PerspektifTV

Header Ads

Mengintip Brand Partai Gelora #BicaraBrand

Doc.Foto/Tempo

Brand sebuah produk (politik) bisa dilihat dari aktivasi branding yang dilakukan partai tersebut, baik melalui komunikasi visual, advertising, event maupun public relationnya.
~ Karnoto ~


Saya tidak tahu apakah Anis Matta pernah belajar Marketing Communication (MarComm) atau tidak, tetapi kalau melihat cara dia mengelola organisasi seperti mengerti betul konsep branding.

Sebab teori branding tidak sesederhana seperti yang sering dikatakan orang, hanya sekadar logo, banner, advertising atau pun komunikasi visual namun lebih dalam dari itu.

Kalau Anda yang konsen dengan MarComm pasti tahu bahwa organ inilah yang sekarang menjadi andalan perusahaan untuk melakukan branding produk.

Perusahaan terkenal tidak ada yang tidak punya orang MarComm, itulah mengapa kampus - kampus sekarang membuka studi khusus jurusan MarComm.

Karena orang MarComm tidak sekadar harus pandai bicara soal marketing, tetapi dia harus punya SDM  grafis, komunikasi visual, SDM yang tahu psikologi warna, psikologi konsumen, psikologi komunikasi, demografis konsumen, psikografis konsumen dan lain - lainnya.

Dari pengamatan saya selama ini baik ketika dia  menjadi Presiden PKS maupun saat ini yaitu sebagai Ketua Umum Partai Gelora, dia seperti memahami betul konsep branding.

Wajar kalau kemudian hal pertama yang ia bawa adalah soal arah dan arah itu ada di brand partai.

Sama halnya seorang kepala daerah, akan berbeda ketika kepala daerah yang mengerti tentang City Branding dengan yang tidak, pasti pembangunannya akan terasa beda.

Hal serupa juga terjadi dalam partai politik, ketika pimpinan partai tidak paham brand partai maka pasti arahnya tidak jelas, karena brand itu menjadi guide gerak sebuah partai politik.

Kembali pada sosok Anis tadi, sedikit saya mengulas ketika ia masih menjadi Presiden PKS agar bisa menjelaskan kepada pembaca terkait dugaan saya kok sepertinya Anis paham betul konsep branding.

Saat menjadi Presiden PKS hal yang kali pertama dilakukan Anis  ketika itu adalah melakukan Re-Branding PKS, yaitu dengan mengubah tagline partai dari Bersih, Peduli dan Profesional menjadi Cinta, Kerja dan Harmoni.

Perlu diingat, mengubah tagline adalah salah satu (ingat hanya salah satu) bagian dari aktivasi branding.

Kalau saya melihat Re-Branding yang dilakukan Anis ketika itu merupakan langkah brilian. Sebab tagline Bersih, Peduli dan Profesional saat itu sudah ternoda dengan adanya kasus Lutfi Hasan.

Andaikan dipertahankan dengan brand itu maka memori publik akan semakin kuat karena dalam tagline itu masih ada kata bersih sementara kasus Lutfi sendiri tentang korupsi.

Re-Branding kemudian diperkuat dengan aktivasi branding Anis melalui aktivasi event, yaitu roadhsow ke seluruh Indonesia.

Dalam teori MarComm (Marketing Communication), event merupakan salah satu aktivasi branding sebuah produk.

Melalui event ini Anis bukan saja bertujuan mensolidkan kader PKS ketika itu, namun sekaligus campaign tentang tagline baru atau lebih tepatnya ingin memberikan pesan bahwa PKS telah melakukan Re-Branding.

Memang pilihan Re-Branding adalah strategi paling tepat ketika sebuah produk sudah mendapaktan sentimen negatif.

Kalau dalam dunia hiburan ada group band Noah (Ariel), dimana  manajemen mereka melakukan Re-Branding dengan mengubah nama dari Peterpen ke Noah.

Andaikan dipaksakan mempertahankan dengan branding lama maka memori publik akan selalu terekam kuat, namun dengan Re-Branding seolah - olah itu adalah band baru meski sebenarnya ini hanyalah strategi semata.

Branding Partai Gelora
Nah, sekarang saya ingin mengintip branding Partai Gelora yang dipimpin Anis Matta saat ini.

Saya ingin masuk langsung kepada aktivasi branding yang dilakukan Partai Gelora atau lebih tepatnya Anis Matta, sebab untuk aktivasi branding lainnya seperti simbol partai, warna partai dan lainnya akan saya ulas pada kesempatan lain.

Karena nanti ketika bicara warna partai akan bicara juga psikologi warna yang didalamnaya memiliki arti sebagaimana disepakati para ahli psikologi warna bukan selera pembuatnya.

Saya menduga Anis sepertinya ingin membranding Partai Gelora sebagai partai tengah, bukan partai yang ke kanan (apalagi kanan mentok) ataupun partai kiri (apalagi kiri mentok).

