Header Ads

Amerika Serikat-Libya: Kaisar Dunia vs Perampok Kecil

Rate this News:
{[['']]}

Baru saja penulis membaca buku yang menarik tentang konflik libya. Karya M. Riza Shibudi dkk, Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah (1993) berhasil mengambil perspektif yang unik mengenai hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Libya. Termaktub di karya ini sebuah ilustrasi sang kaisar dan sang perampok, yang cocok dengan kondisi AS-Libya selama ini.

Suatu hari, seorang perompak tertangkap oleh Raja Iskandar Agung. Kemudian terjadilah percakapan di antara keduanya. “Mengapa kamu berani mengacau lautan?”, tanya Iskandar Agung. “Mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia? Karena aku yang melakukannya, kalian sebut aku maling; kalau kalian yang melakukannya, dipuja kalian sebagai Sang Kaisar”, jawab sang perompak.

Bukan sebuah rahasia umum lagi apabila sering terdengar bahwa AS selalu menganggap dirinya “tinggi”. Suci layaknya pendeta, arif bagaikan ulama, dan cerdas laiknya ilmuwan. Ketika ketiga kemampuan tersebut disatu padukan, terciptalah seorang Kaisar. Maha karya Sang Pencipta yang level kesempurnaannya mendekati dewa. Begitulah mindset sepanjang hayat yang dipunyai oleh negara adidaya tersebut. Sebagai sesosok yang selalu mengelu-elukan bahwa dirinya adalah pahlawan dunia.

Lucunya, Sang Kaisar yang katanya pro-demokrasi, malah melanggar apa yang dimiliki oleh negara lain. Lihat saja Libya! Urusan negaranya selalu dicampuri oleh kepentingan pihak AS dan sekutu Barat. Libya sepanjang sejarahnya, abadi dilemahkan oleh mereka-mereka yang ingin berkuasa. 

Dahulu pada 1989, AS menggunakan DK-PBB untuk menjatuhkan sanksi dan embargo kepada Libya. Dalih yang digunakan oleh Negeri Paman Sam ini ialah Libya bertanggung jawab atas meledaknya dua pesawat penumpang sipil AS. Menurut AS, aktor di balik kasus tersebut adalah dua terorisme yang berasal dari Libya. Tentu saja Pimpinan tertinggi Libya, Muammar Qaddafi, menolak tudingan itu dan enggan menyerahkan dua tersangka pelaku teror. 

Akibat “kebangkangan” Qaddafi, AS mulai murka dan mengecam negara Timur Tengah itu. Setelahnya, Libya dicap negatif dengan sebutan teroris atau sapaan akrab lainnya. Tindakan AS ini sama persis dengan hikayat Sang Perompak, dimana “pembelaan” yang dilakukan Libya selalu dipandang negatif.

Mumpung Libya dianggap lumpur di dunia, mantan orang nomor satu AS, George W. Bush, mengambil kesempatan sebagai “sisipan program kampanye”. Seperti yang diketahui, menjelang pemilu November 1992, popularitas Bush jauh di bawah rivalnya dari sesama Partai Republik, Pat Buchanan. Untuk meningkatkan elektabilitasnya, Bush mulai mencari “musuh bersama AS”. 
Karena kemenangannya melawan Irak pada 1991 terbukti berhasil menaikkan popularitasnya, Bush memutuskan untuk menggunakan cara yang sama untuk kesekian kalinya. Caranya adalah dengan membabat habis Libya via PBB.

Nampaknya Trump juga akan menggunakan cara yang sama dengan Bush, yakni menggelorakan semangat untuk menumpas Timur Tengah. Hal ini wajar dilakukan oleh Trump sebab AS akan dihadapi oleh pemilu. Presiden AS yang kebijakannya selalu menimbulkan kontroversial ini, diprediksi bakal mencari berbagai metode untuk mengatrol elektabilitasnya. Apalagi, setengah warga AS dikabarkan tidak ingin melihat wajah Trump lagi di Gedung Putih.

