PerspektifTV

Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian-6] Menjadi Kader NU Cultural



Saya suka gemes membaca komentar perihal bahwa Muslim yang kontemporer, memakai celana ketika shalat, diskusi soal khilafah, cadar dan jubah lalu dikatakan anti apalagi benci NU. Soalnya saya terus terang saja merasa tersinggung, wong saya juga kader NU kok, cuma NU Cultural.

Sejak kecil saya mengaji di ustadz NU, belajar mengaji di ustadz NU, suka jamiahan di kampung juga semuanya orang NU, hadir dalam acara tahlilan, suka pakai peci hitam dan sarung. Tapi juga saya suka dengan diskusi seputar pergerakan Islam, khusus terkait pemikiran kekinian.

Memang saya tidak pernah menjadi pengurus NU sampai sekarang, tapi darah saya sejak kecil dididik oleh kyai dan ustadz NU. Sampai sekarang juga masih menjalin hubungan baik dan menghormati mereka, meski dalam beberapa hal ada perbedaan pendapat, wajar lah !

Saya ingat dulu semasa kecil hidup di kampung, mengaji harus pakai sepeda karena rumah sang ustadz jauh dan guru ngaji saya orang NU banget, karena kampungnya juga basis NU. Makanya kalau setiap pemilu kampung guru saya PDIP tidak pernah menang. Yang menang kalau tidak PPP ya PKB.

Dengan segala hormat dan tidak mengurangi penghormatan sang guru memang ada beberapa kekurangan dulu guru saya saat mengajarkan Agama, seperti tidak diberikan penjelasan asbabul nuzul kenapa ayat yang dibaca turun dan apa hikmahnya. Bukan salah guru saya, mungkin karena beliau juga mengikuti tradisi yang sudah berjalan atau tidak memiliki pengetahuan soal itu, maklum namanya juga ustadz di kampung dan bukan mengaji di pondok pesantren.

Selain itu, tidak pernah juga saya menerima penjelasan detail arti dari surat Yasin yang dulu dibaca setiap malam Jum'at. Belakangan saya baru tahu dari ustadz kekinian seperti Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat bahwa arti surat tersebut luar biasa maknanya.

Jadi, sebenarnya selama ini tidak menjadi persoalan NU atau bukan NU. Saya NU cultural meski bukan NU struktural. Toh, saya bisa hidup berdampingan selama ini dengan teman - teman NU struktural. Kalau saya menduga - duga mengapa konflik lintas ormas Islam sering menganga lebih diakibatkan ulah mereka yang punya niat tidak baik, istilahnya ada udang di balik mirong, eh di balik batu.

#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.