PerspektifTV

Header Ads

Begini Cara "Haji" Menekan Angka Pengangguran di Cilegon



Menyusuri kota Cilegon, saya menjumpai sejumlah lapisan masyarakat kota Cilegon. Berdiskusi dan bertukar pikiran dengan mereka, saya merasakan keinginan yang kuat dari masyarakat Cilegon untuk hidup tumbuh melangkah mandiri dan sejahtera. Salah satu keluhan yang sering saya terima adalah tingkat pengangguran yang masih dirasakan tinggi dan terjadi di lapisan masyarakat.

Jika kita lihat Cilegon ini sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa. Ratusan pabrik dan industri berdiri di kota ini, beberapa objek vital penggerak ekonomi seperti pelabuhan, industri KS, pembangkit tenaga uap berada di kota ini.

Pendapatan daerah yang terbilang tinggi. Akan tetapi segenap potensi  tersebut ternyata masih menyisakan keluhan masyarakat. Terutama terkait ketersediaan lapangan pekerjaan yang berakibat pada tingkat pengangguran yang tinggi di kota ini. Tidak ada yang perlu disalahkan atau dijadikan kambing hitam. Namun kita perlu berkaca diri sebagai kota yang telah menginjakan kaki di usia nya yang ke 22 tahun.

Kita melihat proporsi kegiatan ekonomi yang paling banyak menyerap tenaga kerja di kota Cilegon ternyata adalah sektor perdagangan dan UMKM yakni sekitar 33ribu tenaga kerja. Adapun aktivitas industri menyerap sebanyak 29ribu tenaga kerja. 

Selama ini mungkin kebanyakan orang melihat Cilegon sebagai kota Industri, aktivitas perindustrian lah yang mendominasi kegiatan ekonomi. Dari sisi penyerapan tenaga kerja ternyata malah nomor dua.

Kita lihat lebih seksama bahwa  industri yang ada di kota Cilegon ini tergolong industri yang padat modal bukan padat karya. Industri yang lebih memilih teknologi sebagai bagian dari efisiensi proses produksi. Bagi pengusaha atau sisi penyelenggaran industri pilihan ini bisa dikatakan wajar.

Sehingga solusi pengangguran jika fokus pada industri agar menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja merupakan pendapat yang kita tinjau ulang. Apalagi jika serapan yang dilakukan industri tersebut mempersyaratkan dari lokal Cilegon. Agaknya kondisi yang cukup berat bagi pelaku industri.

Perlu kajian mendalam untuk memetakan jenis pengangguran dan peluang ketersediaan lapangan pekerjaan. Dinas kependudukan tentu memiliki data yang lebih akurat sebagai langkah awal dalam menjawabnya dengan program. Sehingga program yang ditetapkan adalah betul-betul jawaban atas pertanyaan yang dihadapi. Program yang efektif. Program yang tepat sasaran.

Saya teringat dengan sebuah perusahaan otomotif terbesar asal Jepang. Toyota. Perusahaan ini memiliki salah satu kunci sukses yang dia pegang teguh yaitu “add value to the organization by developing your people”.

Perusahaan akan semakin sukses dan berkembang jika dia dapat membangun dan menumbuh kembangkan stakeholder, orang-orang disekitar perusahaan itu. Pemilik Toyota dalam sebuah diskusi memaparkan bahwa suku cadang komponen otomotif Toyota justru mengambil dari produksi industri sekitar dengan tetap melakukan pembinaan mutu produk yang menyuplainya.

Walaupun jika mau, Toyota akan dengan mudah memonopoli mata rantai suplai suku cadang tersebut. Akan tetapi pilihan yang diambil berbeda. Sebab pemilik otomotif raksasa ini justru memiliki keyakinan semakin banyak berbagi dengan orang lain, maka akan semakin banyak stakeholder yang menjaga kelangsungan bisnis Toyota, semakin banyak stakeholder yang berharap dan berdoa agar perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang.

Kita mendapatkan gambaran dari kisah Toyota, bahwa mata rantai suplai industri bergerak mengoptimalkan kegiatan ekonomi sekitar. Sehingga penyerapan tenaga kerja juga lebih meningkat dengan industri-industri kecil dan menengah pendukung.

Di sisi yang lain UMKM juga menjadi kunci untuk menekan tingkat pengangguran kota Cilegon. Sebab bagaimanapun UMKM telah terbukti menyerap lebih banyak tenaga kerja. Sehingga fokus pemerintah untuk mengembangkan UMKM juga jangan dianggap sebelah mata dan mendapat support setengah-setengah. Terlebih lagi dengan bonus demografi lahirnya generasi milenial yang super kreatif dengan startup mereka.

Poin strategisnya adalah pemimpin daerah dituntut terus melakukan komunikasi , sinergi dan kolaborasi dengan segenap stakeholder agar penyerapan tenaga kerja meningkat. Ide kreatif, inovasi bisa jadi justru muncul dari pihak luar pemda.

Perlu dukungan seluruh pihak. Dan mindset yang perlu kita pegang, kita tidak menganggap pengangguran ini dalam tanda kutip sebagai sebuah beban, akan tetapi dia merupakan sebuah energi. Sebagaimana kita menganalogikan melihat beratnya air terjun yang akan tumpah.

Semakin besar dan berat beban yang dikandungnya, semakin besar energi potensi yang akan didapat. Saya pribadi yakin tantangan ketenagakerjaan di kota Cilegon ini akan mendapatkan solusi terbaik.

Mohon doa restu dukungan masyarakat Cilegon, pasangan Heldy Agustian – Sanuji Pentamarta (HAJI) untuk insyaAllah siap berkolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat membangun kota Cilegon maju dan berkembang. (Advertorial)

Salam,
Helldy - Sanuji 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.