PerspektifTV

Header Ads

Ide Menulis Datang Darimana Saja


Bedanya penulis dengan Anda yang belum menjadi penulis adalah kalau penulis melihat peristiwa atau kisah pribadinya, fikirannya dan idenya ditulis kalau Anda tidak. Itu aja kok !


Gini, menulis itu sebenarnya sama saja kita bicara hanya saja berbeda media yang dipakai. Kalau bicara kita menggunakan mulut, sedangkan menulis menggunakan jari jemari, itu saja kok! Hanya saja memang bagi orang yang tidak terbiasa menulis, meski sebenarnya sama dengan ketika kita bicara itu pekerjaaan yang tidak mudah.

Dan saya akui itu, ketika pertama kali belajar menulis menjadi jurnalis disalah satu media mainstream  yaitu Radar Banten (Jawa Pos Group). Dulu, awal - awal saya mengalami kesulitan, apalagi untuk urusan berita karena salah sedikit bisa panjang urusannya.

Jangankan satu halaman atau ribuan karakter, satu paragrap pun terasa sulit sampai saya harus beberapa kali mengulang dan mengulang. Bayangkan saja, dikejar deadline disaat saya masih belajar menulis. Jangan tanya perasaanya bagaimana? Yang pasti keringatan, dag dig dug, takut, khawatir, kesel, apalagi ketika redaktur sudah teriak - teriak karena sudah deadline.

Tapi setelah sekian lama, ternyata menulis itu cukup mudah. Ketika hadir dalam sebuah acara atau berbicara dengan orang lain maka seketika itu juga sudah ada headline atau ide besar bahan tulisan, contohnya seperti tulisan ini.

Tulisan ini sebenarnya hasil diskusi, tepatnya obrolan dengan teman saya namanya Erna Yuliawati. Dia memiliki keinginan besar untuk menulis buku sejak lama, tapi sampai sekarang mimpi itu belum juga terwujud.

Saya tahu benar dia pasti punya banyak cerita, kisah dan serpihan sejarah hidup yang boleh jadi selama ini dianggap sederhana, tapi ketika dijadikan buku itu akan menjadi luar biasa dan menginspirasi orang lain.

Saya katakan pada dia, menulis saja mengalir jangan seperti kita menulis skripsi harus baku. Kalau memang sore punya lintasan fikiran tentang tema keluarga, yah ditulis saja tentang keluarga. Kalau misalkan lagi mod tentang bisnis (karena dia juga pengusaha), yah menulis saja tentang bisnis, simple kok !.

Kenapa saya meyakini kalau dia punya banyak kisah inspiratif? Pertama dia dengan suami itu tidak bisa bertemu setiap hari karena sang suami kerja di Abu Dhabi, pulang dua bulan atau tiga bulan sekali. Sementara dia harus menjaga anak - anaknya dan aktivitas sosialnya karena dia juga pendiri yayasan plus mengelola usahanya.

Saya katakan pada dia juga, ide menulis juga bisa datang dari aktivitasnya sebagai seseorang founder sebuah yayasan, apalagi dia sudah memiliki karya yaitu pengolahan minyak jelantah menjadi cairan pembersih yang dia beri nama Pel Mijan. Dari minyak jelantah yang dimanfaatkan saja sudah menginspirasi apalagi kisahnya sampai benar - benar menjadi cairan pembersih. Sebab saya pernah diceritakan dia langsung bahwa prosesnya tidak langsung jadi.

Ketika suami berada di luar negeri, kan tidak mudah, meksi secara finansial dia lebih dari cukup tetapi kan pasti ada peristiwa keseharian yang ia hadapi dimana pada peristiwa tertentu membutuhkan kehadiran suami, sedangkan suami tidak ada di rumah. Itu hanya bagian kecil kisah yang bisa dijadikan inspirasi atau ide besar untuk bahan tulisan buku.

Tentu masih banyak lagi inspirasi hidup yang dialami seseorang dan mungkin selama ini dianggap biasa saja padahal itu bagi orang lain adalah kisah luar biasa. Jadi menulis itu yang paling enak itu ya mengalir sehingga tulisannya pun ada rasanya, gurih, renyah dan enak seperti orang nyemil.

Tidak harus menulis sesuatu yang berat - berat dipenuhi dengan angka dan data, tidak harus kok ! Bahkan saya katakan pada dia bahwa psikografis pembaca sekarang justru menyukai tulisan yang ringan tapi ada value di dalam tulisan itu.

Setelah bicara panjang lebar melalui whatsapp akhirnya dia semangat lagi dan saya juga merasa senang. Saya katakan pada dia bahwa usia manusia itu ada limitnya yaitu kematian, dan ketika seseorang meninggal pasti kan ingin fikirannya tetap hidup maka jalannya adalah menulis atau fikiran kita ditulis oleh orang lain.

Hanya saja karena kita orang biasa maka jalan menulis adalah jalan terbaik untuk merealisasikan mimpi agar fikiran kita tetap hidup. Sehebat apa pun orang kalau tidak ada warisan intelektual dalam bentuk buku maka kehebatannya akan ikut tenggelam bersamaan akhir hayatnya. Kan sayang, sayang banget !

Dan diujung diskusi pun akhirnya kami siap kerjasama. Niat saya bantu dia supaya bisa mewujudkan mimpinya menulis buku. Toh, mencetak buku sekarang tidak harus berjumlah ratusan ribu eksemplar, bisa kok 100 buku, 200 buku. Doakan ya, supaya temanku ini bisa mewujudkan mimpinya menuangkan ide - idenya menulis buku.

Salam,
Karnoto


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.