 Ini tampak jelas dari aktivasi branding Anis melalui public relation yang dilakukan Anis sendiri sebagai nahkoda Partai Gelora.

Dalam sebuah acara di  channel youtube Moh Silah, ketika Anis diberikan pertanyaan siapa yang akan dipilih menjadi Dewan Pembina  Partai Gelora andaikan belum memiliki dan Anis memilih Megawati Soekarnoputeri.

Padahal pilihan yang diajukan pewancara saat itu ada nama Surya Paloh, SBY, tapi Anis memilih Megawati.

Alasan yang diungkapkan Anis adalah Megawati dianggap orang yang tangguh dan tahan banting memimpin partai, dari sejak awal sebagai oposisi hingga saat ini menjadi partai penguasa.

Pada bagian lain, ketika Anis diberi pertanyaan siapa yang akan dipilih menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Gelora, Anis memilih Mardani Ali Sera.

Alasannya, Mardani punya kemampuan ,menjadi penggerak dengan ide - idenya dan pengakuan Anis sendiri itu pengalamannya saat masih di PKS.

Coba Anda dalami cara Anis menjelaskan brand Partai Gelora dengan public relation di atas, satu memilih Megawati dan satunya Mardani.Satu di sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri.

Dari sini saya menangkap bahwa Anis ingin menempatkan Partai Gelora di tengah. Bisa diajak bicara soal nasionalisme oleh Megawati dan bisa diajak bicara tentang isu KeIslaman oleh Mardani.

Sekarang kita masuk ke aktivasi branding lainnya. Kalau tadi aktivasi branding melalui public relation sekarang kita intip aktivasi branding melalui event yang dilakukan Partai Gelora..

Hal serupa juga tampak jelas pada aktivasi branding melalui event. Kalau saya melihat event - event Partai Gelora tidak begitu kental ke nuansa dengan simbol - simbol Islamnya seperti PKS, pun tidak begitu merah seperti halnya PDIP.

Ada pesan kuat disitu bahwa Anis ingin membawa Gelora menjadi partai tengah yang bisa menjadi ruang orang yang selama ini dipersepsikan ke kanan dan orang yang selama ini dipersepsikan ke kiri.

Bahkan event yang akan berlangsung besok (Selasa, 02 Juni 2020) disana tertera nama Adi MS. Publik pasti tahu kemana afiliasi AdiMS saat Pemilu 2019.

Dan kita tahu bahwa simbol sebuah aktivitas partai itu memiliki pesan termasuk kehadiran Adi MS yang menjadi bagian pengisi acara hiburan tersebut.

Lalu terakhir aktivasi branding melalui komunikasi visual Partai Gelora sendiri, dimana tampak jelas ada pesan khusus bahwa Partai Gelora tidak membawa simbol - simbol Agama.

Saya tidak tahu apakah brand Partai Gelora ini sudah dipahami para kadernya dengan totalitas atau masih ada pertanyaan dari mereka.

Tapi pengamatan saya selama ini Anis jago dalam hal komunikasi untuk mendistribusikan knowledge brand partai meski dia sendiri latarbelakangnya orang Syariah.

Memang asaz Gelora sendiri bukan Islam, tetapi sering terjadi antara brand dengan aktivasi brandingnya tidak terkoneksi. Banyak kok organisasi yang tidak match antara brand dengan aktivasi branding yang dilakukan.

Dan Anis  memiliki kemampuan bagaimana melakukan aktivasi branding sehingga match dengan brand partai.

Dia seperti sudah paham betul bahwa tagline, logo, simbol, asas partai tidak akan berarti apa - apa kalau tidak dikoneksikan dengan aktivasi branding yang dilakukan.

Mengakhiri tulisan ini saya ingin menyampaikan begini, andaikan Anis baca tulisan ini terus terang saya ingin membaca jawabannya khusus perihal brand Partai Gelora.

Jawaban Anis sebenarnya bukan hanya untuk saya tetapi untuk kader Partai Gelora sendiri dan publik secara luas.

Sebab dari pemahaman soal brand partai inilah sebuah partai politik akan terarah karena para sales politiknya tahu brand partainya yang akan mereka jual.

Bukankah nanti di lapangan yang akan menjual partai adalah mereka para sales politik?

Bayangkan andaikan para sales ini tidak mengerti dan tidak mampu menjelaskan apalagi meyakinkan calon customer (rakyat-red) brand partainya, padahal itu produk utama yang mereka jual.

Apakah hal ini bisa terjadi? Bisa banget! Karena itu tadi, para sales politik yang mendatangi calon customer tidak paham brand produk yang dijual padahal dari sinilah arahnya.


Penulis,
Karnoto
Penulis Buku Speak Brand |  Founder BantenPerspektif |  Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten) | Mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta | Pernah studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta. 









Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.