Header Ads

Islam Bicara Guru Honorer


Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bersama Kementerian PAN-RB dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) sepakat menghapus tenaga honorer dari organisasi kepegawaian pemerintah. Hal itu merupakan kesepakatan saat ketiga lembaga negara itu melakukan rapat kerja (raker) mengenai persiapan pelaksanaan seleksi CPNS periode 2019-2020 di Komisi II DPR RI, Jakarta Selatan.

Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo menceritakan anggaran pemerintah pusat terbebani dengan kehadiran tenaga honorer. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi status pegawai honorer yang bekerja di instansi pemerintah. Sebab berdasarkan pasal 6 Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), yang bekerja di instansi pemerintah hanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Kesepakatan tersebut sangat menyakiti hati para guru honorer. Bahkan semua orang yang masih punya hati nurani pasti turut merasakannya. Guru adalah pekerjaan mulia yang dari tangannya tercipta dokter, polisi, tentara, presiden dan profesi lainnya. Banyak kesulitan yang dihadapi guru di Indonesia.

Pertama, guru harus pusing bergelut dengan buku ajar untuk menyesuaikan dengan kurikulum yang terus berganti, karena sepertinya kurikulum di Indonesia bukan berbasis nilai mendidik dan menyiapkan generasi cermerlang namun berbasis proyek dan komersil untuk memasarkan buku ajar baru.

Kedua, guru harus melapangkan dada lebih luas lagi untuk menghadapi murid yang bukan hanya bermacam karakter tetapi harus menghadapi kemerosotan moral dan akhlak yang terjadi pada kebanyakan anak usia sekolah. Belum lagi, guru harus menahan sikap dan perlakuan terhadap murid agar orangtua murid tidak melaporkannya ke polisi. Heran, guru yang mendidik putera dan puteri mereka dan guru pula yang mereka penjarakan.

Namun, kerja keras untuk menghadapi berbagai kesulitan tersebut tidak dibalas dengan gaji yang sebanding. Terlebih lagi guru honorer yang hanya kisaran Rp300 ribu per bulan atau hanya 12 ribu per hari dirasa tidak manusiawi. Untuk biaya transportasi saja mungkin tak cukup, bagaimana untuk makan dan kebutuhan hidup lainnya? Bahkan, sekolah sering kali terlambat memberi gaji yang minim tersebut.

Saat ini terdapat sekitar 438.590 tenaga honorer di lingkungan pemerintahan. Tenaga honorer yang banyak ini, alih-alih mendapat perhatian dari pemerintah justru malah dianggap sebagai beban. Bukan hanya itu saja, gaji guru honorer yang sebelumnya diambil dari dana BOS, rencananya untuk ke depan tidak berlaku lagi.  Hal ini akan berdampak pada pemberhentian tenaga kerja honorer dan tidak akan ada perekrutan lagi.

Di dalam Islam, posisi semua guru adalah pegawai negara. Rekrutmen pegawai negara dalam Islam tidak mengenal istilah honorer, semua guru dimuliakan dalam sistem islam karena perannya yang begitu penting dan strategis. Pegawai negara akan direkrut sesuai dengan kebutuhan riil negara untuk menjalankan semua pekerjaan administratif dan pelayanan. Semua akan digaji dengan akad ijarah dengan gaji yang layak sesuai dengan jenis pekerjaan.

Khalifah Umar bin khaththab pada masa pemerintahannya menggaji setiap guru yang mengajar sebesar 15 dinar. Satu dinar setara 4,25 gram emas atau setara 31 juta rupiah pada masa sekarang. Kesejahteraan guru pada masa khulafaur-rasyidin jelas nyata dan terjamin. Pembiayaan pendidikan termasuk gaji guru akan dianggarkan pemerintah melalui penerapan sistem ekonomi islam sesuai syariat.

Tugas guru masa itu juga lebih ringan karena tidak dibingungkan dengan kurikulum. Tsaqofah Islam merupakan asas bagi kurikulum pendidikan dengan sistem thariqoh fidarsi yaitu murid mempelajari tsaqofah sampai taraf yakin lalu mengamalkannya.  Adapun urutan tsaqofah utama yang dipelajari yaitu, anak usia TK dan SD mempelajari aqidah, nafsiyah (pola sikap) dan aqliyah (pola pikir) islamiyah sehingga terbentuk syaksiyah islamiyah (kepribadian islami).

Jika kepribadian islami telah melekat pada diri setiap murid maka ia akan senantiasa memuliakan gurunya. Pada usia SMP, murid akan diajarkan ilmu lingkungan dimana ia tinggal. Sehingga ia bisa menjalankan tugasnya menjadi khalifah di muka bumi seperti firman Allah pada Q.S. Al Baqarah ayat 30 yang artinya:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Pada usia SMA, guru menyampaikan ilmu pra nikah untuk mempersiapkan murid perempuan menjadi seorang istri dan ibu yang sholehah serta murid laki-laki menjadi suami dan ayah yang sholeh. Islam adalah satu-satunya solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan termasuk masalah guru honorer.

Dengan penerapan sistem pendidikan islam, maka masalah kemerosotan moral dan akhlak generasi bangsa pun bisa teratasi. Umat islam tidak akan menjadi umat terbaik kecuali dengan cara Rasulullah dulu memperbaiki. Yakinkan, dengan penerapan Islam secara kaffah, kemuliaan guru akan terpancar serta akan menghasilkan umat yang terbaik. Wallahu a’lam bishshawwab.

Penulis : Ayatullah Chumaini
Aktivis dan Pemerhati Lingkungan )
Powered by Blogger.