Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian-11] Diklat Pecinta Alam Kok Takbir


Jargon bahwa orang kuliah berbeda dengan siswa saat di SMA sepertinya saya tafsirkan berbeda. Dulu semasa studi D3 disalah satu kampus swasta di Kota Serang, Provinsi Banten ada dosen saya mengatakan bahwa kuliah itu berbeda cara belajarnya dengan masa SMA.

Perbedaanya adalah kalau dulu semasa SMA 70 persen kita belajar di dalam sekolah dan 30 persenya di luar sekolah, nah untuk kuliah terbaik. "70 persen belajar dari luar dan 30 persen belajar dari kampus," kata salah seorang dosen ketika itu.

Dan saya pun menerapkan prosentase yang disarankan dosen. Jadi semasa kuliah saya lebih banyak belajar dari luar kampus. Belajar berorganisasi, belajar pergerakan termasuk belajar ilmu komputer.

Sampai suatu ketika saat ujian akhir semester saya dan beberapa teman tidak mengikuti ujian dan memilih untuk bergabung bersama para mahasiswa di Senayan Jakarta melakukan aksi. Waktu itu masa kepemimpinan Gusdur.

Tidak hanya itu, hampir semua organisasi internal kampus saya ikut bahkan beberapa saya dan teman - teman yang mendirikan organisasi tersebut. Beberapa diantaranya Mahasiswa Pecinta Alam (PASIR), Kegiatan Rokhani Islam (Kharisma) dan Korps Suka Rela (KSR) atau palang merahnya kampus.

Pernah ada peristwa lucu saat pendidikan latihan dasar Pecinta Alam, dimaa disela - sela diklat tepatnya saat penyematan sal sebagai tanda kelulusan peserta mereka diajak menerikan takbir. Ha ha ha ha, mungkin ini satu - satunya mahasiswa pecinta alam yang meneriakan takbir saat diklat.

Jujur sebenarnya ini gara - gara saya suka teriakan takbir karena terbiasa saat di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), organisasi eksternal kampus yang lebih banyak bergerak di sosial politik.

Nah, karena meskipun saya sudah menjadi aktivis Islam tapi tetap menjaga hubungan baik dengan yang lain termasuk mereka yang tidak berhijab.Tidak ada yang berubah dalam pribadinya saya soal pergaulan apalagi menjaga jarak.

Saya seperti biasa bergaul, becanda dan suka nongkrong bareng dalam beragam kegiatan. Mungkin dari sinilah mereka segan dengan saya dan itu ditunjukan dengan cara menghargai saya saat diklat dengan meneriakan takbir.

Dan sampai sekarang pun tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, suka becanda dan terakhir saya bekerjasama dengan Anis Aliyudin, tokoh mahasiswa pecinta alam di kampus saya. Kebetulan dia sekarang bisnis jasa camping dan ada project dan pun menyerahkan job ini ke dia.

Pelajaran untuk saya sebenarnya bahwa meskipun kita sudah ada dalam komunitas Islam tetapi menjaga hubungan baik dengan teman - teman lama itu akan menambah entry point karena mereka segan tapi tetap bisa bergaul dengan kita. 

No comments

Powered by Blogger.