PerspektifTV

Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian -1] "Tersesat" Menjadi Wartawan


Menjadi seorang jurnalis atau orang kebanyakan menyebutnya wartawan adalah profesi yang tidak pernah terfikirkan atau pun menjadi cita - cita saya sejak kecil. Profesi wartawan boleh dikatakan profesi "tersesat" yang harus dilakoni dalam sejarah hidup saya.

Profesi  wartawan bermula ketika itu masih kuliah semester IV disalah satu kampus swasta di Kota Serang, Provinsi Banten. Ketika itu ada pelatihan jurnalistik di Radar Banten Institute milik koran terbesar di Banten yaitu Radar Banten (Jawa Pos Group).

Tidak disangka, setelah mengikuti pelatihan selama tiga bulan saya masuk 10 besar peserta terbaik sehingga direkrut menjadi wartawan dengan status magang. Ketika itu saya  belum memiliki hasrat menjadi wartawan totalitas karena niatnya mengikuti pelatihan jurnalistik hanya sekadar ingin bisa menulis.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan akhirnya saya menikmati profesi yang tak pernah menjadi cita - cita saya sampai akhirnya benar - benar menjadi seorang Jurnalis dan menjadi karywan organik.

Dari profesi inilah saya mulai memasuki babak baru kehidupan karena saya bertemu dengan banyak orang, mulai dari orang biasa, pimpinan perusahaan hingga pejabat sekelas kepala daerah.

Dari profesi ini pula saya bisa menikmati sesuatu yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya, seperti naik mobil dan bercanda  dengan bupati, makan bareng santai dengan bupati dan para pejabat serta orang - orang penting lainnya.

Tidak hanya itu, dari profesi ini pula ia bisa keliling kesejumlah kota tanpa biaya, semuanya serba gratis, mulai dari tiket pesawat, sewa hotel sampai untuk kebutuhan membeli oleh - oleh. Dan pesawatnya sama dengan yang ditumpangi para pejabat yaitu Garuda Indonesia.

Ada salah satu peristiwa yang membuat saya semangat menjadi jurnalis, yaitu saat menulis feature (berita dengan penulisan sastra) tentang madrasah diniah disalah satu tempat di Kota Serang, Provinsi Banten.

Berkat tulisan saya tersebut seorang donatur memberikan bantuan meja kursi satu truk kepada pengelola madrasah. Ketika itu saya baru merasakan betapa kekuatan tulisan wartawan itu luar biasa. Melalui tulisan wartawan bisa membuat orang marah, kecewa, tergugah, menangis, terharu dan terenyuh.




Sembari menjadi jurnalis saya melanjutkan studi di Universitas Mercu Buana, Jakarta Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising. Saya merasa cocok dengan studi ini dan kampusnya pun nyaman dan namanya di Jakarta pasti ada akselarasi (percepatan) soal pergaulan.

Bagaimana suasana kuliah di kampus ini akan saya ceritakan pada kesempatan lain. Yang pasti saya merasa cocok dengan studi dan kampusnya.

#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.