Header Ads

Budaya Organisasi dan Perubahannya di Era New Normal

Rate this News:
{[['']]}
Foto Ilustrasi/Okezone


Budaya organisasi sebagai sistem yang menembus nilai-niai, keyakinan, dan norma yang ada disetiap organisasi (Nimran, 2004). Secara sederhananya organisasi berisi kumpulan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Pada prinsipnya, setiap organisasi memiliki budayanya masing-masing yang menjadi karakter atau ciri khas organisasi tersebut.

Mendefinisikan budaya organisasi tentu akan erat kaitannya dengan kondisi atau lingkungan organisasi, dimana organisasi itu berada. Pasalnya pengaruh dari lingkungan akan sangat berdampak dalam menciptakan budaya organisasi. Pengaturan personalianya pun demikian, yang memudahkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui alokasi fungsi dan tanggung jawab.

Sudah hampir 3 bulan lamanya, sejak pertama kali diumumkan kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia. Sampai saat ini masyarakat telah terbiasa dengan melakukan segalanya dari rumah. Oleh karena itu, perubahan ini lebih popular disebut “Era New Normal” dengan munculnya kebiasaan baru di tengah masyarakat.

Belakangan seluruh elemen mendadak mengalami perubahan drastis. Aktivitas yang biasanya dilakukan diluar ruangan kini menjadi terbatas didalam ruangan. Hal ini pun, pada akhirnya mempengaruhi berbagai aspek. Baik itu dari segi ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan lainnya. Termasuk dalam hal ini budaya organisasi.

Sayangnya, sebagian organisasi masih mempertahankan budaya lamanya. Masih banyak yang belum menerapkan bahwa budaya organisasi tidaklah sekaku itu, yang selalu terus menerus harus di lestarikan. Organisasi akan maju jika memang pegaturan organisasinya dilakukan secara fleksibel mengikuti corak perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai luhur yang sudah ada.

Namun, kondisi semacam ini perlu dipahami juga oleh seluruh anggota dalam organisasi. Akan sangat fatal jika banyak yang justu acuh tak acuh dengan perubahan yang sudah ada. Perubahan yang kian cepat haruslah direspon secara positif oleh organisasi, sehingga apapun perubahannya tidak membuat organisasi kehilangan budaya yang sudah menjadi ciri khasnya. Jika memang semua anggota telah memahami karakteristik budayanya maka perubahan apapun akan dapat direspon secara bijaksana dan cermat.

Perubahan Budaya Organisasi
Budaya sebagai falsafah, ideologi, nilai-nilai, anggapan, keyakinan, harapan, sikap dan juga norma dimiliki secara bersama dan mengikat oleh setiap organisasi. Aspek budaya organisasi digolongkan menjadi 3 bagian (Schein, 2010), diantaranya:

Pertama, artefak yang berisi berbagai hal yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan ketika dijumpai. Secara garis besar, aspek ini adalah sesuatu yang paling mudah untuk dilihat dan dirasakan. Sebelum wabah Covid-19 datang ke Indonesia yang akhirnya mengubah aktivitas organisasi menjadi #dirumahsaja.

Alhasil semua kegiatan dapat dimaksimalkan dengan metode virtualisasi.
Kedua, keyakinan dan nilai yang dianut merupakan ideals, goals, valuas, aspirations, ideologis, and rationalization (Schein, 2010). Beralihnya aktivitas organisasi ke dunia maya lantas menghilangkan interaksi sosial secara tatap muka. Pada kondisi ini, sejatinya telah merubah nilai sosial yang selama ini dijalankan oleh organisasi.

Ketiga, asumsi dasar yang merupakan asumsi tersirat dan membimbing sebagai haluan organisasi bertindak dan berbagi kepada para anggotanya, dengan mereka melihat, berfikir, dan merasakan. Aspek ini menjadi aspek terkecil dalam menciptakan budaya organisasi.

Pada prinsipnya ada 2 elemen budaya organisasi. Pertama, elemen idealistik yang berupa keyakinan seperti asumsi dasar dan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam berperilaku. Kedua elemen yang bersifat behavioral yang tampak dan mudah diamati sepertihalnya artefak yang berwujud fisik, perilaku, dan verbal.

Usut punya usut, setelah dilanda wabah pandemi Covid-19 ada organisasi yang fakum dan menunda sementara program-programnya. Disisi lain, justru ada juga yang memanfaatkan momen ini sebagai sarana komunikasi virtual agar lebih efektif.

Banyak spekulasi jika era new normal ini menjadi tantangan besar organisasi atau justru peluang yang mestinya dapat dioptimalkan. Harapannya era perubahan budaya organisasi ini dapat direspon secara bijak dan dikembangkan dalam menciptakan budaya tanpa merubah tradisi luhur yang sudah ada.

Penulis,
Indra Gunawan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan juga
Aktivis di Unit Kegiatan Mahasiswa Excellent Academic Community

Baca Juga

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.