Di sisi lain, pemerintahan Libya yang sekarang di-back up Turki sangat mengancam AS dan Israel. Mengutip opini yang dikemukakan Freud Bezhan dalam tulisannya yang berjudul U.S. Vacuum: How Libya is Descending Into a Russia –Turkey Proxy War (2020), Turki dan pemerintahan Libya telah menandatangani kerja sama maritim pada November 2019.

Di dalam perjanjian Turki-pemerintahan Libya tercatat bahwa Turki akan diberikan hak pengeboran dan pemipaan menuju Libya dengan batas Laut Mediterania di antara keduanya. Libya, yang sepanjang garis pantainya mengendalikan cadangan minyak sebanyak 1,3 juta barel per hari, tentu mengusik kepentingan AS dan Israel. Jumlah yang sukses menempatkan Libya sebagai penghasil minyak terbanyak kesembilan di dunia.

Bagi AS, kepentingannya untuk menguasai seluruh minyak di Timur Tengah, akan terganggu dengan langkah yang diambil oleh Turki. Akan tetapi, apa yang ditakutkan oleh AS adalah ketika saudara lamanya marah besar. Sebab mimpi besar Israel untuk mengekspansikan dirinya di negara Arab akan digagalkan oleh Erdogan. 

Walaupun Erdogan dan partai AKP-nya yang ikhwanul muslimin sangat moderat dengan Barat, tetap saja batang hidungnya harus selalu diwaspadai. Trump yang sangat pro dengan AS dan Israel tentu berhati-hati dalam menyikapi Turki. Karena AS sudah kadung membela pemerintahan Libya dalam perang saudara melawan oposisinya yakni LNA. Maka mau tidak mau, AS terpaksa menampakkan dirinya sebagai “orang yang baik”, membela pemerintahan Libya namun diam-diam membela LNA. 

Di samping itu, kita juga tidak dapat melupakan tindakan AS untuk terus bersaing dengan Islam. Merujuk karya Danial Darwis dalam jurnalnya yang berjudul Kerangka Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Terhadap Timur Tengah Pasca Arab Spring (2015), Amerika Serikat pasca perang dingin senantiasa mencari musuh baru guna menguji coba kekuasaan. Mereka memilih islam sebagai lawan baru setelah komunisme Unit Soviet dengan slogan, “Ancaman Hijau menggantikan ancaman Merah”.

Meskipun AS mengalami transisi sikap terhadap Libya, dari yang awalnya “sangat mengintervensi” menjadi “mengamati”, tetap saja AS beranggapan bahwa Libya harus terus dilemahkan. Terlihat sangat jelas dalam konflik ini AS menggunakan double standard. 

Fakta menunjukkan AS mendukung pemerintahan Libya namun sekutunya seperti Arab Saudi menyokong LNA. Drama perang antara pemerintahan Libya berhaluan ikhwanul muslimin melawan LNA yang salafi garis keras, merupakan desain negara Libya yang diharapkan AS. AS yang dengan cerdasnya mengetahui bahwa salafi menentang keras demokrasi, sengaja menyulut perang saudara di Libya. 

Di sini kita melihat AS menang tanpa harus turun langsung. Kesimpulannya, perang tidak akan terhenti selama pihak luar terus mengintervensi Libya. Skenario perang saudara akan selalu dijalankan AS. Siapapun pemimpinnya, AS dengan nafas demokrasinya bakal abadi melawan islam yang menurutnya tidak mengedepankan kebebasan individu. Pada akhirnya, Sang Kaisar tidak akan puas selagi belum menguasai seluruh dunia. Karena di tengah perjalanan, Sang Kaisar diganggu oleh keberadaan Sang Perampok.

Penulis Habibah Auni
Mahasiswa S1 Program Studi Teknik Fisika Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Baca Juga

Diberdayakan oleh Blogger.