Header Ads

Memaknai Ulang Kata Radikalisme Supaya Tidak Gagal Paham


Akhir-akhir ini Indonesia diributkan oleh masalah yang menahun di negeri ini. Radikalisme acap kalinya diucapkan. Wajar bila radikalisme sekali lagi menggema di masyarakat, sebab sebelumnya menteri agama (menag) melakukan pelarangan cadar karena cadar identik dengan radikalisme. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhirnya menyebutkan radikalisme sebagai ‘manipulator agama’ sebagai upaya mencegah penyebaran radikalisme (Setyawan, 2019).

Pelabelan radikalisme sebagai ‘manipulator agama’ mengundang pendapat pro-kontra. Di satu sisi, istilah radikalisme yang baru ini bisa memunculkan semangat untuk memerangi radikalisme. Namun di sisi lainnya, istilah ‘manipulator agama’ mampu membumikan radikalisme karena masih dalam konteks persepsi.

Bias pendapat mengenai istilah radikalisme menandakan bahwa diksi radikalisme masihlah simpang siur. Sehingga radikalisme perlu dimaknai ulang agar tidak terjadi perbedaan pandangan terhadap radikalisme.

Radikalisme berasal dari bahasa Latin radix yang berarti "akar“ (Laisa, 2014). Sedangkan menurut (Bittner, 1963), radikalisme ialah sebuah filosofi perubahan sosial yang bertujuan untuk menghancurkan apa yang tidak disukai, menggantikannya dengan agama atau keyakinan. Radikalisme sendiri tidak harus bermakna menggantikan sesuatu yang lama dengan yang baru, perubahan atau penghancuran status quo pun bisa disebut sebagai paham radikalisme.

Radikalisme dapat diibaratkan pisau bermata dua. Secara positif, radikalisme membawa spirit menuju perubahan ke arah lebih baik. Perubahan ini dilakukan dengan niat perbaikan atau pembaharuan. Dengan demikian radikalisme bukanlah sesuatu yang ekstrimis dan penuh kekerasan. Namun sisi negatifnya, radikalisme akan menjadi malapetaka jika dipraktikkan melampaui batas dan keterlaluan apabila dilakukan dengan paksaan.

Berdasarkan studi-studi yang mempelajari tentang gerakan radikal, masih banyak peneliti yang menganggap pemaknaan ulang terhadap doktrin radikal bukan hal yang penting. Padahal selama belum disepakati istilah yang jelas tentang radikalisme dan koridor pemaknaan radikalisme masihlah rancu. Kegagalan untuk memahami apa yang disebut radikalisme secara ekstrim akan membuat kita berputar-putar terlalu lama dalam pusaran istilah radikalisme.

Apa yang perlu dititikberatkan adalah jangan sampai radikalisme menjadi metanarasi oligarki dalam melanggengkan kekuasaannya. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud dengan meta ialah keseluruhan. Maka metanarasi menurut Lyotard (1986) adalah cerita yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya yang valid (Nurcahyono, 2009).

Metanarasi sangat berguna bagi penguasa untuk menjaga persatuan, harmoni, dan solidaritas negara. Akan tetapi, narasi berakibat pada kekuasaan yang tidak seimbang. Penguasa semakin kuat memegang narasi, sedangkan masyarakat semakin minim akal akan fakta.

Metanarasi ‘radikalisme’ disebut berulang-ulang dengan pola yang sama, dimana radikalisme selalu disamakan dengan ‘pemecah belah bangsa’. Frasa ini dibumikan berulang-ulang sehingga rakyat percaya begitu saja metanarasi penguasa yakni orasi, propaganda media, dan bahan bacaan lainnya tanpa terpikirkan untuk mengkritisi apa itu radikalisme.

Untungnya, kita akhirnya mengetahui bahwa metanarasi radikalisme yang sering digaungkan penguasa bertujuan untuk melegitimasi kedudukan mereka dalam upayanya menghegemoni rakyat. Jika rakyat sudah tunduk dengan ‘manipulator agama’, penguasa sudah membuktikan bahwa dirinya memang tepat berkuasa.

Selain itu, metanarasi radikalisme bisa saja digunakan penguasa untuk mendefinisi ulang secara terus-menerut mengenai posisi mereka di masyarakat. Sehingga setelahnya, penguasa dapat mentransformasi relasi kekuasaan di struktur masyarakat yang kerap kali dilupakan.
Namun tidak menutup kemunkinan akan munculnya resistansi dari sekelompok orang yang merasa dirugikan dengan metanarasi radikalisme. Sehingga relasi kekuasaan yang menguatkan penguasa sebagai pihak yang mendominasi lama-kelamaan akan meredup.

Maka dari itu, penting sekali untuk mengetahui batasan dan koridor teori tentang radikalisme. Karena ketika sudah berhasil memaknai radikalisme, masyarakat tidak akan mudah termakan dengan metanarasi penguasa terkait radikalisme. Masyarakat kemudian akan memiliki nilai pemahaman atas radikalisme dan tidak akan mudah terjerumus dengan istilah radikalisme yang simpang siur.

Penulis,
Habibah Auni, Mahasiswa UGM Asal Kota Tangerang Selatan


Diberdayakan oleh Blogger.