Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian-10] Anggota Parlemen Jadi-Jadian



Kurang lebih belasan tahun saya berinteraksi dengan anggota parlemen lintas partai secara dekat dan saya bisa menerawang mana anggota parlemen "jadi-jadian" dan mana yang menjadikan itu adalah keseriusan.

Memang ada ya anggota parlemen jadi - jadian? Adalah! Pada umumnya mereka adalah orang - orang yang mengalami perubahan ekstrim dari profesi sebelumnya. Mereka menjadi anggota parlemen karena ketidaksengajaan boleh dibilang "tersesat" menjadi anggota parlemen.

Cara mereka mengkakulasikan politik pun jadi - jadian padahal kalkulasi politik berbeda dengan kalkulasi sosial ataupun kalkulasi bisnis. Mungkin ada persamaanya yaitu sama - sama menghitung, tapi konteks yang dihitungnya yang berbeda dan disinilah yang justru penting.

Ciri anggota parlemen jadi - jadian akan terlihat jelas ketika dia tidak lagi menjadi anggota parlemen. Mereka akan tenggelam bersamaan lepasnya kursi parlemen. Kenapa demikian? Karena memang politik yang notebene menjadi ruh parlemen sebagai salah satu instrumen demokrasi tidak menjadi kesadaran mereka.

Namun saya menemukan sebagian kecil dari mereka yang mampu adaptasi. Awalnya mereka hanya anggota parlemen jadi - jadian tapi karena mampu adaptasi dengan cepat dan cerdas akhirnya dia menjadi anggota parlemen sungguhan. Untuk kasus ini jumlahnya sangat sedikit.

Anggota parlemen jadi - jadian tidak mengerti filosofis menjadi anggota parlemen lebih mendalam dan sarat dengan kemuliaan. Melalui sikap dan mulut merekalah uang negara bisa selamatkan, melalui sikap dan mulut merekalah jutaan orang bisa sengsara, jutaan orang bisa bahagia karena anggota parlemen diberikan fungsi khusus yaitu legislator dari dua fungsi lainnya yaitu pengawasan dan budgeting.

Mereka para anggota parlemen jadi - jadian melihat peraturan atau legislasi hanya rentetan kata dan kalimat padahal disitulah nasib jutaan orang ditentukan. Mereka para anggota parlemen jadi - jadian tidak mampu meneropong jauh tentang dampak dan efek dari kata kalimat yang tertempel dalam peraturan yang dibuat.

Anggota parlemen jadi - jadian juga tidak mengerti filosofi setiap paraf dan tandatangan mereka bisa berdampak serius terhadap nasib jutaan orang. Dan menurut saya filosofi ini adalah pengetahuan mendasar bagi anggota parlemen.

Soal apakah mau memainkan peran antagonis, sangar atau kecanggihan melobi secara diam - diam  itu soal permainan dan performance personality, tapi yang terpenting adalah anggota parlemen mengerti dan mampu menerapkan filosofi dasar tersebut.

Jika tidak maka hanya akan menjadi anggota parlemen jadi - jadian dan saatnya nanti karir dan kehidupan politiknya akan tenggelam bersamaan lepasnya kursi parlemen.

#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.

No comments

Powered by Blogger.