Header Ads

Reuni Alumni 212 Dalam Perspektif Jurnalis


Sudah ke empat kalinya, Jakarta diwarnai dengan Agenda Akbar Berkumpulnya Umat Islam Indonesia dan Dunia yang berbekal semangat Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Sesama Umat Muslim).

Kegiatan yang rencananya akan di gagas sebagai Aksi Rutin Tahunan ini memang merupakan sebuah Peringatan Berkumpulnya Jutaan Umat Muslim karena memperjuangkan semangat Jihad Bela Quran, karena adanya peristiwa "penistaan agama Islam", yang berakibat di vonisnya Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok selama beberapa tahun kurungan penjara.

Perihal mobilisasi umat untuk berkumpul, disampaikan berdasar biaya masing masing dari berbagai daerah menuju titik Monas Jakarta. Ritual ibadah dan berbagai ceramah Agama serta himbauan politis muncul dan disampaikan oleh para ulama dan tokoh nasional dengan berbagai motifnya.

Namun umat melihat, hal tersebut selayaknya umara  dan ulama (Pemimpin Agama berkumpul dan bersatu dalam sinergitas semangat mengkampanyekan Persatuan Indonesia dalam bingkai semangat keislaman.

Hal ini membawa efek positif bagi pribadi masing masing Umat. Bahkan ada sebagian Umat yang menganggap bahwa mengikuti pertemuan Akbar 212 adalah sebuah langkah jihad fi Sabilillah, yang hampir sama dengan ibadah umroh.

Kalau kita teliti sesuai dengan paradigma Indonesia yang berdasar Pancasila, maka akan kita jumpai berbagai kristalisasi kekuatan umat agama agama di Indonesia yang secara rutin terjadi di Indonesia.

Umat Agama Buddha, setiap tahun berkumpul di Candi Borbudur dalam jumlah Ribuan Umat untuk memperingati Waisak Nasional. Umat Hindu setiap tahun berkumpul dan beramai ramai datang ke Pulau Dewata untuk merayakan Galungan dengan begitu semarak dan penuh dengan nilai nilai kegiatan spiritual, bahkan saat ini sudah menjadi satu momentum destinasi event wisata yang cukup mendunia.

Umat Nasrani, secara terpusat juga berkumpul puluhan ribu Umat Nasrani dalam rangka Natal Bersama, dengan serangkaian liputan live dari berbagai media yang terpusat dari Katedral. Dan juga, Umat Tionghoa yang memeluk Agama Tao dan Konghucu, juga setiap tahun mereka berkumpul ribuan umat untuk menggelar IMLEK Bersama.

Demikian pula,kita sebagai bangsa yang sadar akan pluralitas dan kemajemukan, sudah sangat wajar melihat betapa antusiasnya Umat Islam Indonesia untuk berkumpul secara bersama sama, dalam satu semangat persatuan dalam bingkai REUNI AKBAR 212.

Sehingga, polemik berpandangan miring terhadap aksi tersebut, sudah seyogyanya dihilangkan.
Karena jelas, dari ke empat aksi Reuni 212tersebut, semuanya tetap menjunjung tinggi nilai nilai Pancasila di dalamnya.

Reuni 212 yang bersamaan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, dikombinasikan dengan penuh hikmat dengan memulai kegiatan dari Shollat Subuh Berjamaah sampai dengan mulainya Sambutan Sambutan yang tetap berawal dengan Manyanyikan Lagu Indonesia Raya.
Ini bukti bahwa Aksi 212 adalah relevan dengan nilai nilai Pancasila.

Berbagai tanggapan miring dan opini publik yang cenderung menggembosi , sesungguhnya hanya bersifat untuk melakukan antisipasi pengamanan dan keamanan. Hal ini karena kekhawatiran dari pihak pihak penanggungjawab Kamtibmas yang menyadari bahwa rasio pengamanan tidak mampu tercukupi jika dibandingkan dengan Umat yang Hadir.

Dilain pihak, Para Ulama sudah menegaskan bahwa Monas dipilih karena merupakan simbol Ibukota Negara yang dipandang mampu sebagai mercusuar amar Maruf nahi munkar untuk seluruh masyarakat dunia,bahwa di Indonesia merupakan Basis Kekuatan Umat Muslim terbesar di Dunia yang Tetap Bersatu dan berdaulat atas Negara Republik Indonesia.

Penulis:
Sekjen DPP AWDI (Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia)
Diberdayakan oleh Blogger.