PerspektifTV

Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian-9) Nyaris Drop Out (DO) SMA

Foto bersama teman - teman SMA saat kelas tiga IPS3 di SMA N 1 Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lulusan tahun 1999.


Kelas tiga SMA masa - masa sulit bagi saya karena saat itu orangtua usahanya menyusut akibat krisis moneter dimasa orde baru. Saking salitnya saya nyaris drop out dari SMA.  Beruntung ketika itu Allah SWT masih sayang saya sehingga tetap bertahan hingga akhirnya lulus ditahun 1999 bertepatan dengan peristiwa Trisikati di Jakarta.

Oleh karena saya tipe orang yang tidak gemar menceritakan secara terbuka tentang kondisi pahit yang saya alami maka tidak ada yang tahu. Lagian kalau tahu juga belum tentu bisa bantu karena memang keadaannya ketika itu sedang masa sulit.

Ketika liburan sekolah saya gunakan untuk menjadi kuli di sawah dengan sistem kerja borongan bersama teman sepermainan di kampung. Jadi saat kuli hanya saya yang waktu itu sekolah SMA.

Tapi ketika itu saya tidak mendapatkan bully karena memang pekerja atau tukang kuli waktu itu teman sepermainan saya di kampung. "Yang penting teman sekolah ga ada yang tahu," ha ha ha ha.

Di kampung saya ketika itu memang yang sekolah terbilang sedikit, apalagi waktu SMP cuma saya dan tetangga yang orangtuanya blantik sepeda bekas, itu pun beda sekolah karena saya di SMP N 1 Jatibarang, teman kampung saya di SMP N 2  Jatibarang. Konon SMP N 1 dimasa itu tempat sekolahnya orang - orang berada karena banyak anak mandor pabrik tebu dan anak - anak pengusaha dari warga keturunan china yang sekolah ditempat ini.

Saya tidak tahu tentang  kebenarannya soal ini. Ada juga teman saya tapi dia status sosialnya sebagai orang yang"kaya". Keturunan haji dan keluarga besarnya memang satu - satunya yang punya mobil ketika itu.

Dan semasa SMA sih saya tidak punya prestasi yang menonjol, biasa saja. Hanya saja ketika itu saya yakin naik kelas dan lulus sekolah dengan kalkulasi yang pernah disampaikan salah seorang guru.

Kalkulasinya adalah perhitungkan posisi kita dikelas, artinya kalau dalam satu ruang kelas ada 40 siswa dan kita posisinya pinter juga ga, bodoh juga ga maka katakanlah dipertengahan yaitu 20 atau 19.

Nah, jadi itu tidak mungkin saya tidak naik kelas atau tidak lulus sebab kalau itu terjadi maka berarti ada puluhan siswa dikelasku yang kemampuanya dibawah saya tidak naik kelas. Itu sesuatu hal yang mustahil. Makanya ketika itu saya sih santai saja pasti naik kelas dan pasti lulus.

Soal nilai urusan belakangan yang terpenting adalah lulus terlebih dahulu. Dan strategi kalkulasi dari guru ini benar - benar saya lakukan dan benar adanya. Saya tidak tahu apakah itu pengalaman dia pribadi atau dia memang ahli ilmu kalkulus, yaitu ilmu perhitngan dan saya juga baru mengenal kalkulus saat kuliah karena memang mendapatkan mata kuliah tersebut.

Saya bersyukur karena akhirnya tidak sampai drop out, kalau drop out mungkin kehidupan saya akan lain ceritanya. Tidak akan pernah jadi wartawan, tidak akan pernah ngampus, tidak akan pernah bisa menjadi penulis.

Jadi, percayalah Allah SWT itu sudah mengatur kehidupan seseorang termasuk kita,tugas kita adalah berusaha sekuat tenaga dan setelah itu berdoa dan serahkan keputusan kepada Allah SWT, karena Dia yang lebih tahu tentang diri kita melebihi diri kita sendiri.

#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.