politik yang formal, namun kegiatan ini dapat menjadi representasi demokrasi yang banyak membutuhkan suara mahasiswa dalam menggemakan negara kerakyatan. (*)

Penulis, Habibah Auni
Mahasiswi Universitas Gadjah Mada Asal Kota Tangerang Selatan
Diberdayakan oleh Blogger.