Header Ads

Corona Menguji Mental Pengusaha

Rate this News:
{[['']]}
Ilustrasi Foto.MaliboroNews

Pandemi Corona menjadi laboratorium pelaku usaha, apakah mampu bertahan atau menyerah dengan keadaan. Pilihannya jelas tak ada lain kecuali bertahan dan optimisme.
~ Karnoto ~

Sebenarnya bagi para pelaku usaha menghadapi masalah itu jadi menu sehari - hari. Hanya saja perbedaanya dengan sekarang kita dihadapkan pada persoalan yang sama yaitu efek dari pandemi. Tidak mudah memang untuk bisa bertahan dengan cuaca buruk seperti sekarang ini.

Semua pengusaha mengalami goncangan bahkan ada yang sampai terkapar tidak berdaya. Tapi tidak sedikit pengusaha yang mampu bertahan bahkan mereka seperti mendapatkan tantangan baru.

Dan bukankah salah satu mental pengusaha itu menyukai tantangan? Dalam sebuah perbincangan dengan beberapa pelaku usaha saya bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya mental pengusaha Indonesia mulai teruji.

Kita harus tetap bergerak dan Alhamdulillah ada saja yang closing," kata Lilis Komariah, pengusaha properti kepada saya. Hebatnya lagi, dia justru ingin beranjak berdiri dan berlari ditengah hiruk pikuk pandemi. Menurut saya ini mental pengusaha beneran bukan kaleng - kaleng.

Saya diminta untuk memberikan stimulus soal digital marketing olehnya. Untuk dia sendiri dan karyawannya karena dia akan memulai marketing era baru yaitu digital marketing. Jadi, bukan saja dia mampu beranjak dan berdiri namun juga bisa menangkap signal dari situasi seperti sekarang ini sehingga bisa melakukan penyesuaian strategi.

Dari sini saya tahu mengapa dia sukses menjadi pengusaha properti, bukan saja tingkat lokal tetapi dikenal di luar Banten. Produk apartemen yang ia bangun sebelum pandemi harus tetap dipasarkan kendati ada pandemi. Kalau bukan karena optimisme sulit rasanya untuk berfikir bagaimana bisa menjual apartemen ditengah situasi ekonomi serba sulit seperti sekarang ini.

Situasi sekarang kalau diibaratkan seperti berlayar ditengah laut tetapi ditengah perjalanan ada angin kencang dan gelombang yang lumayan tinggi. Pilihannya adalah terus bergerak karena kalau memilih diam maka risiko matinya akan lebih cepat dan tragis.

Ini pula yang dilakukan produk siap saji branded, dimana mereka mulai nongkrong di pinggir jalan yang selama ini hanya disinggahi para pelaku usaha kecil. Produk asal Amerika Serikat ini menggelar lapak dengan gerobak di pinggir jalan dan memasifkan startegi digital marketingnya.

Ada pula sektor ritel yang kemudian mengubah konsep layanan dengan delivery order. Sebenarnya sih selama ini mereka melakukan hal ini hanya saja sifatnya strategi tambahan sebagai penunjang, namun dengan adanya pandemi strategi ini justru menjadi strategi utama mereka.

Kalau perusahaan besar, branded yang risiko kerugiannya cukup besar saja optimis mengapa kita pelakua usaha mikro tidak optimisme.

Seperti kata pepatah bahwa optimisme itu setengah dari keberhasilan, sisanya yaitu ulet, pantang menyerah dan pelayanan. Sisanya ini sebenarnya akan tertutupi dengan optimisme. Ketika optimis maka efeknya adalah memperbaiki pelayanan dan memperbaiki strategi.

Dan hikmahnya lagi adalah kalau kita mampu bertahan diera pandemi bahkan mampu berlari maka andaikan nanti situasi normal kembali akan terasa enteng menghadapinya. Logikanya kalau kalau keadaan sulit seperti pandemi saja bisa, pasti dalam kondisi normal akan terasa lebih mudah..

Jadi , Just Do It..!


Baca Juga

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.